Putri Eugenie Umumkan Nama Anak Ketiga: Adelaide Elizabeth Annina, Penghormatan untuk Ratu Elizabeth II
Baca dalam 60 detik
- Putri Eugenie dan Jack Brooksbank menyambut anak ketiga, Adelaide Elizabeth Annina, yang lahir di Lisbon pada 3 Agustus 2026.
- Nama Adelaide mengandung unsur sejarah kerajaan Inggris dan Portugis, termasuk penghormatan untuk Ratu Elizabeth II.
- Kelahiran ini menempatkan Adelaide di urutan ke-15 garis suksesi takhta Inggris, sekaligus menjadi cicit ke-15 Ratu Elizabeth II.

Dua pekan setelah melahirkan di Lisbon, Portugal, Putri Eugenie akhirnya mengumumkan nama putri pertamanya: Adelaide Elizabeth Annina Brooksbank. Nama tersebut sarat makna, dengan 'Elizabeth' sebagai penghormatan langsung untuk mendiang nenek buyutnya, Ratu Elizabeth II, yang wafat pada 2022. Pengumuman ini disampaikan melalui unggahan Instagram yang juga menampilkan momen hangat sang bayi bersama kedua kakaknya.
Adelaide lahir pada 3 Agustus 2026, dengan berat 6 pon 9 ons, dan menjadi anak ketiga pasangan Eugenie dan Jack Brooksbank setelah August (5 tahun) dan Ernest (3 tahun). Kehadirannya langsung menggeser posisi Pangeran Edward, Duke of Edinburgh, dalam garis suksesi takhta Inggris—Adelaide kini menempati urutan ke-15, tepat setelah kedua kakaknya. Bagi keluarga kerajaan, kelahiran ini juga menandai cicit ke-15 dari Ratu Elizabeth II.
Pemilihan nama Adelaide bukan tanpa alasan. Selain merujuk pada Ratu Adelaide, istri Raja William IV pada abad ke-19, nama ini juga mencerminkan ikatan keluarga dengan Portugal, tempat Eugenie dan Jack menghabiskan sebagian waktu. Dalam unggahannya, Eugenie menulis bahwa nama tersebut merupakan gabungan dari sejarah Inggris dan Portugis, dua tempat yang mereka cintai dan sebut rumah. Sentimen serupa pernah ia tunjukkan saat pernikahannya pada 2018, ketika ia mengenakan bros berbentuk gandum yang awalnya dipesan untuk Ratu Adelaide.
Kelahiran Adelaide terjadi di tengah dinamika keluarga yang tidak sederhana. Sang ayah, Pangeran Andrew, telah dicabut gelar kebangsawanannya pada 2025 dan kini hanya disebut Andrew Mountbatten-Windsor. Investigasi National Audit Office pada Juni lalu juga menyoroti pengaturan propertinya, termasuk subleasing tiga cottage di Royal Lodge. Meski demikian, Eugenie terlihat menjaga profil publiknya secara independen—ia aktif sebagai direktur galeri seni kontemporer Hauser Wirth dan mendirikan The Anti-Slavery Collective bersama Julia de Boinville.
Menariknya, kelahiran Adelaide berdekatan dengan ulang tahun Meghan Markle yang ke-45 pada 4 Agustus. Meghan, yang juga sempat melahirkan di luar Inggris (California, 2021), tengah sibuk mempromosikan dokumenter Cookie Queens yang ia produksi eksekutif. Sementara itu, Istana Buckingham telah mengonfirmasi bahwa Raja Charles III, Ratu Camilla, dan anggota keluarga lainnya telah diberitahu tentang kelahiran ini.
Bagi pembaca di Indonesia, kabar ini mungkin terasa jauh, namun menarik untuk dicermati bagaimana tradisi kerajaan Inggris tetap mempertahankan simbolisme nama sebagai bentuk penghormatan lintas generasi. Di tengah gempuran modernitas, praktik semacam ini menjadi pengingat bahwa identitas dan sejarah tetap dijaga, bahkan oleh anggota kerajaan yang relatif muda seperti Eugenie.
Ke depan, publik tentu akan menanti bagaimana Adelaide tumbuh di antara dua budaya—Inggris dan Portugal—serta bagaimana ia kelak menjalani perannya dalam keluarga kerajaan yang sedang beradaptasi dengan berbagai tantangan. Satu pertanyaan mengemuka: akankah nama-nama kerajaan berikutnya tetap mempertahankan tradisi serupa, atau justru mulai meninggalkan pakem lama?



