Singapura Perpanjang Jam Minum hingga Pukul 04.00 di Boat Quay dan Clarke Quay: Strategi Baru Hidupkan Ekonomi Malam
Baca dalam 60 detik
- Otoritas Singapura meresmikan perpanjangan jam operasional penjualan alkohol hingga pukul 04.00 di kawasan Boat Quay, Clarke Quay, dan Upper Circular Road setelah uji coba setahun dinilai sukses.
- Selama periode percobaan, tercatat 92 izin perpanjangan jam minum dan 37 aplikasi usaha baru disetujui, menandakan respons positif dari pelaku bisnis.
- Kebijakan ini menjadi bagian dari upaya revitalisasi kawasan bersejarah, dengan tetap mengedepankan aspek keamanan dan ketertiban umum.

Pemerintah Singapura resmi menjadikan kebijakan perpanjangan jam penjualan minuman beralkohol hingga pukul 04.00 pagi di kawasan Boat Quay, Clarke Quay, dan Upper Circular Road sebagai langkah permanen. Keputusan ini diumumkan Menteri Negara Pembangunan Nasional dan Luar Negeri, Alvin Tan, pada Senin (17/8), setelah uji coba selama setahun dinilai membuahkan hasil yang menggembirakan.
Kebijakan yang mulai berlaku Selasa (18/8) ini merupakan bagian dari program revitalisasi kawasan nightlife yang diluncurkan tahun lalu. Selain perpanjangan jam operasional, program tersebut juga mencakup penutupan jalan di Circular Road untuk kegiatan komunitas dan penataan area pejalan kaki. Kawasan Boat Quay Historic District yang menjadi fokus mencakup waterfront, Circular Road, Lorong Telok, dan Canton Street.
Sepanjang periode uji coba, Otoritas Pembangunan Perkotaan (URA) menyetujui 37 aplikasi usaha baru di kawasan tersebut, sementara kepolisian memberikan 92 izin perpanjangan jam penjualan minuman keras. Angka ini menunjukkan antusiasme pelaku usaha terhadap kebijakan yang dinilai mampu meningkatkan daya tarik pariwisata dan menciptakan lapangan kerja baru.
Menurut Alvin Tan, pemerintah menerima respons positif dari para pengusaha dan terus berupaya memastikan kepatuhan terhadap regulasi. "Kami menerima minat yang kuat dari pelaku bisnis, dan instansi terkait bekerja sama erat dengan para pemohon untuk memastikan mereka memenuhi persyaratan," ujarnya. Ia menambahkan bahwa kebijakan ini akan mendukung vitalitas bisnis dan menciptakan lapangan kerja yang baik di sektor ini.
Meski demikian, pemerintah menegaskan bahwa keamanan dan ketertiban tetap menjadi prioritas utama. Selama uji coba, situasi hukum dan ketertiban di kawasan tersebut dilaporkan stabil. Hal ini berbeda dengan percobaan serupa pada 2018 yang hanya bertahan empat bulan karena peningkatan pelanggaran ketertiban umum. Untuk mengantisipasi hal serupa, pemerintah menggandeng Asosiasi Bisnis Nightlife Singapura dan kelompok Singapore River One untuk melakukan patroli keamanan tambahan.
Bagi Indonesia, kebijakan ini menjadi sorotan karena sejumlah kota besar seperti Jakarta dan Bali juga tengah berupaya menghidupkan ekonomi malam. Pengalaman Singapura menunjukkan bahwa keseimbangan antara kebebasan usaha dan pengawasan ketat menjadi kunci keberhasilan. Kolaborasi dengan asosiasi bisnis dan pengelola kawasan terbukti efektif menjaga keamanan tanpa menghambat pertumbuhan sektor hiburan.
Ke depan, pemerintah Singapura berencana terus mengembangkan vitalitas nightlife di kawasan Boat Quay dan sekitarnya. Namun, pertanyaan yang muncul adalah apakah model ini dapat direplikasi di negara lain, termasuk Indonesia, yang memiliki tantangan berbeda dalam hal regulasi dan penegakan hukum. Keberhasilan jangka panjang kebijakan ini akan menjadi tolok ukur bagi upaya serupa di kawasan Asia Tenggara.



