Pisang Cavendish Jadi Motor Ekonomi Desa: Anggota DPR Dorong Replikasi di Ponorogo
Baca dalam 60 detik
- Desa Bringinan, Ponorogo, membuktikan budidaya pisang cavendish dengan modal awal Rp3,5 juta mampu menambah pendapatan warga dan membayar pajak.
- Anggota Komisi VII DPR RI, Novita Hardini, menilai model pemberdayaan ini layak ditiru desa lain karena tidak membutuhkan lahan luas.
- Keberhasilan ini membuka peluang replikasi program serupa di daerah lain untuk mendorong ekonomi perdesaan secara berkelanjutan.

Anggota Komisi VII DPR RI, Novita Hardini, mendorong agar budidaya pisang cavendish di Kabupaten Ponorogo, Jawa Timur, dijadikan model penggerak ekonomi desa yang bisa direplikasi di berbagai daerah. Dorongan ini muncul setelah ia meninjau langsung inovasi warga Desa Bringinan, Kecamatan Jambon, yang berhasil mengubah pekarangan sempit menjadi sumber penghasilan tambahan sekaligus membantu pembayaran pajak keluarga.
Dalam pertemuan dengan warga, Sabtu (15/8) malam, Kepala Desa Bringinan Barno memaparkan bahwa program ini dimulai pada 2024 dengan alokasi dana desa sekitar Rp3,5 juta untuk pengadaan benih. Konsepnya sederhana: setiap warga cukup menanam dua hingga lima batang pisang di lahan yang tersedia, tanpa perlu memiliki tanah luas. Kini, tanaman tersebut telah berbuah dan memberikan pendapatan tambahan bagi puluhan keluarga.
Yang menarik, pemerintah desa tidak berhenti pada tahap budidaya. Mereka mendorong warga memanfaatkan hasil penjualan pisang untuk memenuhi kewajiban pajak. Menurut Barno, pendekatan ini mengubah cara pandang masyarakat terhadap kebunโbukan sekadar sumber pangan, melainkan aset produktif yang menopang kewajiban finansial keluarga. Inovasi ini dinilai sebagai solusi pemberdayaan yang lahir dari keterbatasan anggaran, namun berdampak nyata.
Novita Hardini, yang membidangi UMKM dan ekonomi kreatif, mengapresiasi langkah Barno. "Dengan anggaran desa yang terbatas, Mbah Barno mampu menghadirkan gagasan yang segar dan out of the box. Pisang cavendish menjadi salah satu solusi pemberdayaan di tengah kondisi ekonomi, sosial, dan politik hari ini," ujarnya. Ia menegaskan, penguatan ekonomi tidak selalu harus dimulai dari program berskala besar; pemanfaatan lahan yang ada bisa menjadi pintu masuk peningkatan pendapatan.
Lebih jauh, Novita menilai keberhasilan Bringinan layak direplikasi di desa-desa lain di Ponorogo. "Kalau ini bisa ditularkan dan dilaksanakan di desa-desa lain, tentu dapat menjadi salah satu pintu kebangkitan ekonomi Kabupaten Ponorogo," katanya. Ia pun memberikan dukungan bibit kepada masyarakat setempat agar komoditas ini semakin berkembang.
Bagi Indonesia, model pemberdayaan berbasis komoditas lokal seperti ini memiliki relevansi besar. Di tengah tekanan ekonomi dan upaya pemulihan pasca-pandemi, program yang murah, mudah diadopsi, dan cepat menghasilkan bisa menjadi alternatif pengentasan kemiskinan di perdesaan. Apalagi, pisang cavendish memiliki nilai jual stabil dan permintaan pasar yang terus tumbuh, baik untuk konsumsi domestik maupun ekspor.
Namun, replikasi program ini tidak tanpa tantangan. Diperlukan pendampingan teknis, akses pasar yang jelas, serta dukungan kebijakan agar skala usaha bisa naik kelas. Pertanyaannya, mampukah pemerintah daerah dan pusat menjadikan inisiatif akar rumput seperti ini sebagai bagian dari strategi pembangunan ekonomi yang lebih sistematis?



