FIFA dan Infantino: Gelombang Perlawanan Internal Berujung pada Kepergian Kevin Lamour
Baca dalam 60 detik
- FIFA resmi memutuskan hubungan kerja dengan COO Kevin Lamour per 17 Agustus 2026, menyusul kritik terbukanya terhadap rencana investasi eksternal.
- Langkah ini mempertegas konflik internal di tubuh FIFA, di mana suara-suara kritis mulai tersingkirkan di bawah kepemimpinan Gianni Infantino.
- Kepergian Lamour berpotensi memicu pertanyaan tentang transparansi tata kelola FIFA dan arah kebijakan organisasi sepak bola dunia ke depan.

FIFA secara resmi mengumumkan berakhirnya kerja sama dengan Chief Operating Officer (COO) Kevin Lamour pada Senin (17/8), hanya beberapa pekan setelah Lamour secara terbuka mengkritik rencana Presiden Gianni Infantino untuk menjual sebagian bisnis turnamen, termasuk Piala Dunia. Keputusan ini menandai babak baru dalam gejolak internal yang melanda badan sepak bola dunia tersebut.
Juru bicara FIFA membenarkan bahwa hubungan kerja dengan Lamour resmi berakhir pada 17 Agustus 2026. Dalam pernyataan singkatnya, FIFA mengucapkan terima kasih atas dua tahun pengabdian Lamour dan mendoakan yang terbaik untuk masa depannya, namun menolak memberikan komentar lebih lanjut. Sikap bungkam ini justru memicu spekulasi di kalangan pengamat tentang alasan di balik kepergian mendadak tersebut.
Kritik Lamour sebelumnya menjadi sorotan publik. Pada bulan lalu, ia menuduh manajemen FIFA telah menyesatkan staf terkait rencana pembentukan anak perusahaan senilai 20 miliar dolar AS untuk mengelola turnamen, termasuk Piala Dunia, serta menjual hingga 20 persen saham kepada investor eksternal. Lamour menyebut proyek tersebut sebagai "proyek satu orang" dan menegaskan bahwa misi FIFA seharusnya melayani sepak bola, bukan kepentingan pribadi seseorang yang "percaya dirinya adalah FIFA". Pernyataan tegas ini muncul hanya beberapa jam setelah Carlos Cordeiro, penasihat senior Infantino, mengundurkan diri sebagai bentuk protes dan menyebut rencana itu sebagai "kesepakatan buruk bagi sepak bola".
Gelombang perlawanan internal ini akhirnya memaksa FIFA untuk membatalkan rencana kontroversial tersebut. Namun, kepergian Lamour kini menjadi pertanyaan besar: apakah ini merupakan bentuk hukuman atas keberaniannya bersuara, atau bagian dari restrukturisasi internal yang lebih luas? Sejumlah analis menilai bahwa langkah FIFA ini mengirimkan sinyal yang jelas bahwa perbedaan pendapat tidak akan ditoleransi di bawah kepemimpinan Infantino.
Bagi Indonesia, dinamika internal FIFA ini patut dicermati. Sebagai salah satu negara dengan basis penggemar sepak bola terbesar di dunia, Indonesia memiliki kepentingan langsung terhadap tata kelola FIFA yang transparan dan akuntabel. Kejelasan arah kebijakan FIFA akan berdampak pada alokasi dana pengembangan sepak bola, termasuk untuk PSSI dan program-program pembinaan usia muda. Jika FIFA dianggap semakin otoriter, hal ini dapat mempengaruhi kepercayaan publik dan sponsor terhadap organisasi tersebut.
Para pengamat sepak bola internasional menilai bahwa kepergian Lamour merupakan pukulan telak bagi upaya reformasi internal FIFA. Mereka memperkirakan bahwa kekhawatiran akan kurangnya checks and balances di tubuh FIFA akan semakin menguat. Pertanyaan yang kini mengemuka: apakah akan ada lagi pejabat tinggi yang berani bersuara, atau justru semakin banyak yang memilih hengkang? Langkah FIFA selanjutnya akan menjadi ujian kredibilitas organisasi di mata dunia.
Dengan mundurnya Lamour, FIFA kehilangan salah satu eksekutif kunci yang dianggap memiliki integritas. Ke depannya, publik akan mengamati apakah FIFA mampu belajar dari insiden ini dan membuka ruang dialog yang lebih sehat, atau justru semakin menutup diri dari kritik. Bagi sepak bola global, termasuk Indonesia, transparansi dan akuntabilitas FIFA bukan sekadar wacana, melainkan kebutuhan mendesak agar sepak bola tetap menjadi milik semua.



