Gus Yahya: Muktamar NU 2026 di Jombang, Warisan Mbah Wahab Jadi Arah Perjuangan
Baca dalam 60 detik
- Ketua Umum PBNU menegaskan pentingnya meneladani pemikiran K.H. Abdul Wahab Chasbullah dalam menghadapi perubahan zaman, bukan sekadar mempertahankan tradisi.
- Muktamar Ke-35 NU akan digelar di Pondok Pesantren Bahrul Ulum, Jombang, pada 27โ31 Agustus 2026, bertepatan dengan satu abad NU dan dihadiri Presiden Prabowo.
- Perubahan AD/ART baru berlaku pada Muktamar Ke-36, menegaskan komitmen PBNU pada aturan yang berlaku saat ini.

Ketua Umum Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU), K.H. Yahya Cholil Staquf, mengajak seluruh kader NU untuk tidak hanya berpegang pada warisan masa lalu, tetapi juga merumuskan langkah strategis menjawab tantangan zaman. Ajakan itu disampaikan dalam bedah buku tentang pemikiran dan biografi K.H. Abdul Wahab Chasbullah di Pondok Pesantren Bahrul Ulum Tambakberas, Jombang, pada Minggu (16/2/2026).
Gus Yahya, sapaan akrabnya, menilai Mbah Wahabโsebutan untuk K.H. Abdul Wahab Chasbullahโmemiliki cara pandang yang visioner. "Mbah Wahab melihat dunia berubah. Ia berpikir apa yang harus diperjuangkan ke depan, bukan hanya apa yang harus dipertahankan," ujarnya. Pernyataan ini menjadi pengingat bahwa NU harus adaptif di tengah disrupsi global, tanpa kehilangan akar tradisinya.
Muktamar Ke-35 NU yang dijadwalkan berlangsung pada 27โ31 Agustus 2026 di pesantren yang sama menjadi momentum istimewa. Selain bertepatan dengan satu abad NU dalam penanggalan Masehi, muktamar ini digelar di lingkungan tempat Mbah Wahab dimakamkan. Gus Yahya mengingatkan para peserta untuk tidak melupakan jasa tokoh pendiri tersebut. "Jangan sampai siapa pun yang menginjakkan kaki di bumi Tambakberas lupa kepada Mbah Wahab," tegasnya.
Lebih jauh, Gus Yahya membuka ruang diskusi mengenai mekanisme pemilihan kepemimpinan PBNU, termasuk gagasan ahwa (musyawarah). Namun, ia menekankan bahwa seluruh usulan harus berorientasi pada kemaslahatan organisasi, bukan kepentingan pragmatis jangka pendek. "Kita bisa mendiskusikan apa saja asal niatnya untuk kemaslahatan jamiyah," katanya, menegaskan komitmennya pada proses yang bersih dan berkelanjutan.
Ia juga memastikan Muktamar Ke-35 akan berpedoman pada AD/ART yang berlaku saat ini. Jika ada keputusan perubahan, aturan baru tersebut baru akan diterapkan pada muktamar berikutnya. Langkah ini dinilai penting untuk menjaga stabilitas organisasi dan memberikan kepastian hukum bagi seluruh pemangku kepentingan.
Bagi warga NU di Indonesia, muktamar ini bukan sekadar agenda rutin lima tahunan. Ia menjadi ujian bagi kemampuan organisasi dalam merespons perubahan sosial, politik, dan ekonomi yang bergerak cepat. Kehadiran Presiden Prabowo juga memberi sinyal penguatan hubungan antara negara dan organisasi keagamaan terbesar di tanah air.
Ke depan, pertanyaan besarnya adalah bagaimana NU dapat menerjemahkan semangat Mbah Wahab ke dalam program-program konkret yang relevan bagi generasi muda. Apakah muktamar ini akan melahirkan terobosan yang mampu membawa NU lebih berperan dalam isu-isu kebangsaan dan global? Semua mata tertuju pada Jombang.



