Iran dan Oman Sepakati Peta Rute Pelayaran Selat Hormuz, AS Masih Jadi Batu Sandungan
Baca dalam 60 detik
- Teheran dan Muscat menuntaskan perundingan teknis tiga bulan dan menyepakati peta rute pelayaran di Selat Hormuz, meski masih ada ganjalan dengan Washington.
- Kesepakatan ini merupakan implementasi nota kesepahaman yang ditandatangani Juni lalu, namun pembukaan kembali jalur komersial tetap bergantung pada pencabutan sanksi dan ancaman militer AS.
- Jika terealisasi, stabilitas Selat Hormuz akan mengamankan pasokan energi global dan menekan harga minyak, yang berimbas positif pada inflasi dan nilai tukar rupiah.

Iran dan Oman akhirnya mencapai titik temu dalam penyusunan peta rute pelayaran di Selat Hormuz setelah melalui perundingan teknis yang berlarut-larut. Kesepakatan ini menjadi sinyal bahwa dua negara pantai tersebut berupaya menjaga stabilitas jalur laut paling vital di dunia, meskipun bayang-bayang konflik dengan Amerika Serikat masih membayangi.
Juru bicara Kementerian Luar Negeri Iran, Esmaeil Baghaei, mengonfirmasi bahwa negosiasi yang berlangsung sekitar tiga bulan itu menghasilkan kemajuan signifikan. "Terlepas dari hambatan Amerika Serikat, pembicaraan telah mencapai kemajuan positif selama tiga pekan terakhir dan kesepakatan telah dicapai mengenai peta rute pelayaran," ujarnya kepada Defa Press, Sabtu (15/8). Perundingan ini merupakan tindak lanjut dari nota kesepahaman (MoU) yang diteken kedua negara pada 18 Juni, yang menjadi dasar pembentukan koridor pelayaran aman di selat tersebut.
Bagi Indonesia, perkembangan ini bukan sekadar berita diplomatik jauh di Timur Tengah. Selat Hormuz adalah gerbang utama distribusi minyak mentah dan gas alam cair (LNG) dari kawasan Teluk. Setiap gangguan di jalur ini berpotensi memicu lonjakan harga energi global, yang pada gilirannya menekan anggaran subsidi energi dan nilai tukar rupiah. Ketika harga minyak dunia meroket, Indonesia yang masih menjadi importir minyak netto akan merasakan dampaknya melalui kenaikan harga BBM dan barang-barang kebutuhan pokok.
Kesepakatan ini juga menandai langkah maju dalam diplomasi regional yang dipimpin langsung oleh Kementerian Luar Negeri Iran, dengan melibatkan otoritas pertahanan, keamanan, dan lingkungan. Namun, Baghaei menegaskan bahwa pengaturan ini merupakan kesepakatan independen kedua negara pesisir yang bertujuan menjamin keselamatan pelayaran dengan menghormati kedaulatan masing-masing. Meski begitu, ia menggarisbawahi bahwa pemulihan keamanan penuh dan normalisasi pelayaran komersial masih bergantung pada penghentian tindakan AS yang disebutnya ilegal, termasuk ancaman militer dan blokade laut.
Teheran juga menuntut kompensasi atas pelanggaran komitmen yang dilakukan Washington selama dua bulan terakhir. Ini menunjukkan bahwa meskipun ada kemajuan antara Iran dan Oman, ketegangan dengan AS tetap menjadi variabel kunci yang menentukan apakah Selat Hormuz akan benar-benar kembali ramai dilalui kapal-kapal dagang. Sebelumnya, Iran berulang kali menyatakan bahwa keputusan untuk membuka kembali jalur tersebut bergantung pada pemenuhan kewajiban AS berdasarkan MoU.
Para analis memandang bahwa kesepakatan ini adalah langkah pragmatis Oman yang selama ini berperan sebagai penengah di kawasan Teluk. Dengan menyepakati peta rute, kedua negara berusaha mengurangi risiko insiden di perairan yang pernah menjadi saksi penyitaan kapal tanker dan serangan drone. Namun, tanpa adanya perubahan sikap dari AS, efektivitas kesepakatan ini masih dipertanyakan. Seperti yang pernah terjadi, AS kerap menggunakan kehadiran armada militernya untuk menekan Iran, yang justru memicu eskalasi.
Bagi pasar keuangan Indonesia, kabar ini memberikan sedikit ruang lega. Setiap tanda meredanya ketegangan di Selat Hormuz biasanya direspons positif oleh harga minyak yang cenderung turun. Namun, investor tetap perlu mencermati perkembangan selanjutnya, terutama apakah AS akan merespons tuntutan kompensasi Iran atau justru meningkatkan tekanan. Jika kesepakatan ini mampu bertahan dan diimplementasikan, bukan tidak mungkin harga minyak mentah dunia akan stabil di kisaran yang lebih rendah, membantu pemerintah menjaga inflasi dan defisit anggaran.
Pertanyaannya, apakah Washington akan duduk diam melihat Teheran dan Muscat membangun tatanan pelayaran baru di selat yang selama ini menjadi arena persaingan pengaruh? Atau justru langkah ini akan memicu reaksi balik yang kembali mengguncang pasar minyak? Hanya waktu yang bisa menjawab, namun yang jelas, stabilitas Selat Hormuz adalah kepentingan bersama yang tak bisa ditawar-tawar.



