Summer Course 2026: Kolaborasi Undip-TUM Rancang Transmigrasi Hijau Barelang
Baca dalam 60 detik
- Kementerian Transmigrasi bersama Undip dan Technical University of Munich menggelar Summer Course 2026 di Batam, 1-10 Oktober, untuk merancang kawasan transmigrasi Tanjung Banon berbasis pertumbuhan hijau.
- Delegasi lintas disiplin dari Jerman dan Indonesia turun langsung ke Rempang Eco City, mengumpulkan data lapangan dan masukan warga untuk merumuskan inovasi tata ruang, penataan lahan, kelestarian pesisir, dan pemberdayaan masyarakat.
- Kolaborasi ini menjadi uji coba model perencanaan pembangunan yang menggabungkan aspek ekologis, ekonomis, dan sosial, sejalan dengan arahan Presiden Prabowo agar pembangunan tidak hanya mengejar pertumbuhan ekonomi.

Kementerian Transmigrasi menggandeng Universitas Diponegoro (Undip) dan Technical University of Munich (TUM) Jerman untuk merancang ulang kawasan transmigrasi Tanjung Banon di Kecamatan Galang, Batam, melalui program Summer Course 2026 bertajuk "Transformative Transmigration Planning Towards Green Barelang". Kegiatan yang berlangsung 1–10 Oktober 2026 ini bukan sekadar akademik, melainkan upaya konkret merumuskan strategi penataan permukiman transmigrasi yang lebih ramah lingkungan, mandiri, dan berkelanjutan.
Berbeda dari program pelatihan biasa, summer course ini menekankan pembelajaran praktis. Pada hari ketiga, delegasi yang terdiri dari berbagai disiplin ilmu—geografi, pengelolaan lahan, hingga teknik lingkungan—turun langsung ke kawasan Rempang Eco City. Mereka tidak hanya mengamati, tetapi juga menggali data dan masukan dari warga setempat. Hasilnya akan diolah menjadi rekomendasi inovasi di empat bidang utama: tata ruang dan ekonomi, penataan lahan, kelestarian lingkungan pesisir, serta pemberdayaan masyarakat.
Bagi Indonesia, keterlibatan TUM membuka akses pada metode perencanaan tata ruang yang lebih maju, terutama dalam mengintegrasikan aspek ekologis dan sosial. Kawasan transmigrasi sering kali menghadapi tantangan klasik: degradasi lingkungan, keterbatasan infrastruktur, dan rendahnya partisipasi warga. Pendekatan partisipatif yang diusung dalam program ini berpotensi menjadi model replikasi untuk kawasan transmigrasi lain di luar Batam.
"Saya pikir transmigrasi dapat menjadi peluang yang baik bagi masyarakat jika beberapa aspek seperti ekologis, ekonomis, dan juga sosial diintegrasikan dengan cara yang benar. Masyarakat dapat sangat diuntungkan dan mendapatkan manfaat finansial maupun ekologis di sini," ujar Jacob, delegasi TUM.
Delegasi TUM lainnya, Alina, mengaku mendapatkan wawasan baru dari keramahan warga lokal dan kearifan hidup masyarakat Indonesia. Ia berharap kegiatan ini mempererat kerja sama kedua negara dan membuka peluang pertukaran balik ke Jerman. "Mungkin ke depannya bisa ada pertukaran balik ke Jerman, sehingga kedua negara ini bisa saling terhubung, menciptakan sesuatu bersama, dan saling belajar satu sama lain," kata Alina.
Sambutan hangat datang dari warga Rempang Eco City. Garim, salah satu warga relokasi, merasa bangga karena mahasiswa asing datang menimba ilmu di tempat tinggalnya. "Tentunya kita sebagai warga lokal, warga Indonesia terutama kita yang warga-warga relokasi ini sangat beruntung karena adanya warga luar Indonesia yang datang menimba ilmu di sini. Tentunya kita bangga, karena walaupun kita dari tempat yang pedalaman, kita bisa memberikan ilmu kepada warga dari luar negeri," ujarnya.
Pengembangan kawasan transmigrasi yang berorientasi pada kesejahteraan masyarakat sejalan dengan arahan Presiden Prabowo Subianto. Ia menegaskan pembangunan nasional tidak cukup hanya berorientasi pada pertumbuhan ekonomi, tetapi juga harus memastikan manfaatnya benar-benar dirasakan oleh masyarakat. Summer Course 2026 menjadi salah satu upaya menerjemahkan arahan tersebut ke dalam praktik perencanaan yang melibatkan akademisi dan masyarakat.
Ke depan, hasil dari program ini diharapkan tidak berhenti sebagai dokumen akademik. Tantangannya adalah bagaimana rekomendasi tersebut diadopsi menjadi kebijakan dan anggaran yang nyata. Jika berhasil, Green Barelang bisa menjadi prototipe transmigrasi hijau yang tidak hanya mengejar pertumbuhan, tetapi juga menjaga ekologi dan memberdayakan warga. Akankah model ini diperluas ke kawasan lain, atau tetap menjadi proyek percontohan yang terbatas?



