Xi Puji Warisan Jiang Zemin: Sinyal Konsolidasi Jelang Kongres Partai 2027
Baca dalam 60 detik
- Presiden Xi Jinping memuji peran Jiang Zemin dalam reformasi ekonomi dan stabilitas Shanghai, menegaskan kontinuitas kepemimpinan partai.
- Pernyataan ini muncul menjelang Kongres Partai Komunis China 2027, yang dipandang sebagai upaya memperkuat loyalitas internal.
- Warisan Jiang, termasuk aksesi WTO dan Olimpiade 2008, menjadi fondasi bagi narasi kebangkitan China di bawah kepemimpinan Xi.

Presiden China Xi Jinping secara resmi memberikan penghormatan kepada mendiang pemimpin Jiang Zemin dalam sebuah upacara di Balai Agung Rakyat, Beijing, Senin (17/8). Dalam pidatonya, Xi menyoroti peran Jiang dalam mendorong kebijakan reformasi dan keterbukaan yang menjadi motor pertumbuhan ekonomi China, serta kemampuannya menjaga stabilitas Shanghai pasca-peristiwa 1989. Langkah ini tidak hanya menjadi bentuk apresiasi sejarah, tetapi juga sinyal politik yang kuat di tengah persiapan menuju Kongres Partai Komunis China (PKC) yang dijadwalkan pada 2027.
Pidato Xi yang menyanjung "keputusan tegas" dan respons Jiang terhadap "momen-momen bersejarah" ini dinilai sebagai upaya untuk membangkitkan semangat kader partai dan memperkuat loyalitas terhadap kepemimpinan pusat. Kongres partai yang digelar setiap lima tahun sekali tersebut menjadi ajang konsolidasi kekuasaan dan penentuan arah kebijakan lima tahun ke depan. Dengan menyoroti warisan Jiang, Xi tampaknya ingin menegaskan kontinuitas kepemimpinan partai dari generasi ke generasi, sekaligus mengokohkan posisinya sebagai penerus sah dari tongkat estafet kepemimpinan.
Jiang Zemin, yang wafat pada 2022 di usia 96 tahun, adalah tokoh sentral dalam sejarah modern China. Selama 13 tahun memimpin hingga 2002, ia berhasil membawa China masuk ke Organisasi Perdagangan Dunia (WTO) pada 2001 dan memenangkan tuan rumah Olimpiade 2008. Di bawah kepemimpinannya, ekonomi China tumbuh rata-rata 9 persen per tahun, sebuah angka yang mencengangkan dan menjadi fondasi bagi status China sebagai kekuatan ekonomi global saat ini. Selain itu, Jiang juga memimpin proses pengembalian Hong Kong dari Inggris pada 1997, sebuah tonggak bersejarah bagi kedaulatan China.
Lahir di Yangzhou, Provinsi Jiangsu pada 1926, Jiang Zemin dipilih langsung oleh Deng Xiaoping, arsitek reformasi ekonomi China, untuk memimpin negara. Kariernya melejit setelah peristiwa Tiananmen 1989, ketika ia menjabat sebagai pejabat tertinggi partai di Shanghai. Di kota tersebut, Jiang membangun basis kekuatan politik yang akhirnya mengantarnya ke puncak kepemimpinan nasional. Ia juga dikenal sebagai penggagas program pendidikan patriotik nasional pada 1990-an yang turut membentuk sentimen anti-Jepang di kalangan generasi muda China, sebuah warisan yang masih terasa hingga kini.
Bagi Indonesia, penguatan narasi sejarah oleh Xi ini memiliki implikasi yang patut dicermati. China adalah mitra dagang terbesar Indonesia, dan stabilitas politik di sana berdampak langsung pada rantai pasok global serta investasi. Ketika Xi menegaskan kembali komitmennya pada reformasi dan keterbukaan, hal ini dapat diartikan sebagai jaminan bahwa China akan tetap menjadi motor pertumbuhan ekonomi kawasan. Namun, penguatan sentimen nasionalisme yang diwariskan Jiang juga perlu diwaspadai, terutama dalam konteks ketegangan di Laut China Selatan yang melibatkan beberapa negara ASEAN, termasuk Indonesia.
Para analis menilai bahwa pidato Xi kali ini bukan sekadar seremoni, melainkan bagian dari strategi politik yang lebih luas. Dengan merayakan pencapaian Jiang, Xi ingin menunjukkan bahwa partai memiliki akar sejarah yang kuat dan mampu membawa China menuju kejayaan. Pertanyaannya, apakah narasi ini cukup untuk meredam potensi perbedaan pendapat di internal partai menjelang kongres 2027? Atau justru akan semakin memperkuat posisi Xi sebagai pemimpin yang tak tergantikan? Yang jelas, warisan Jiang akan terus menjadi rujukan bagi kepemimpinan China dalam menghadapi tantangan global yang semakin kompleks.



