Gillian Anderson Sebut Sony Membatalkan Distribusi Filmnya sebagai 'Pengkhianatan'
Baca dalam 60 detik
- Sony mundur dari distribusi AS untuk film 'The Salt Path' setelah muncul tuduhan pemalsuan kisah nyata.
- Gillian Anderson mengaku kecewa berat dan mempertanyakan proses verifikasi kebenaran cerita sebelum produksi.
- Film tetap tayang di AS melalui distributor independen, sementara Anderson sibuk dengan proyek lain.

Gillian Anderson, bintang serial legendaris The X-Files, melontarkan kritik tajam terhadap keputusan Sony Pictures yang membatalkan rencana distribusi film terbarunya di Amerika Serikat. Baginya, langkah tersebut bukan sekadar kekecewaan profesional, melainkan bentuk pengkhianatan terhadap kerja keras para kru dan pemain yang telah mendedikasikan diri pada proyek tersebut.
Film yang dimaksud adalah The Salt Path, adaptasi dari memoar laris karya Raynor Winn yang disutradarai Marianne Elliott. Anderson berperan sebagai Raynor, sementara Jason Isaacs memerankan suaminya, Moth. Kisahnya mengikuti perjalanan pasangan tersebut menyusuri jalur pantai sepanjang 630 mil di Inggris setelah kehilangan rumah dan Moth didiagnosis menderita degenerasi kortikobasal, sebuah penyakit neurodegeneratif langka.
Kontroversi bermula ketika surat kabar The Observer pada musim panas lalu menerbitkan investigasi yang mempertanyakan keakuratan sejumlah elemen penting dalam kisah yang diangkat. Tuduhan tersebut mencakup pemutarbalikan fakta seputar kehilangan rumah keluarga Winn serta keraguan atas diagnosis penyakit Moth. Publikasi investigasi itu muncul tepat saat Sony bersiap menandatangani kontrak distribusi untuk pasar Amerika Utara, sehingga studio raksasa itu langsung menarik diri.
Dalam wawancara dengan The Times, Anderson mengungkapkan perasaannya secara blak-blakan. "Sangat mengecewakan, sebuah kekecewaan besar," ujarnya. Ia menambahkan, "Kami sangat terkejut dengan kesuksesan film iniโ'Apa, benar-benar film tentang dua orang tua yang berjalan-jalan?'โdan kemudian cerita itu muncul tepat saat kami akan menandatangani kontrak. Rasanya seperti pengkhianatan karena kami sudah menghabiskan waktu bersama keluarga Winn."
Anderson juga menyayangkan minimnya proses verifikasi atas klaim-klaim dalam buku sebelum diangkat ke layar lebar. "Saya penasaran dengan uji tuntasnyaโbagaimana bisa begini? Seberapa kuat bukti yang ada? Mereka bilang tidak bisa membicarakan kasus hukum sebelumnya karena masih berlangsung," tuturnya. Ia pun mengaku belum mendengar kabar dari keluarga Winn sejak kontroversi merebak.
Meski ditinggalkan Sony, The Salt Path akhirnya mendapatkan distributor independen, Rialto Distribution, yang akan merilisnya di bioskop AS dan Kanada pada 28 Agustus mendatang. CEO Rialto, Kelly Rogers, memuji film tersebut sebagai karya yang "berbicara tentang cinta, ketahanan, dan gagasan bahwa tidak pernah ada kata terlambat untuk memulai lagi."
Kontroversi ini datang di tengah padatnya aktivitas Anderson. Ia baru saja tampil di Festival Film Cannes untuk film horor queer Teenage Sex and Death at Camp Miasma, dan bersiap kembali ke panggung West End dalam produksi Who's Afraid of Virginia Woolf? Selain itu, ia akan merilis buku terbarunya, More, pada 10 September.
Bagi penikmat film di Indonesia, kasus ini menjadi pengingat bahwa di balik layar industri hiburan global, ada dinamika kompleks antara kreativitas, integritas, dan kepentingan bisnis. Ketika sebuah karya diangkat dari kisah nyata, publik berhak mendapatkan kejelasan tentang kebenaran yang disajikan. Pertanyaannya, akankah industri perfilman belajar dari kasus ini untuk lebih ketat dalam verifikasi fakta, atau justru semakin berhati-hati dalam mengangkat kisah-kisah inspiratif yang belum tentu sepenuhnya akurat?



