Gibran Kenakan Baju Adat Rote di HUT RI: Diplomasi Budaya atau Sekadar Gaya?
Baca dalam 60 detik
- Wapres Gibran memilih busana adat Rote dengan penutup kepala khas Ti'i Langga, sementara Presiden Prabowo dan Ibu Selvi menampilkan tradisi berbeda, menciptakan harmoni budaya di panggung nasional.
- Pengamat mode Lisa Fitria menilai pilihan busana ini bukan sekadar gaya, melainkan strategi diplomasi budaya yang memperkuat citra Indonesia yang modern namun berakar pada tradisi.
- Langkah ini berpotensi mendorong industri fesyen lokal dan memperkuat posisi tenun serta kriya Nusantara di kancah global, sejalan dengan upaya pemerintah mempromosikan kekayaan budaya.

Wakil Presiden Gibran Rakabuming Raka memanfaatkan momen upacara peringatan HUT ke-81 Republik Indonesia untuk menampilkan kekayaan budaya Nusantara melalui busana adat Rote dari Nusa Tenggara Timur. Langkah ini dinilai pengamat mode Lisa Fitria sebagai bentuk diplomasi budaya yang strategis, di tengah sorotan publik terhadap penampilan para pejabat negara dalam forum kenegaraan.
Busana yang dikenakan Gibran menonjolkan elemen paling ikonik, yakni Ti'i Langga, penutup kepala yang terbuat dari anyaman daun lontar dengan bentuk menjulang dan melebar. Dalam tradisi masyarakat Rote, Ti'i Langga bukan sekadar aksesori, melainkan simbol keperkasaan, kehormatan, dan jiwa kepemimpinan laki-laki. Selain itu, kain tenun Rote yang membalut tubuhnya merepresentasikan kemahiran kriya dan tradisi tenun yang telah diwariskan turun-temurun.
Sementara itu, Ibu Selvi Gibran Rakabuming tampil memukau dengan busana Ta'a khas perempuan Dayak Kenyah. Busana ini menampilkan kekuatan visual melalui penggunaan manik-manik yang rumit, motif geometris, dan dominasi warna merah yang melambangkan keberanian serta semangat hidup. Penutup kepala yang dihiasi ornamen bulu menambah kesan keagungan dan kehormatan, sekaligus menunjukkan ketelitian tinggi dalam teknik beadwork yang menjadi ciri khas masyarakat Dayak.
Menariknya, Presiden Prabowo Subianto memilih busana Melayu dengan songket, menciptakan harmoni tiga identitas budaya yang berbeda dalam satu panggung nasional. Menurut Lisa Fitria, hal ini menunjukkan bahwa Indonesia tidak perlu menampilkan satu bentuk pakaian adat saja, melainkan dapat merangkul keberagaman sebagai kekuatan. "Tiga identitas budaya yang berbeda hadir dalam satu panggung nasional untuk menyampaikan pesan bahwa Indonesia modern tetap berakar pada tradisi dan keberagaman Nusantara," ujarnya.
Diplomasi budaya melalui fesyen ini bukan sekadar seremoni. Di tengah upaya pemerintah mempromosikan ekonomi kreatif, pilihan busana para pemimpin dapat menjadi katalis bagi industri fesyen lokal. Tenun dan kriya Nusantara memiliki potensi besar untuk menembus pasar global, dan momen seperti ini memberikan eksposur yang tak ternilai. Lisa menegaskan bahwa busana kenegaraan dapat mengambil elemen budaya daerah, kemudian ditempatkan dalam konteks modern dan formal, sehingga identitas Indonesia tetap relevan tanpa kehilangan akar tradisi.
"Keseluruhannya menurut saya merupakan bentuk diplomasi budaya melalui fesyen. Tiga identitas budaya yang berbeda hadir dalam satu panggung nasional untuk menyampaikan pesan bahwa Indonesia modern tetap berakar pada tradisi dan keberagaman Nusantara," kata Lisa.
Bagi pembaca di Indonesia, langkah ini membuka pertanyaan: apakah tren ini akan berlanjut pada agenda kenegaraan lainnya? Jika konsisten, bukan tidak mungkin busana adat dari berbagai daerah akan semakin sering tampil di panggung internasional, memperkuat posisi Indonesia sebagai bangsa yang kaya budaya sekaligus modern. Namun, tantangan ke depan adalah memastikan bahwa apresiasi ini tidak berhenti pada seremoni, melainkan berdampak nyata pada kesejahteraan para perajin dan pelestarian tradisi.



