Seal Literasi Iklim di Colorado: 1.200 Pelajar Lulus dengan Kompetensi Hijau, Modelnya Menyebar ke Negara Bagian Lain
Baca dalam 60 detik
- Sebanyak 1.200 lebih pelajar SMA di Colorado telah meraih seal literasi iklim, sertifikasi yang menuntut dua mata pelajaran lanjutan dan proyek nyata di komunitas.
- Inisiatif ini menyebar ke Maine dan California, sementara koalisi pemuda mendorong kebijakan serupa di Hawaii dan Minnesota.
- Tantangan utama bukan hanya anggaran sekolah yang tipis, tetapi juga tekanan politik federal yang membatasi pendanaan sains iklim.

Lebih dari 1.200 pelajar sekolah menengah di Colorado telah menyelesaikan program seal of climate literacy, sebuah sertifikasi yang menggabungkan pembelajaran iklim dengan pengabdian masyarakat. Inisiatif yang dimulai pada 2024 ini kini menular ke negara bagian lain, termasuk Maine dan California, di tengah tekanan politik federal terhadap isu perubahan iklim.
Seal tersebut bukan sekadar penghargaan simbolis. Untuk memperolehnya, siswa harus menuntaskan minimal dua mata pelajaran lanjutan yang membahas sistem iklim Bumi, serta satu proyek yang menyentuh persoalan iklim di lingkungan sekitar. Satu mata pelajaran wajib dari rumpun sains, sedangkan satunya bisa dari disiplin apa pun, termasuk humaniora atau seni. Sebanyak 26 dari 179 distrik sekolah di Colorado telah mengadopsi program ini, menurut data Lyra Colorado, organisasi nirlaba yang mengadvokasi kebijakan tersebut.
Pendekatan berbasis praktik menjadi pembeda utama. Anthony Muñoz, siswa sebuah sekolah charter di dekat Bandara Internasional Denver, membangun "kebun ozon" untuk proyek akhirnya. Ia menanam tanaman asli yang mampu mendeteksi polusi ozon permukaan, bekerja sama dengan peneliti dari National Center for Atmospheric Research (NCAR) di Boulder. "Satu kebun adalah sumber data yang sangat baik," ujarnya. "Colorado sangat indah, dan saya tidak ingin melihatnya layu."
Di Maine, pendekatan berbeda ditempuh. Otoritas pendidikan negara bagian langsung mengadopsi seal tanpa melalui perdebatan legislatif. Teddy Lyman, spesialis pendidikan iklim K-12 di Maine, menyebut respons siswa di luar dugaan. Dari pilot di sembilan SMA, ia memperkirakan hanya belasan pendaftar, tetapi hampir 57 siswa kelas akhir mengajukan permohonan. "Siswa ingin terlibat dalam aksi iklim, literasi lingkungan, dan karier hijau," kata Lyman. "Mereka sering sudah melakukan pekerjaannya, tetapi tidak mendapat pengakuan."
Melissa Luetje, guru sains di Freeport High School, mengaitkan program dengan kondisi lokal. Kawasan pesisir Casco Bay mengalami erosi infrastruktur dan banjir jalan akibat naiknya permukaan laut. Dalam kelas riset yang ia ampu, siswa memantau kerusakan hutan akibat serangga, mengembangkan metode kompos baru, dan mengeksplorasi pemanfaatan spesies kepiting invasif. "Dampak iklim pada komunitas pesisir sangat berbeda dari daerah pedalaman atau kota," ujarnya. "Setiap komunitas harus menentukan apa yang mereka nilai dan bagaimana menerapkannya."
Seiring perluasan program, para pendukung mulai menghubungkan seal dengan jalur tenaga kerja hijau. Lyra Colorado menjalin kerja sama dengan institusi seperti Colorado Mountain College untuk menyelaraskan sertifikasi dengan keterampilan teknis, mulai dari pemasangan pompa panas, pemeliharaan jaringan surya, hingga pertanian berkelanjutan. Harapannya, perguruan tinggi memberikan kredit atau minor parsial bagi pemegang seal.
Namun, hambatan struktural tetap membayangi. Legislatif Colorado hanya mengalokasikan kurang dari US$20.000 untuk peluncuran program. Banyak siswa membiayai proyek sendiri atau mencari hibah. Muñoz, misalnya, ikut menulis proposal hibah senilai US$1 juta ke pemerintah kota untuk membiayai kebun di sekolahnya. Lyra pun membuat program hibah internal untuk menutup biaya waktu guru, proyek siswa, bahkan tali toga kelulusan.
Tekanan politik federal menambah kerumitan. Pemerintahan Donald Trump secara terbuka menyebut krisis iklim sebagai "hoax", dan Departemen Keuangan serta anggota Kongres dari Partai Republik menyasar status bebas pajak organisasi nirlaba yang mendukung isu iklim. Mary Seawell, CEO Lyra Colorado, menyebut hal ini menciptakan efek dingin yang nyata di kalangan calon donor. NCAR, lembaga riset yang membantu proyek Muñoz, juga menghadapi upaya pemangkasan anggaran dan pembubaran. Muñoz menyebut rencana pemotongan itu "menghancurkan".
"Apakah Anda akan berpikir melampaui diri sendiri dan membantu sesama serta lingkungan, atau duduk diam menunggu orang lain mengubah dunia untuk Anda?" — Anthony Muñoz, alumni penerima seal literasi iklim Colorado.
Meski demikian, gerakan ini terus bergulir. Rylan Neumann, lulusan distrik Boulder Valley yang kini menempuh studi ekonomi lingkungan di UC Berkeley, langsung bergabung dengan klub ekologi dan melobi legislator California di Sacramento untuk mendukung RUU seal iklim. "Melibatkan lebih banyak siswa dalam aksi iklim dan bagaimana mereka akan terdampak di masa depan adalah hal yang esensial," katanya. "Kami yang tumbuh besar di dunia ini."
Di Hawaii, seorang anggota siswa dewan pendidikan negara bagian memperjuangkan seal untuk SMA di kepulauan tersebut. Dewan Pemuda Minnesota merekomendasikan kebijakan serupa dalam sesi legislatif tahun ini. Sementara itu, Laura Schifter, senior fellow di Aspen Institute's This Is Planet Ed, menilai seal ini sebagai "kebijakan yang sangat menjanjikan" karena memberi siswa kesempatan mempelajari krisis iklim yang jarang dibahas mendalam di ruang kelas K-12.
Bagi Indonesia, model ini menawarkan pelajaran berharga. Dengan populasi muda yang besar dan kerentanan tinggi terhadap kenaikan permukaan laut serta cuaca ekstrem, integrasi literasi iklim ke dalam kurikulum SMA dan SMK bisa menjadi jalur strategis menyiapkan tenaga kerja hijau. Tantangannya mirip: anggaran terbatas, kapasitas guru, dan tarik-menarik politik. Namun, seperti ditunjukkan pengalaman Colorado, permintaan dari siswa sendiri bisa menjadi motor penggerak yang sulit diabaikan.
Pertanyaannya kini, akankah negara bagian lain menyusul, atau justru tekanan politik federal yang membalik arah? Yang jelas, generasi muda yang tumbuh dengan seal di ijazah mereka tidak menunggu jawaban itu datang sendiri.



