Konflik Internal Chelsea Mencuat: Boehly dan Walter Siap Lepas Saham ke Clearlake
Baca dalam 60 detik
- Ketegangan di tubuh pemilik Chelsea mencapai titik kulminasi dengan rencana Boehly dan Walter menjual saham gabungan 25,6% ke Clearlake Capital, yang menguasai 61,5% saham mayoritas.
- Nilai jual klub ditaksir ยฃ5 miliar, sehingga masing-masing pemilik minoritas berpotensi mengantongi sekitar ยฃ640 juta, sementara posisi miliarder Swiss Hansjorg Wyss masih menggantung.
- Langkah ini mempercepat pergeseran kekuasaan ke Behdad Eghbali, yang sejak 2023 dominan dalam keputusan transfer, dan bisa mempengaruhi rencana stadion baru serta arah kebijakan klub ke depan.

Langkah mengejutkan diambil oleh dua pemegang saham minoritas Chelsea, Todd Boehly dan Mark Walter, yang dikabarkan telah membuka opsi untuk menjual kepemilikan mereka kepada Clearlake Capital, pemegang saham mayoritas klub London Barat itu. Langkah ini muncul di tengah ketegangan internal yang sudah terasa sejak 2024, ketika kedua kubu saling berusaha mengambil alih kendali klub.
Clearlake Capital, yang dipimpin oleh Behdad Eghbali dan Jose E. Feliciano, memegang 61,5% saham Chelsea. Sementara Boehly dan Walter masing-masing memiliki 12,8% saham, dan bersama-sama mereka menilai klub senilai ยฃ5 miliar. Jika kesepakatan terwujud, masing-masing dari mereka berpotensi menerima sekitar ยฃ640 juta. Namun, posisi miliarder Swiss Hansjorg Wyss, yang juga memiliki 12,8% saham dan selama ini sejalan dengan Boehly, masih belum jelas.
Kabar ini mencuat setelah Walter, yang juga menjabat CEO Guggenheim Partners, baru saja menjual Los Angeles Lakers dengan rekor $12,5 miliar pekan lalu. Penjualan tersebut menandai transaksi terbesar dalam sejarah NBA, hanya setahun setelah ia membeli mayoritas saham tim basket tersebut. Di sisi lain, Walter juga tengah menghadapi penyelidikan dari jaksa federal AS dan SEC terkait perusahaan-perusahaan dalam imperium bisnisnya.
Bagi pengamat sepak bola, langkah ini bukan sekadar perubahan kepemilikan, melainkan cermin dari pergeseran kekuasaan yang signifikan di Chelsea. Sejak 2023, Eghbali telah menjadi figur paling berpengaruh di klub, terlibat langsung dalam negosiasi transfer, sementara sejumlah eksekutif senior telah hengkang dalam dua tahun pertama kepemilikan baru. Boehly, yang awalnya menjadi wajah publik pengambilalihan klub dari Roman Abramovich pada 2022, kini semakin tersingkir. Ia bahkan dijadwalkan digantikan sebagai ketua pada akhir musim oleh perwakilan yang ditunjuk Clearlake, sesuai kesepakatan awal.
Ketegangan antara Boehly dan Clearlake juga dipicu oleh perbedaan pandangan mengenai pembangunan stadion. Kedua pihak sepakat untuk meninggalkan Stamford Bridge, tetapi berbeda pendapat soal desain dan skala proyek. Dalam wawancara dengan Bloomberg tahun lalu, Boehly mengisyaratkan bahwa keputusan ini bisa menjadi titik penentu masa depan keterlibatannya. "Kami harus berpikir jangka panjang tentang apa yang ingin kami capai. Kami punya peluang besar untuk pengembangan stadion yang harus kami matangkan. Di situlah kami akan sejalan atau akhirnya memutuskan untuk berpisah," ujarnya.
Meski demikian, sejumlah sumber di internal klub mencoba meredam isu keretakan dengan menunjukkan kebersamaan Boehly dan Eghbali di laga-laga penting, seperti final Piala FA melawan Manchester City. Namun, langkah eksplorasi penjualan saham ini justru memperkuat spekulasi bahwa perpecahan itu nyata. Chelsea sendiri menolak berkomentar, begitu pula perwakilan Boehly, Walter, dan Clearlake.
Bagi pembaca di Indonesia, dinamika ini menarik karena Chelsea memiliki basis penggemar yang besar di Tanah Air. Perubahan kepemilikan bisa berdampak pada kebijakan transfer, strategi jangka panjang, dan bahkan harga merchandise. Jika Clearlake mengambil alih sepenuhnya, arah klub bisa lebih fokus pada pengembangan pemain muda dan efisiensi finansial, mengingat gaya manajemen Eghbali yang cenderung pragmatis.
Pertanyaan besarnya kini: akankah kesepakatan ini benar-benar terwujud, atau hanya manuver untuk menaikkan posisi tawar dalam negosiasi? Dengan prestasi Chelsea yang finis ke-10 di Premier League musim lalu dan kedatangan manajer baru Xabi Alonso, stabilitas di level manajemen menjadi krusial. Jika Clearlake sukses mengambil alih, apakah mereka akan mempertahankan Alonso dan memberikan dukungan penuh di bursa transfer? Atau justru akan ada perubahan besar lainnya? Kita tunggu perkembangan selanjutnya.



