Dua Mantan Bintang Strictly Come Dancing Buka Suara: Kejujuran Jadi Alasan Dipecat BBC
Baca dalam 60 detik
- Brendan Cole dan James Jordan mengungkap bahwa sikap blak-blakan mereka menjadi pemicu utama pemutusan kontrak oleh BBC.
- Cole mengaitkan kepergiannya dengan komentar kontroversial tentang juri Shirley Ballas, sementara Jordan menyoroti kritiknya terhadap arah kreatif acara.
- Kisah ini memicu diskusi tentang budaya kerja di industri hiburan dan pentingnya kebebasan berekspresi bagi para profesional.

Dua mantan profesional dansa Strictly Come Dancing, Brendan Cole dan James Jordan, akhirnya angkat bicara mengenai alasan di balik kepergian mereka dari acara yang membesarkan nama mereka. Dalam podcast bersama bertajuk Manopause, keduanya mengaku bahwa sikap blak-blakan dan kebiasaan mengkritik kebijakan produksi menjadi faktor utama yang membuat kontrak mereka tidak diperpanjang BBC. Pengakuan ini membuka tabir di balik layar salah satu acara dansa paling populer di Inggris, sekaligus memicu perdebatan tentang batas antara profesionalisme dan kebebasan berpendapat di industri hiburan.
Brendan Cole, yang menghabiskan 13 tahun di Strictly Come Dancing sebelum didepak pada 2017, menceritakan insiden yang menurutnya menjadi titik balik kariernya. Ia mengaku pernah melontarkan kata makian kasar kepada juri Shirley Ballas di luar siaran, yang kemudian terdengar oleh kru produksi. BBC menuntut jaminan bahwa ia tidak akan mengulangi perilaku tersebut, namun Cole menolak memberikan janji karena merasa komentarnya merupakan penilaian jujur terhadap sikap Ballas. "Saya tidak menyesali apa yang saya katakan, tapi saya menyesali cara mengatakannya," ujarnya, seraya menambahkan bahwa ia tetap menghormati Ballas sebagai juri yang hebat.
Cole juga mengungkapkan bahwa ia merasa posisinya di acara tersebut mulai terancam setelah seorang eksekutif senior yang menjadi pelindungnya memutuskan pindah ke Channel 4. "Dia bilang selama dia di sana, saya akan selalu punya tempat di acara ini. Tapi tahun sebelum saya pergi, dia memberi tahu bahwa dia akan hengkang," kenang Cole. Selain itu, ia meyakini bahwa seorang produser yang pernah ia hadapi dengan emosi pada musim pertama telah memasukkannya ke daftar hitam untuk acara-acara besar, termasuk Celebrity Traitors yang kini menjadi program populer.
Sementara itu, James Jordan, yang bertahan tujuh musim sebelum akhirnya diminta pergi pada 2013, mengaitkan kepergiannya dengan kritiknya terhadap perubahan format acara. Ia mengaku pernah menolak penampilan dansa kelompok dengan lagu YMCA dan menyebutnya sebagai penghinaan terhadap profesinya. "Mereka bertanya pendapat saya, tapi ketika saya jujur, mereka tidak suka," tuturnya. Jordan menegaskan bahwa ia selalu membela rekan-rekan profesionalnya dan menginginkan yang terbaik untuk acara tersebut, namun sikapnya yang terlalu vokal membuatnya dianggap sebagai masalah.
Kisah Cole dan Jordan menyoroti dilema yang sering dihadapi para profesional di industri hiburan: sejauh mana mereka bisa bersuara tanpa harus kehilangan pekerjaan. Di Indonesia, fenomena serupa juga terjadi di industri kreatif, di mana para pekerja sering kali harus memilih antara patuh pada arahan produksi atau mempertahankan integritas artistik. Pengakuan kedua mantan bintang ini menjadi pengingat bahwa di balik gemerlap panggung, terdapat dinamika kekuasaan yang kompleks antara kreator, produser, dan bintang acara.
Ke depannya, pengakuan ini berpotensi mempengaruhi cara BBC mengelola bintang-bintangnya dan bagaimana para profesional dansa menegosiasikan kebebasan berekspresi mereka. Apakah ini akan mendorong perubahan kebijakan di industri hiburan Inggris, atau justru membuat para bintang semakin berhati-hati dalam berbicara? Yang jelas, kisah Cole dan Jordan menjadi pelajaran berharga tentang harga sebuah kejujuran di dunia yang sering kali menuntut kepatuhan.



