Van Dijk Akui Lini Belakang Baru Liverpool Butuh Waktu untuk Padu
Baca dalam 60 detik
- Kapten Liverpool Virgil van Dijk menegaskan bahwa duet pertahanan anyar yang dihuni Ronald Araujo dan Jeremy Jacquet memerlukan momen adaptasi sebelum tampil solid.
- Kehilangan Ibrahima Konate dan Andy Robertson, plus cedera Joe Gomez, memaksa The Reds merombak total sektor belakang pada bursa transfer musim panas ini.
- Pertandingan pembuka Premier League melawan Newcastle United pada 23 Agustus akan menjadi ujian nyata bagi kohesi lini pertahanan anyar Liverpool.

Liverpool memasuki musim 2025/2026 dengan lini belakang yang nyaris seluruhnya baru, dan sang kapten, Virgil van Dijk, secara terbuka mengakui bahwa proses penyatuan tim membutuhkan waktu. Meski menyambut positif kedatangan Ronald Araujo dan Jeremy Jacquet, van Dijk menegaskan bahwa chemistry di lapangan tidak bisa dibangun dalam semalam, terutama ketika dua bek senior harus hengkang dan satu lainnya masih berkutat dengan cedera.
Kepergian Ibrahima Konate dan Andy Robertson di bursa transfer musim panas ini, ditambah cedera otot yang dialami Joe Gomez pada laga pramusim perdana, memaksa pelatih Arne Slot untuk merombak total komposisi pertahanan. Araujo, yang dipinjam dari Barcelona selama satu musim, dan Jacquet, pemain asal Prancis yang resmi bergabung pada Februari lalu, kini menjadi tumpuan baru di lini belakang The Reds.
Keduanya sempat diturunkan bersama dalam laga uji coba melawan Como di Anfield akhir pekan lalu, yang berakhir dengan kemenangan 2-0. Jacquet bahkan berhasil mencetak gol, sebuah sinyal positif bagi adaptasinya. Namun, van Dijk mengingatkan bahwa performa di laga persahabatan tidak bisa dijadikan patokan utama. "Dengan bermain dalam pertandingan. Saya tidak akan mengatakan itu satu-satunya cara, tetapi pertandingan sangat berbeda dengan latihan," ujarnya kepada wartawan, seperti dikutip dari laman resmi klub.
Van Dijk juga menyoroti aspek komunikasi sebagai tantangan tersendiri. "Bahasa Inggris Jeremy, menurut saya, sedikit lebih baik daripada Ronald, tetapi pada akhirnya kami semua pemain yang cukup bagus dan bisa membaca situasi untuk bertahan," jelasnya. Ia menambahkan bahwa membangun koneksi antar pemain bertahan adalah proses yang wajar, meski ia berharap proses tersebut bisa berjalan secepat mungkin.
Bagi pengamat sepak bola Indonesia, situasi ini menarik untuk dicermati, terutama dengan semakin banyaknya pemain Asia Tenggara yang merambah liga-liga Eropa. Meski tidak ada pemain Indonesia yang terlibat langsung, dinamika adaptasi pemain asing di klub besar seperti Liverpool sering kali menjadi pelajaran berharga bagi pengembangan sepak bola nasional. Proses penyesuaian yang diakui Van Dijk ini juga mengingatkan bahwa membangun tim yang solid tidak bisa instan, sebuah prinsip yang relevan bagi klub-klub Indonesia yang kerap berganti skuad setiap musim.
Menjelang laga pembuka Premier League melawan Newcastle United pada 23 Agustus, pertanyaan besar pun mengemuka: apakah lini belakang anyar Liverpool mampu tampil kompak di bawah tekanan kompetisi sesungguhnya? Van Dijk sendiri optimistis, tetapi ia juga realistis. "Semoga kami bisa mewujudkannya secepat mungkin," tutupnya. Jika Araujo dan Jacquet mampu beradaptasi cepat, bukan tidak mungkin Liverpool langsung tancap gas di awal musim. Namun, jika tidak, para pendukung The Reds harus bersabar menunggu lini pertahanan mereka menemukan ritme terbaik.



