Wall Street Terkoreksi, Data Penjualan Ritel AS dan Konflik Hormuz Bayangi Pasar Global
Baca dalam 60 detik
- Penjualan ritel AS turun 0,6% pada Juli, memicu kekhawatiran perlambatan ekonomi di tengah konflik Hormuz yang masih memanas.
- Saham teknologi terpecah: Applied Materials merosot meski catat penjualan rekor, sementara SanDisk melonjak berkat prospek AI.
- Pasar Asia mulai pulih, dengan Kospi bangkit 20% dari titik terendah, namun ketidakpastian global masih membayangi prospek investasi.

Bursa saham global kembali diuji di tengah musim liburan yang sepi transaksi. Indeks S&P 500 yang sehari sebelumnya mencetak rekor tertinggi, Jumat (14/8) tergelincir ke zona merah. Pelemahan ini dipicu oleh rilis data penjualan ritel Amerika Serikat yang mengecewakan serta ketegangan geopolitik yang belum mereda di Selat Hormuz, jalur vital pengangkut minyak dunia.
Data Departemen Perdagangan AS menunjukkan total penjualan ritel turun 0,6 persen pada Juli dibanding bulan sebelumnya, menjadi US$763,6 miliar. Angka ini di bawah ekspektasi pasar yang memperkirakan pertumbuhan tipis. Lebih mengkhawatirkan lagi, survei sentimen konsumen Universitas Michigan mengungkap kepercayaan konsumen merosot sekitar delapan persen pada Agustus, mengakhiri dua bulan tren positif. Penurunan ini paling terasa pada kelompok konsumen berusia lanjut, berpendapatan rendah, dan tanpa gelar sarjana.
Direktur Survei Konsumen Universitas Michigan, Joanne Hsu, menggarisbawahi bahwa kelompok-kelompok tersebut paling rentan terhadap erosi daya beli akibat inflasi. "Mereka sangat sensitif terhadap kenaikan harga yang tidak diimbangi pendapatan," ujarnya. Data ini memperkuat spekulasi bahwa Federal Reserve akan menahan suku bunga dalam waktu dekat. Namun, analis investasi eToro, Bret Kenwell, mengingatkan agar investor tidak terlalu bernafsu menantikan pelonggaran moneter. "Jika konsumen melemah, ekonomi ikut melemah. Harga bensin yang turun di Juli ternyata tidak cukup mendorong belanja di sektor lain," katanya.
Di sisi lain, konflik AS-Iran yang masih memanas di Selat Hormuz menambah ketidakpastian. Harga minyak kembali merangkak naik, sementara investor memantau perilaku pasar obligasi setelah lelang Treasury yang lemah. Jack Ablin dari Cresset Capital mencatat volume perdagangan yang tipis khas Jumat di tengah musim liburan, sehingga pergerakan harga bisa lebih volatil. "Kami terus memantau harga minyak, perkembangan Timur Tengah, dan perilaku Treasury," ujarnya.
Di tengah kabut perang, sektor teknologi dan belanja besar-besaran untuk kecerdasan buatan (AI) tetap menjadi pusat perhatian. Saham Applied Materials, pemasok peralatan chip AS, justru merosot lebih dari lima persen meski mencatat penjualan kuartalan rekor US$9,1 miliar. Analis menilai pasar sudah mengantisipasi angka yang lebih tinggi. Sebaliknya, SanDisk melonjak 7,4 persen setelah presentasi investor yang memaparkan prospek pertumbuhan bisnisnya seiring meningkatnya permintaan AI.
Di Asia, sentimen mulai membaik. Indeks Kospi Korea Selatan naik lebih dari dua persen, didorong pemulihan saham SK hynix dan Samsung setelah aksi jual besar bulan lalu. Kospi sempat anjlok sekitar 40 persen dari puncak Juni hingga titik terendah intraday pada 6 Agustus, namun kini telah bangkit lebih dari 20 persen. Bursa Tokyo juga menguat, dengan saham Kioxia, Advantest, Sony, dan SoftBank kompak menghijau.
Bagi pasar Indonesia, gejolak ini menjadi pengingat akan tingginya korelasi pasar keuangan global. Pelemahan konsumsi AS dapat menekan ekspor nonmigas, sementara ketegangan di Hormuz berpotensi mendongkrak harga minyak dan memperberat beban impor energi. Investor domestik perlu mencermati pergerakan nilai tukar rupiah dan arus modal asing, yang kerap bereaksi cepat terhadap perubahan sentimen global.
Ke depan, pertanyaannya adalah apakah pemulihan di Asia mampu bertahan di tengah data ekonomi AS yang suram dan konflik yang belum usai. Jika konsumen AS terus mengerem belanja, target pertumbuhan global bisa meleset, dan pasar yang baru pulih ini mungkin akan kembali diuji. Semua mata kini tertuju pada pidato Ketua Fed, Jerome Powell, dalam simposium Jackson Hole akhir bulan ini, yang diharapkan memberi sinyal arah kebijakan moneter.



