Jalur Senaru Rinjani Kembali Dibuka, Torean Masih Ditutup
Baca dalam 60 detik
- Jalur pendakian Senaru resmi beroperasi kembali setelah tim gabungan memastikan titik api di kawasan TNGR telah padam.
- Pendaki kini bisa memesan tiket lewat E-Rinjani, sementara jalur Torean masih dalam perbaikan akibat dampak karhutla seluas 127 hektare.
- Pemulihan ekosistem dan keselamatan pendaki menjadi prioritas sebelum seluruh pintu masuk Rinjani dinyatakan normal sepenuhnya.

Jalur pendakian Gunung Rinjani melalui Senaru kembali dibuka untuk umum pada Sabtu (3/10), setelah Balai Taman Nasional Gunung Rinjani (TNGR) memastikan kawasan tersebut bebas dari kebakaran hutan dan lahan. Keputusan ini mengakhiri pembatasan akses yang sempat diberlakukan sejak kebakaran melanda Bukit Setampol dan Puncak Sangkareang di Nusa Tenggara Barat.
Kepala Subbagian Tata Usaha Balai TNGR, Astekita Ardiaristo, menyatakan bahwa pembukaan kembali dilakukan setelah tim gabungan melakukan penilaian mandiri di lapangan. "Pendakian di jalur Senaru dibuka kembali setelah assessment bersama tim gabungan dan dipastikan api telah padam," ujarnya, seperti dikutip dari DetikTravel, Minggu (4/10).
Dengan dibukanya Senaru, pendakian Rinjani kini dapat diakses melalui lima pintu masuk: Sembalun, Senaru, Timbanuh, Tetebatu, dan Aik Berik. Sistem pemesanan tiket daring melalui aplikasi E-Rinjani juga kembali normal, setelah sebelumnya sempat dibatasi sebagai bagian dari protokol keselamatan.
Meski demikian, jalur Torean belum dapat digunakan. Sejumlah titik di jalur tersebut mengalami kerusakan akibat kebakaran, sehingga memerlukan perbaikan dan pemeliharaan sebelum dinyatakan aman. "Jalur Torean masih tutup. Ada beberapa lokasi terkena dampak kebakaran, jadi akan kami perbaiki atau lakukan pemeliharaan jalur terlebih dahulu," tambah Astekita.
Kebakaran yang melanda kawasan TNGR sejak akhir September 2026 tidak hanya berdampak pada penutupan jalur, tetapi juga menimbulkan pertanyaan tentang kesiapsiagaan pengelolaan kawasan konservasi di tengah meningkatnya kunjungan wisata alam. Data BPBD NTB mencatat area terbakar mencapai 127 hektare, dengan vegetasi rumput ilalang sebagai bahan bakar utama yang mempercepat penyebaran api.
Penanganan melibatkan koordinasi lintas instansi, termasuk TNI/Polri, Manggala Agni, dan Masyarakat Peduli Api (MPA). Kolaborasi ini menunjukkan bahwa penanggulangan karhutla di kawasan taman nasional tidak bisa hanya mengandalkan petugas balai, tetapi memerlukan partisipasi aktif masyarakat sekitar.
"Kami prioritaskan keselamatan pendaki dan kelestarian ekosistem. Perbaikan jalur Torean akan dilakukan secara bertahap dengan mempertimbangkan kondisi medan," ujar Astekita.
Bagi industri pariwisata NTB, pembukaan kembali Senaru menjadi angin segar. Rinjani merupakan salah satu destinasi unggulan yang menyumbang pendapatan daerah dari sektor ekowisata. Namun, insiden karhutla ini menjadi pengingat bahwa pengelolaan risiko bencana harus menjadi bagian tak terpisahkan dari promosi wisata.
Ke depan, tantangan terbesar adalah memastikan bahwa pemulihan jalur Torean tidak hanya sekadar membuka akses, tetapi juga memperkuat sistem mitigasi kebakaran. Apakah pengelola TNGR akan menginvestasikan teknologi deteksi dini atau memperluas zona penyangga? Publik menanti langkah konkret yang menjamin keberlanjutan Rinjani sebagai warisan alam sekaligus magnet wisata.



