Hendry Munief: Generasi Muda Kunci Isi Kemerdekaan dengan Pendidikan dan Akhlak
Baca dalam 60 detik
- Anggota DPR RI Hendry Munief mendorong pemuda untuk memaknai kemerdekaan melalui peningkatan kualitas diri, bukan sekadar seremonial.
- Dalam pidato HUT ke-81 RI di Pekanbaru, ia menekankan tiga bekal utama: Al-Qur'an, akhlak mulia, dan prestasi akademik.
- Sekolah Al Fikri yang ia dirikan pada 2010 kini menampung ribuan murid, dengan ratusan penerima beasiswa dari keluarga kurang mampu.

Anggota Komisi VII DPR RI, Hendry Munief, memperingatkan bahwa kemerdekaan yang telah diraih 81 tahun silam bukanlah akhir dari perjuangan, melainkan awal dari tanggung jawab baru bagi generasi muda: mengisi kemerdekaan dengan kapasitas diri yang unggul. Dalam kapasitasnya sebagai Pembina Upacara di Sekolah Al Fikri, Pekanbaru, pada Senin (17/8), Hendry menegaskan bahwa pemuda hari ini tidak lagi dituntut mengangkat senjata, tetapi dituntut mengangkat kualitas diri melalui pendidikan, akhlak, dan kontribusi nyata.
Pernyataan ini muncul di tengah keprihatinan akan kualitas sumber daya manusia Indonesia yang masih tertinggal dibandingkan negara tetangga. Hendry menggarisbawahi bahwa generasi muda adalah penentu arah bangsa di masa depan, dan tanpa bekal yang cukup, mereka akan kesulitan bersaing di era globalisasi. Ia menilai, peningkatan kualitas diri bukan hanya untuk kepentingan pribadi, tetapi juga untuk kemajuan kolektif bangsa.
Hendry merinci tiga bekal fundamental yang harus diperkuat oleh setiap pemuda. Pertama, Al-Qur'an sebagai pedoman hidup yang membimbing hati dan arah. Kedua, akhlakul karimah sebagai fondasi karakter yang membentuk kepribadian. Ketiga, prestasi akademis yang mempersiapkan kemampuan untuk berkarya dan memberi manfaat. Ketiga pilar ini, menurutnya, saling melengkapi dan tidak bisa dipisahkan.
Untuk mengilustrasikan pesannya, Hendry mengangkat kisah Mush'ab bin Umair, sahabat Nabi yang diutus ke Madinah pada usia muda untuk mengajarkan Al-Qur'an dan membimbing masyarakat. Kisah ini, ujarnya, membuktikan bahwa usia bukanlah penghalang untuk menjadi agen perubahan. "Pemuda yang memiliki ilmu, akhlak, keberanian, dan kemampuan berkomunikasi dapat menjadi agen perubahan di tengah masyarakat," tegasnya.
Di luar seremonial, Hendry juga membagikan pengalaman pribadinya dalam mendirikan Sekolah Al Fikri. Awalnya, yayasan ini hanya memiliki 10 murid, dan hampir semuanya berasal dari keluarga prasejahtera. Kini, sekolah tersebut telah berkembang pesat dengan ribuan murid, dan ratusan di antaranya mendapatkan beasiswa. "Kita berazam bahwa pendirian yayasan Al Fikri ini dalam rangka memberikan pendidikan yang layak kepada generasi muda bangsa, khususnya kepada kalangan kurang mampu," tuturnya.
Kisah Al Fikri ini menjadi contoh nyata bahwa akses pendidikan yang merata masih menjadi pekerjaan rumah besar di Indonesia. Meskipun pemerintah terus berupaya, kesenjangan pendidikan antara daerah kaya dan miskin masih terlihat jelas. Inisiatif seperti yang dilakukan Hendry ini setidaknya menjadi oase di tengah gurun keterbatasan, meskipun skalanya masih jauh dari cukup.
Hendry berharap generasi muda Riau, khususnya, dapat tumbuh menjadi sumber daya manusia yang unggul secara akademis dan kuat dalam karakter. Ia ingin mereka tidak hanya menjadi penonton, tetapi juga pemain utama dalam pembangunan bangsa. Pertanyaannya, apakah seruan ini akan berhenti sebagai pidato, atau mampu menggerakkan aksi nyata di kalangan pemuda? Dengan bonus demografi yang sedang dinikmati Indonesia, jawabannya akan menentukan apakah kita benar-benar siap mengisi kemerdekaan dengan karya, atau sekadar menjadi penonton di negeri sendiri.



