David Jaco, Petinju yang Bertarung Melawan Tyson dan Foreman, Kini Diangkat ke Layar Lebar
Baca dalam 60 detik
- Mantan petinju kelas berat David Jaco akan menjadi subjek film layar lebar berjudul 'Spontaneous Palooka' yang ditulis bersama Evan Jacobs.
- Jaco dikenal karena pernah berhadapan dengan Mike Tyson, George Foreman, Buster Douglas, dan Razor Ruddock, meski kariernya tidak pernah mencapai sabuk juara dunia.
- Film ini menyoroti motivasi Jaco yang bertarung demi menghidupi kedua putranya, sebuah kisah yang dianggap universal oleh penulis skenario.

Mantan petinju kelas berat David Jaco, yang pernah berbagi ring dengan legenda seperti Mike Tyson, George Foreman, Buster Douglas, dan Razor Ruddock, akan menjadi subjek film layar lebar berjudul Spontaneous Palooka. Proyek ini digarap bersama penulis skenario dan penulis buku Evan Jacobs, yang mengaku terinspirasi oleh kisah hidup Jaco di dunia tinju profesional.
Jaco bukan nama yang asing di kalangan penggemar tinju era 1980-an hingga 1990-an. Meski tidak pernah meraih gelar juara dunia, ia dikenal sebagai petinju yang tangguh dan kerap menjadi lawan uji bagi para petinju papan atas. Pertarungannya melawan Tyson pada 1986, Foreman pada 1988, dan Douglas pada 1990 menjadi catatan penting dalam kariernya. Namun, di balik rekor tersebut, terdapat cerita tentang perjuangan hidup yang menjadi inti dari film ini.
Menurut Jacobs, yang sebelumnya menulis film tinju Knockout (2011) dan menyutradarai Boxing Time, kisah Jaco memiliki daya tarik universal. Jacobs mengaku pertama kali melihat Jaco bertarung saat ia masih berusia 15 tahun dan terkesan dengan ketangguhan serta semangat juangnya yang tidak pernah padam. "David Jaco memiliki kisah yang luar biasa. Saya melihatnya bertarung saat masih remaja dan saya takjub melihat berapa banyak pukulan yang bisa ia terima. Dia benar-benar tidak pernah berhenti untuk bangkit," ujar Jacobs dalam keterangan persnya.
Film ini akan menyoroti perjalanan Jaco meniti karier di dunia tinju profesional, yang ia jalani terutama untuk memberikan kehidupan yang lebih baik bagi kedua putranya, Aaron dan Adam. Motivasi tersebut menjadi benang merah yang membuat kisahnya relevan tidak hanya bagi penggemar tinju, tetapi juga bagi siapa pun yang memahami perjuangan seorang ayah.
Untuk memperkenalkan proyek ini, Jaco dan Jacobs telah merilis sebuah film dokumenter pendek yang menampilkan Jaco menceritakan kisahnya sendiri. Langkah ini diambil untuk membangun ekspektasi sekaligus memberikan gambaran autentik tentang sosok yang akan diangkat ke layar lebar. Jacobs, yang juga penulis seri fiksi remaja The 12 Rounds dan kontributor Fightnews, berharap film ini dapat menyentuh hati penonton dari berbagai latar belakang.
"Nama-nama petinju yang ia hadapi memang menarik, tetapi kisah di balik pertarungan itu—yang intinya adalah tekadnya untuk menghidupi keluarganya—itulah yang membuat Spontaneous Palooka menjadi cerita universal yang layak diceritakan," tambah Jacobs.
Bagi publik Indonesia, kisah David Jaco bisa menjadi cermin tentang bagaimana olahraga sering kali menjadi jalan keluar dari kesulitan ekonomi. Di Indonesia, banyak atlet yang menekuni cabang olahraga tertentu demi memperbaiki taraf hidup keluarga. Kisah Jaco juga mengingatkan bahwa di balik setiap pertarungan, ada cerita manusia yang jarang terekspos. Film ini berpotensi menginspirasi generasi muda Indonesia untuk melihat olahraga bukan hanya soal kemenangan, tetapi juga perjuangan dan pengorbanan.
Selain itu, industri film Indonesia yang tengah tumbuh dapat mengambil pelajaran dari cara Jacobs mengemas kisah olahraga menjadi narasi yang menyentuh. Dengan pendekatan yang tepat, kisah-kisah atlet nasional yang penuh liku juga bisa diangkat ke layar lebar dan mendapat tempat di hati penonton. Apalagi, tema keluarga dan pengorbanan selalu memiliki daya tarik universal.
Ke depan, Spontaneous Palooka akan menjadi ujian bagi Jacobs dan Jaco untuk membuktikan bahwa kisah seorang petinju yang tidak pernah menjadi juara dunia tetap bisa menarik perhatian. Apakah film ini akan sukses menembus pasar internasional, atau justru tenggelam di tengah derasnya produksi film olahraga? Yang jelas, kisah David Jaco telah menemukan jalannya untuk dikenang, tidak hanya sebagai catatan di buku rekor tinju, tetapi juga sebagai narasi tentang ketangguhan manusia.



