Seratus Tahun Jam Gadang, Titik Awal Kirab Bendera Pusaka di Bukittinggi
Baca dalam 60 detik
- Pemkot Bukittinggi memindahkan seremoni penyerahan duplikat Bendera Pusaka dari rumah dinas ke kawasan Jam Gadang, bertepatan dengan satu abad menara ikonik itu.
- Langkah ini merupakan upaya menghidupkan nilai sejarah sekaligus memperkuat identitas budaya kota di hadapan publik, terutama generasi muda.
- Kirab menuju Lapangan Wirabraja melibatkan kendaraan Maung TNI AD, drumben, serta pengawalan ketat, menandai perayaan HUT ke-81 RI yang sarat simbolisme.

Untuk pertama kalinya dalam sejarah, penyerahan duplikat Bendera Pusaka Merah Putih kepada Pasukan Pengibar Bendera Pusaka (Paskibraka) di Bukittinggi tidak lagi digelar di rumah dinas wali kota, melainkan di pelataran Jam Gadang yang tengah merayakan usia seabad. Perubahan lokasi ini bukan sekadar seremonial—ia menjadi pembuka kirab menuju Lapangan Wirabraja pada peringatan HUT ke-81 Kemerdekaan RI, Senin (17/8).
Wali Kota Bukittinggi, Ramlan Nurmatias, menegaskan bahwa pemindahan titik kumpul ini sengaja dilakukan untuk merayakan 100 tahun Jam Gadang, bangunan yang menjadi ikon kota dan saksi bisu perjalanan bangsa. "Kita ingin menunjukkan bahwa sejarah dan budaya bukan hanya dibaca, tetapi juga dirasakan," ujarnya di sela-sela acara. Ia menambahkan bahwa tahun-tahun sebelumnya, prosesi sakral ini selalu berlangsung di kediaman resminya—sebuah rutinitas yang kini dirombak total.
Keputusan ini menggarisbawahi pergeseran pendekatan pemerintah daerah dalam merawat memori kolektif. Dengan menjadikan Jam Gadang sebagai panggung utama, Pemkot Bukittinggi tidak hanya memberi penghormatan kepada para pendiri kota, tetapi juga mengajak warganya untuk terlibat langsung dalam narasi sejarah. Ramlan menyebut langkah ini sebagai bentuk penghargaan terhadap perjuangan para pejuang yang telah membangun Bukittinggi dari masa ke masa.
Prosesi kirab sendiri berlangsung meriah. Duplikat Bendera Pusaka dan teks Proklamasi diarak menggunakan kendaraan Maung milik Kodim 0304/Agam, diiringi kelompok drumben, serta dikawal ketat oleh Polresta Bukittinggi dan Dinas Perhubungan. Rute kirab menyusuri jalan-jalan utama kota, memberi kesempatan bagi masyarakat untuk menyaksikan momen bersejarah ini dari dekat—sebuah tontonan yang jarang terjadi di tahun-tahun sebelumnya.
Bagi Bukittinggi, momen ini lebih dari sekadar perayaan ulang tahun bangunan. Jam Gadang, yang dirancang oleh arsitek lokal dan dibangun pada masa kolonial Belanda, telah menjadi simbol ketahanan budaya Minangkabau. Dalam beberapa tahun terakhir, pemerintah pusat bahkan menjadikannya ikon diplomasi budaya, seperti terlihat dalam peringatan satu abad yang melibatkan Kementerian Luar Negeri dan mempererat hubungan RI-Belanda.
Di tengah hiruk-pikuk modernisasi, langkah Pemkot Bukittinggi ini menjadi pengingat bahwa identitas sebuah kota tidak hanya diukur dari gedung-gedung baru, tetapi juga dari cara masyarakatnya menghormati warisan. Dengan menghadirkan prosesi sakral di ruang publik, pemerintah daerah berharap generasi muda tidak sekadar mengenal Jam Gadang sebagai objek wisata, melainkan sebagai bagian dari denyut sejarah yang hidup.
Ke depan, pertanyaannya adalah apakah tradisi baru ini akan dipertahankan atau justru menjadi sekadar seremonial tahun ini. Akankah Jam Gadang terus menjadi titik awal kirab bendera di tahun-tahun mendatang, atau akan ada ikon lain yang diangkat? Yang jelas, Bukittinggi telah menunjukkan bahwa sejarah bisa dirayakan dengan cara yang segar dan bermakna.



