WhatsApp Rilis Fitur Pengawasan Remaja: Orang Tua Bisa Pantau, Tapi Tak Bisa Baca Chat
Baca dalam 60 detik
- Meta memperkenalkan kontrol orang tua di WhatsApp yang memungkinkan pemantauan aktivitas remaja tanpa mengakses isi pesan pribadi.
- Fitur ini menyasar pengaturan privasi, keanggotaan grup, dan penggunaan Meta AI, dengan PIN khusus sebagai kunci perubahan.
- Langkah ini berpotensi mengubah lanskap pengawasan digital di Indonesia, meski efektivitasnya bergantung pada literasi teknologi keluarga.

WhatsApp secara resmi meluncurkan perangkat pengawasan untuk orang tua terhadap akun remaja berusia 13 tahun ke atas. Diumumkan oleh perusahaan induk Meta, fitur ini memungkinkan orang tua menautkan akun mereka dengan akun anak untuk memantau sejumlah pengaturan dan aktivitas, namun dengan batasan tegas: pesan pribadi dan panggilan tetap tidak dapat diakses.
Kebijakan ini muncul di tengah meningkatnya kekhawatiran global tentang keamanan digital anak, terutama setelah berbagai laporan tentang penyalahgunaan platform pesan instan. Meta menegaskan bahwa privasi remaja tetap menjadi prioritas, sehingga orang tua hanya bisa mengawasi aspek non-konten seperti privasi profil, keanggotaan grup, dan interaksi dengan kecerdasan buatan Meta AI.
Menurut pengumuman resmi, pengaturan ini dirancang untuk disiapkan bersama-sama antara orang tua dan remaja. Orang tua kemudian dapat menggunakan akun WhatsApp mereka sendiri untuk memantau aktivitas tertentu. Namun, ada garis merah yang jelas: pesan pribadi, panggilan, dan obrolan grup tidak dapat dibaca atau didengarkan oleh orang tua, bahkan ketika pengawasan aktif.
Dalam praktiknya, orang tua memiliki beberapa kendali spesifik. Pertama, mereka dapat mengatur siapa yang bisa melihat foto profil anak atau menambahkan anak ke grup. Kedua, mereka akan menerima notifikasi ketika anak bergabung atau keluar dari grup, atau ketika sebuah grup bertambah besar. Ketiga, orang tua dapat menentukan bagaimana Meta AI digunakan, dengan pilihan "13+" atau "Konten Terbatas" yang lebih restriktif. Keempat, mereka dapat mengatur penggunaan saluran (channels) dan pembaruan status yang terlihat oleh anak dan orang lain.
Meta menegaskan bahwa kontrol orang tua ini akan terus diperluas dan dikembangkan di masa depan, seiring dengan masukan dari pengguna dan perkembangan teknologi.
Proses penyiapan fitur ini dimulai dari pengaturan akun di ponsel remaja. Orang tua perlu membuka Settings, memilih Parental Controls, lalu memasukkan tanggal lahir anak dan mengonfirmasi usia. Setelah itu, akan muncul kode QR yang harus dipindai oleh orang tua dengan ponsel mereka sendiri. Langkah selanjutnya adalah mengikuti tautan yang muncul, mengonfirmasi bahwa pengguna adalah orang dewasa, membuat PIN orang tua, dan mengikuti instruksi selanjutnya. Informasi rinci tersedia di halaman dukungan WhatsApp.
Meski demikian, fitur ini mungkin belum langsung tersedia di semua perangkat. Pengguna disarankan untuk memeriksa pembaruan di toko aplikasi masing-masing. Ketersediaan yang bertahap ini bisa menjadi kendala awal, terutama di pasar seperti Indonesia yang memiliki beragam versi sistem operasi dan perangkat.
Bagi Indonesia, langkah Meta ini berpotensi menjadi pedang bermata dua. Di satu sisi, fitur ini memberikan alat konkret bagi orang tua untuk terlibat dalam kehidupan digital anak, sejalan dengan meningkatnya kesadaran akan pentingnya pengawasan online. Di sisi lain, efektivitasnya sangat bergantung pada literasi digital orang tua dan keterbukaan komunikasi dalam keluarga. Tanpa pemahaman yang memadai, fitur ini bisa disalahartikan sebagai bentuk kontrol penuh, yang justru merusak kepercayaan.
Selain itu, kebijakan privasi yang ketatโdi mana pesan tetap tidak bisa dibacaโmungkin mengecewakan sebagian orang tua yang menginginkan pengawasan lebih dalam. Namun, pendekatan ini sejalan dengan tren global yang semakin menghargai hak privasi anak, sebagaimana diatur dalam berbagai regulasi perlindungan data.
Ke depan, pertanyaannya adalah seberapa jauh Meta akan memperluas fitur ini. Apakah akan ada opsi untuk memantau konten yang dibagikan di status atau saluran? Dan bagaimana reaksi remaja yang mungkin merasa diawasi? Yang jelas, langkah ini menandai babak baru dalam perdebatan antara keamanan anak dan privasi digital, yang akan terus bergulir seiring evolusi teknologi.



