Gagal Gabung Inter karena Aturan Jantung Italia, Khalaili Justru Berlabuh ke Crystal Palace
Baca dalam 60 detik
- Khalaili batal ke Inter karena tak lolos tes kesehatan CONI, namun hanya butuh dua menit bagi dokter Inggris untuk menyetujui kepindahannya ke Crystal Palace.
- Aturan ketat Italia soal kondisi jantung membuat pemain seperti Eriksen dan Bove harus pindah ke liga lain, sementara Inggris lebih longgar.
- Kepindahan Khalaili ke Premier League membuka diskusi tentang harmonisasi standar medis sepak bola Eropa, yang relevan bagi pemain Indonesia yang bermain di luar negeri.

Kegagalan Anan Khalaili bergabung dengan Inter Milan pada bursa transfer musim panas ini menjadi ironi tersendiri. Winger asal Israel itu akhirnya resmi berseragam Crystal Palace, setelah proses medis di Italia mengganjal mimpinya bermain di Serie A. Agennya, Boaz Goren, mengungkapkan bahwa di Inggris, dokter hanya butuh dua menit untuk memberikan lampu hijau atas kondisi jantung kliennya, berbeda dengan prosedur berbelit di Italia.
Khalaili, yang direkrut Palace dari Union Saint-Gilloise dengan kontrak jangka panjang, sebenarnya telah menjalani tes medis bersama Inter. Namun, hasil pemeriksaan menunjukkan adanya masalah pada tes stres jantung, sehingga ia gagal mendapatkan sertifikat kesehatan dari Komite Olimpiade Italia (CONI). Tanpa sertifikat ini, tidak ada atlet yang diizinkan berkompetisi secara profesional di Italia, apa pun cabang olahraganya.
Perbedaan standar medis antara Italia dan Inggris menjadi sorotan utama dalam kasus ini. Aturan Italia yang ketat memang dirancang untuk melindungi kesehatan atlet, tetapi sering kali dianggap terlalu restriktif. Kasus Christian Eriksen dan Edoardo Bove menjadi contoh nyata: keduanya dilarang bermain di Serie A dengan defibrillator internal, tetapi justru diizinkan tampil di Liga Inggris bersama Brentford, Manchester United, dan Watford.
Bagi pengamat sepak bola, kasus Khalaili menyoroti perlunya harmonisasi standar medis antar liga di Eropa. Jika tidak, klub-klub kaya seperti Inter akan terus kehilangan talenta karena perbedaan regulasi, sementara liga lain seperti Inggris justru diuntungkan. "Semua tim top Eropa yang bermain dengan formasi 3-5-2 menginginkan Anan. Inter selalu menjadi pilihan pertama karena formasi itu, dan Crystal Palace berada di urutan kedua," ujar Goren dalam wawancara dengan radio Israel, seperti dikutip fcinternews.it.
Khalaili sendiri, menurut Goren, sempat terpukul saat mengetahui transfernya ke Inter batal. Namun, suasana berubah cepat menjadi tawa ketika keduanya menyadari bahwa ini bukan akhir segalanya. "Empat menit kemudian dia kembali ke kamar saya dan kami mulai tertawa. Mari kita tertawakan ini, kataku. Mari kita lanjutkan. Saya pernah mengalami situasi ekstrem sebelumnya," kenang Goren.
Konteks Indonesia: Kisah Khalaili relevan bagi pesepak bola Indonesia yang bermain di liga asing. Regulasi medis yang berbeda antar negara bisa menjadi batu sandungan, seperti yang dialami pemain naturalisasi atau ekspatriat yang ingin berkarier di Eropa. Federasi Sepak Bola Indonesia (PSSI) dan klub-klub lokal perlu memperhatikan standar medis internasional agar pemain Indonesia tidak mengalami nasib serupa.
Ke depan, pertanyaan yang muncul adalah apakah UEFA atau FIFA akan mengambil langkah untuk menyamakan protokol medis di seluruh Eropa. Jika tidak, kita akan terus melihat talenta-talenta hebat gagal bermain di liga impian mereka hanya karena perbedaan administratif. Bagi Khalaili, kesempatan di Premier League adalah awal baru, tetapi bagi yang lain, mimpi itu mungkin harus pupus.



