Kejutan di Kolam Renang Paris: Rekor Dunia Baru Lahir, Dominasi Amerika-Australia Terancam
Baca dalam 60 detik
- Atlet muda Eropa memecahkan rekor dunia 50m punggung dan 1500m bebas, menandai pergeseran kekuatan di dunia renang.
- Kejuaraan Eropa di Paris menjadi panggung pembuktian bagi generasi baru, dengan Italia dan Inggris memborong medali.
- Prestasi ini memberi sinyal persaingan ketat menuju Olimpiade Los Angeles 2028, termasuk bagi Indonesia yang mulai serius di akuatik.

Dua tahun setelah Olimpiade Paris, kolam renang di ibu kota Prancis kembali menjadi saksi lahirnya sejarah. Kejuaraan Renang Eropa yang baru saja usai tidak hanya mempertahankan status Leon Marchand sebagai pahlawan tuan rumah, tetapi juga memunculkan nama-nama baru yang berani menantang hegemoni Amerika Serikat dan Australia. Rekor dunia yang telah bertahan belasan tahun runtuh, dan wajah persaingan renang dunia mulai berubah.
Sara Curtis, perenang Italia yang baru berusia 20 tahun, menjadi bintang dengan memecahkan rekor dunia 50 meter gaya punggung dua kali dalam semalam. Catatan waktunya, 26,63 dan 26,56 detik, mematahkan rekor sebelumnya milik Kaylee McKeown dari Australia yang bertahan sejak 2024. Ini adalah kali pertama sejak 2009 seorang perenang Eropa memegang rekor dunia nomor tersebut. Sementara itu, Johannes Liebmann dari Jerman, yang juga masih 19 tahun, memangkas hampir empat detik dari rekor 1500 meter gaya bebas milik Bobby Finke, sebuah lompatan yang jarang terjadi dalam sejarah renang jarak jauh.
Dominasi Eropa tidak berhenti di situ. Dari total 42 rekor dunia renang, 16 di antaranya kini dipegang oleh perenang Eropa, sementara sisanya tersebar di tangan Amerika Utara, Australia, dan China. Kejuaraan ini juga menjadi ajang pembuktian bagi Italia yang membawa pulang 20 medali, termasuk enam emas, hanya kalah dari Inggris yang meraih delapan emas. Curtis, yang berlatih di Universitas Virginia, tampil konsisten dengan enam medali dari enam nomor yang diikutinya, menjadikannya kandidat kuat untuk Olimpiade Los Angeles 2028, di mana nomor 50 meter gaya punggung akan dipertandingkan untuk pertama kalinya.
Di tengah kemunculan bakat-bakat baru, Marchand tetap menunjukkan kelasnya. Perenang Prancis yang meraih empat emas di Olimpiade 2024 itu memenangkan dua gelar Eropa di nomor 200 meter kupu-kupu dan 400 meter gaya bebas. Menariknya, ia berhasil mengalahkan Lukas Martens, pemegang rekor dunia asal Jerman, di nomor 400 meter yang jarang ia ikuti. Marchand harus absen di nomor gaya dada karena cedera paha, tetapi kemenangannya atas Martens menegaskan bahwa ia masih menjadi tolok ukur di nomor yang digelutinya.
Kisah inspiratif datang dari Sarah Sjostrom, perenang Swedia yang baru saja kembali setelah 20 bulan absen dan melahirkan anak pertamanya. Ia memenangkan emas ke-18 tingkat Eropa di nomor 50 meter kupu-kupu, menyamai rekor sepanjang masa. Sementara itu, Simona Quadarella dari Italia mencatatkan sejarah dengan tiga kali berturut-turut meraih emas di nomor 400, 800, dan 1500 meter gaya bebas. Di kubu Inggris, tiga perenang asal Skotlandia—Angharad Evans, Katie Shanahan, dan Keanna MacInnes—menyumbang tiga dari empat emas individu Inggris, dengan MacInnes meraih dua emas di hari terakhir.
Di sisi lain, kegagalan justru dialami Adam Ramsay-Peaty, perenang Inggris pemegang rekor dunia 50 dan 100 meter gaya dada, yang pulang tanpa medali. Namun, pelatih kepala Inggris, Steven Tigg, menyambut positif kemunculan wajah-wajah baru. "Kami datang ke sini untuk melihat siapa yang bisa tampil menonjol, dan menurut saya kami mendapatkannya, terutama di sisi putri," ujarnya. Pernyataan ini menegaskan bahwa regenerasi sedang berjalan, dan persaingan menuju Olimpiade 2028 akan semakin sengit.
Bagi Indonesia, perkembangan ini menjadi pengingat bahwa investasi di bidang renang, terutama pembinaan atlet muda, adalah kunci untuk bersaing di level Asia dan dunia. Dengan semakin banyaknya rekor yang terpecahkan, standar untuk tampil di Olimpiade pun akan semakin tinggi. Pertanyaannya, apakah Indonesia siap menjawab tantangan ini dengan program pembinaan yang serius dan berkelanjutan?



