BNPB Minta Daerah Siaga: Karhutla Jawa Tengah Padam, Gempa NTT dan Sulteng Terpantau
Baca dalam 60 detik
- Sepanjang akhir pekan, dua kebakaran lahan di Jawa Tengah berhasil dipadamkan, sementara dua gempa signifikan mengguncang kawasan timur Indonesia.
- BNPB menyoroti enam provinsi prioritas rawan karhutla, menuntut kesiapsiagaan dini dan sinergi lintas sektor.
- Belum ada laporan kerusakan akibat gempa M 7,7 NTT dan M 6,2 Sulteng, namun pemantauan terus dilakukan.

Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) mencatat dua jenis ancaman yang terjadi bersamaan pada 15–16 Agustus 2026: kebakaran hutan dan lahan di Jawa Tengah yang berhasil dijinakkan, serta gempa bumi berkekuatan signifikan di Nusa Tenggara Timur dan Sulawesi Tengah. Rentetan peristiwa ini menegaskan pentingnya kesiapsiagaan lintas wilayah, terutama di tengah musim kemarau yang masih berlanjut.
Di Jawa Tengah, dua titik karhutla dilaporkan di Kabupaten Sragen dan Klaten. Di Sragen, lahan seluas 2 hektare di Desa Dukuh, Kecamatan Tangen, terbakar akibat pembakaran sampah yang tak terkendali. Api berhasil dipadamkan pada hari yang sama oleh petugas gabungan. Sementara di Klaten, kebakaran terjadi di dua lokasi berbeda—Desa Dukuh, Kecamatan Delanggu, dan Desa Brangkal, Kecamatan Karanganom—dengan total area terdampak 2,1 hektare. Penyebab kebakaran di Klaten masih diselidiki, namun api berhasil dipadamkan sekitar pukul 19.31 WIB.
BNPB juga memantau enam provinsi prioritas rawan karhutla: Riau, Sumatera Selatan, Jambi, Kalimantan Barat, Kalimantan Tengah, dan Kalimantan Selatan. Wilayah-wilayah ini menjadi fokus karena kerentanan terhadap kebakaran lahan gambut dan hutan, yang kerap memicu kabut asap lintas batas. Langkah pencegahan dini menjadi kunci, mengingat dampak karhutla tidak hanya merugikan lingkungan, tetapi juga kesehatan masyarakat dan aktivitas ekonomi.
Di sisi geologi, gempa berkekuatan magnitudo 7,7 mengguncang NTT, disusul gempa magnitudo 6,2 di Kabupaten Parigi Moutong, Sulawesi Tengah, pada Sabtu malam. Menurut BMKG, pusat gempa Parigi Moutong berada di kedalaman 44 kilometer, sekitar 74 kilometer barat daya wilayah tersebut. Guncangan dirasakan kuat selama 10 detik di Parigi Moutong, dan 10 hingga 20 detik di Kota Palu. Hingga kini, BNPB belum menerima laporan kerusakan atau korban jiwa dari kedua gempa tersebut.
Menanggapi situasi ini, BNPB mengimbau pemerintah daerah dan masyarakat untuk meningkatkan kewaspadaan. Kepala Pusat Data, Informasi dan Komunikasi Kebencanaan BNPB, Abdul Muhari, dalam keterangan tertulisnya menekankan bahwa pencegahan karhutla harus dimulai sedini mungkin. "Sinergi pentahelix—melibatkan pemerintah, akademisi, swasta, media, dan masyarakat—menjadi kunci efektivitas pemadaman," ujarnya. Ia juga mengingatkan agar warga di daerah rawan gempa selalu memahami prosedur evakuasi.
Bagi Indonesia, kejadian ini menjadi pengingat akan posisi geografis yang rawan bencana. Dengan musim kemarau yang masih berlangsung, risiko karhutla diprediksi meningkat, terutama di wilayah gambut. Sementara itu, aktivitas seismik di NTT dan Sulteng menunjukkan bahwa jalur gempa di Indonesia timur masih aktif. Masyarakat diimbau tidak panik, tetapi tetap siaga dan memantau informasi resmi dari BMKG dan BNPB.
Ke depan, pertanyaan yang mengemuka adalah apakah pemerintah daerah di enam provinsi prioritas mampu mencegah karhutla sebelum meluas, mengingat pengalaman tahun-tahun sebelumnya yang kerap berujung pada bencana asap. Selain itu, bagaimana kesiapan infrastruktur dan masyarakat menghadapi gempa susulan? Jawabannya akan menentukan ketangguhan Indonesia dalam menghadapi bencana yang datang silih berganti.



