Akanji Yakin Stones Cepat Beradaptasi di Inter, Sesali Kegagalan Swiss di Piala Dunia
Baca dalam 60 detik
- Bek Inter Manuel Akanji menilai rekan setimnya yang baru, John Stones, akan segera menyatu dengan skema permainan Nerazzurri berkat kualitas dan pengalamannya di level tertinggi.
- Akanji mengungkapkan penyesalannya atas kegagalan Swiss di perempat final Piala Dunia, meyakini timnya lebih unggul dari Argentina sebelum kartu merah Embolo mengubah jalannya pertandingan.
- Kembalinya Benjamin Pavard dari masa pinjaman menambah kedalaman skuat Inter, yang dinilai Akanji sebagai kunci untuk bersaing di Serie A dan Liga Champions musim ini.

Manuel Akanji, bek Inter Milan, meyakini bahwa rekan setim barunya, John Stones, akan cepat beradaptasi dengan gaya bermain Nerazzurri. Keyakinan ini disampaikan Akanji di tengah persiapannya menyambut musim 2026-27, sekaligus mengungkap penyesalannya atas kegagalan Timnas Swiss di Piala Dunia lalu.
Inter Milan memulai musim baru dengan laga perdana melawan Monza, tim promosi, akhir pekan depan. Akanji, yang baru kembali dari liburan setelah membela Swiss di Piala Dunia, mengaku sudah siap tempur. โSaya tidak butuh waktu lama untuk kembali ke kondisi 100 persen. Selama tiga minggu liburan, saya tetap berlatih mandiri, fokus pada lari dan gym. Sekarang saya tidak sabar menghadapi Monza; musim baru adalah awal yang baru,โ ujarnya kepada La Gazzetta dello Sport.
Kedatangan Stones dari Manchester City menjadi sorotan utama bursa transfer Inter musim panas ini. Akanji, yang pernah bermain bersama Stones di City, menilai rekannya itu akan mudah beradaptasi. โKami bertemu istri Stones di pantai Ibiza beberapa jam sebelum transfernya diumumkan. Kebetulan sekali. Dia pemain hebat, akan cepat beradaptasi. Secara fisik, pemain Premier League sudah sangat siap. Secara taktis, memang berbeda, tapi John bisa melakukan segalanya,โ kata Akanji.
Selain Stones, Inter juga kedatangan kembali Benjamin Pavard dari masa pinjamannya di Olympique Marseille. Hal ini membuat persaingan di lini belakang semakin ketat. Akanji menyambut positif situasi ini. โKami punya pertahanan tangguh, salah satu yang terbaik. Di setiap posisi ada minimal dua pemain berkualitas. Kompetisi dalam latihan akan meningkatkan performa semua orang. Ini yang kami butuhkan untuk bersaing di Serie A dan Liga Champions,โ jelasnya.
Musim panas ini Inter juga ditinggalkan beberapa pemain senior, termasuk kiper asal Swiss, Yann Sommer. Akanji mengaku akan merindukan Sommer, namun ia merasa nyaman dengan lingkungan barunya. โSaya punya banyak teman di sini. Anak-anak saya sekolah dengan anak-anak Mkhitaryan, dan hubungan saya dengan Calhanoglu serta Bisseck sangat baik. Italia saya juga semakin lancar,โ ungkapnya.
Di sisi lain, Akanji masih menyimpan penyesalan mendalam atas kegagalan Swiss di Piala Dunia. Timnya tersingkir di perempat final oleh Argentina. โKami sebenarnya lebih baik dari Argentina dan bisa saja memenangkan Piala Dunia. Tanpa kartu merah Embolo, saya yakin kami lolos. Kami bahkan berhasil membungkam stadion, tapi gol Julian mengakhiri segalanya. Saya tetap bangga dengan Swiss,โ tuturnya.
Akanji juga menegaskan keputusannya untuk tidak lagi menjadi eksekutor penalti untuk tim nasional setelah gagal di babak 16 besar melawan Kolombia. โBukan hanya karena gagal, tapi karena saya punya terlalu banyak keraguan. Saya sudah gagal dalam dua penalti terakhir di turnamen bersama Swiss,โ pungkasnya.
Bagi pengamat sepak bola Indonesia, kabar ini menarik karena menunjukkan bagaimana klub-klub Eropa semakin agresif di bursa transfer. Inter, yang musim lalu meraih Scudetto dan Coppa Italia, jelas ingin mempertahankan dominasi. Kehadiran Stones dan Pavard di lini belakang menjadi sinyal bahwa mereka serius mengejar gelar Liga Champions. Pertanyaannya, apakah lini serang mereka cukup tajam untuk bersaing dengan klub-klub raksasa lainnya? Musim depan akan menjadi ujian sesungguhnya.



