Community Shield: Antara Kutukan Juara dan Pertanda Musim yang Menyesatkan
Baca dalam 60 detik
- Hanya 8 dari 34 pemenang Community Shield sejak era Premier League yang berhasil menjadi juara liga di musim yang sama, menjadikannya sekadar pramusim yang menipu.
- Data 15 tahun terakhir menunjukkan tren sebaliknya: tim yang kalah di laga pembuka justru lebih sering mengangkat trofi liga, termasuk Manchester City tiga kali beruntun.
- Performa individu di Community Shield tidak menjamin konsistensi; Erling Haaland dan Cole Palmer membuktikan bahwa gol di laga ini bisa menjadi batu loncatan atau sekadar kilasan sesaat.

Community Shield, laga pembuka musim yang mempertemukan juara Premier League dengan pemenang Piala FA, kerap dianggap sebagai pemanasan sebelum kompetisi sesungguhnya. Namun, statistik menunjukkan bahwa trofi ini justru sering menjadi batu sandungan bagi tim yang memenangkannya. Dari 34 edisi sejak Premier League bergulir pada 1992, hanya delapan pemenang Community Shield yang berhasil mengulang suksesnya dengan menjadi juara liga di akhir musim. Angka ini menegaskan bahwa kemenangan di Cardiff atau Wembley tidak otomatis menjadi pertanda baik.
Fenomena ini semakin nyata dalam satu setengah dekade terakhir. Hanya satu dari 15 pemenang Community Shield terakhir yang mampu menjadi juara Premier League di musim yang sama. Manchester City pada 2019 menjadi pengecualian terakhir, sementara Manchester United di era Sir Alex Ferguson pada 2011 juga pernah melakukannya. Sebaliknya, tim yang kalah di laga pembuka justru lebih sering mengangkat trofi liga—tercatat sepuluh kali sejak 1992, termasuk City yang kalah pada 2021, 2022, dan 2023, namun tetap menjadi juara liga pada musim-musim tersebut.
Data lain yang menarik: dalam 47 persen kasus, juara Premier League musim tersebut bahkan tidak tampil di Community Shield. Contoh terbaru adalah Arsenal yang diprediksi akan bersaing di papan atas pada 2025-2026, padahal mereka tidak ambil bagian dalam laga pembuka musim ini. Ini menunjukkan bahwa kekuatan sebuah tim tidak bisa diukur dari partisipasi di ajang pramusim, melainkan dari konsistensi dan kedalaman skuad sepanjang musim.
Bagi pengamat sepak bola, Community Shield juga menjadi ajang pembuktian bagi pemain baru. Namun, sejarah mencatat bahwa penampilan di laga ini bisa menyesatkan. Pada 2023, Cole Palmer mencetak gol untuk Manchester City di Community Shield, tetapi kemudian pindah ke Chelsea dan justru menjadi pemain kunci dengan 22 gol di Premier League. Sebaliknya, Darwin Nunez yang mencetak gol debut untuk Liverpool pada 2022 sempat dianggap lebih menjanjikan daripada Erling Haaland yang gagal mencetak gol di laga yang sama. Faktanya, Haaland mengakhiri musim dengan 52 gol, sementara Nunez hanya 15 gol.
Fenomena ini juga relevan bagi perkembangan sepak bola Indonesia. Dengan semakin banyaknya pemain muda Indonesia yang merantau ke liga Eropa, pelajaran dari Community Shield adalah bahwa performa di laga pramusim tidak boleh dijadikan tolok ukur utama. Klub-klub seperti Persija atau Persib yang kerap menggelar laga uji coba internasional sebaiknya tidak terlalu larut dalam hasil positif di ajang tersebut. Yang lebih penting adalah bagaimana tim membangun fondasi taktik dan mentalitas yang kuat untuk menghadapi kompetisi panjang, seperti yang dicontohkan oleh Manchester City yang justru bangkit setelah kalah di Community Shield.
Ke depan, pertanyaannya bukan lagi siapa yang akan memenangkan Community Shield, melainkan bagaimana tim-tim peserta memanfaatkan laga ini sebagai batu loncatan. Akankah ada tim yang mampu mematahkan kutukan juara bertahan? Atau justru tim yang kalah akan kembali mendominasi seperti yang terjadi dalam satu dekade terakhir? Jawabannya akan terungkap dalam perjalanan panjang Premier League, di mana konsistensi dan adaptasi menjadi kunci utama.



