Konflik AS-Iran Memanas, Trump Minta Warga Bersiap Bensin Naik
Baca dalam 60 detik
- Presiden AS Donald Trump meminta warga untuk bersiap menghadapi kenaikan harga bensin sebagai konsekuensi konflik dengan Iran, sembari menyatakan akan mengklaim Selat Hormuz sebagai wilayah AS.
- Iran menolak bernegosiasi dengan AS dan menegaskan blokade Selat Hormuz akan terus berlanjut, menyebabkan lalu lintas kapal di jalur minyak dunia itu merosot drastis.
- Dampak ekonomi mulai terasa di kedua negara, dengan harga bensin AS naik 29 persen dan Iran menghadapi inflasi tinggi; sementara itu, gencatan senjata yang sempat diharapkan justru berantakan.

Presiden Amerika Serikat, Donald Trump, kembali menegaskan sikap kerasnya terhadap Iran di tengah kebuntuan diplomasi yang berkepanjangan. Dalam kampanye politiknya di Garden City, New York, Jumat lalu, ia secara eksplisit meminta rakyat Amerika untuk bersiap menerima lonjakan harga bahan bakar minyak sebagai harga yang harus dibayar untuk mencegah Iran memiliki senjata nuklir. Pernyataan ini muncul hanya sehari setelah Iran menyerukan AS untuk mengakui kekalahannya, sebuah seruan yang langsung ditolak mentah-mentah oleh Trump.
Trump bahkan melontarkan ambisi kontroversial untuk mengklaim Selat Hormuz sebagai bagian dari wilayah Amerika Serikat setelah konflik berakhir. "Setelah kita selesai mengalahkan Iran ... segera saya akan menyatakan Selat Hormuz sebagai wilayah Amerika Serikat," ujarnya di hadapan para pendukungnya, seperti dikutip dari Reuters, Minggu (16/8/2026). Pernyataan ini tentu memicu reaksi keras dari Teheran, yang menegaskan bahwa selat strategis tersebut hanya akan dibuka dan ditutup di bawah komando Iran.
Wakil Menteri Luar Negeri Iran, Kazem Gharibabadi, melalui platform X, menyatakan bahwa selama AS belum menerima realitas kekalahan dan masih berkhayal, Iran akan terus memberlakukan blokade. Sementara itu, Menteri Luar Negeri Iran, Abbas Araqchi, dalam wawancara dengan Shahrara News, menegaskan bahwa negaranya belum memutuskan untuk kembali berdialog dengan Washington. Ia mensyaratkan AS harus memenuhi tuntutan terkait Selat Hormuz agar lalu lintas kapal bisa pulih seperti sebelum perang, mengingat jalur tersebut menangani seperlima minyak dunia.
Ketegangan di Selat Hormuz sendiri masih sangat tinggi. Data dari perusahaan pelacak kapal Kpler menunjukkan hanya dua kapal yang melintas pada Jumat, tanpa ada pengiriman minyak mentah yang terlihat. Angka ini jauh dari rata-rata 130 kapal per hari sebelum konflik. Kapal-kapal yang nekat melintas tanpa izin Iran menghadapi risiko serangan rudal atau drone. Di sisi lain, Uni Emirat Arab (UEA) menuduh Iran menyerang kapal ketiga milik Abu Dhabi National Oil Company (ADNOC) pada Jumat, setelah dua insiden serupa terjadi pada Kamis malam. Pusat Operasi Perdagangan Maritim Inggris juga melaporkan sebuah kapal curah terkena proyektil tak dikenal di lambungnya di selat yang sama.
Dampak ekonomi mulai terasa di kedua negara. Di AS, Trump mendesak warga untuk menerima kenaikan harga bensin selama konflik berlangsung, dengan menyebutnya sebagai "harga yang pantas" untuk memastikan keamanan nasional. Sementara itu, inflasi juga melanda Iran. Presiden Masoud Pezeshkian, dalam pernyataan di televisi negara, menuding blokade AS terhadap pelabuhan Iran dan sanksi ekspor minyak sebagai penyebab tingginya inflasi di negaranya. Menteri Keuangan AS, Scott Bessent, berjanji akan menambah tekanan ekonomi pada Iran, dengan pengumuman tindakan lebih lanjut direncanakan pekan depan.
Di tengah eskalasi ini, kesepakatan damai sementara yang sempat diincar pada Juni kini berantakan. Araqchi menegaskan bahwa tidak ada gencatan senjata yang ingin mereka perpanjang, melainkan telah ada "akhir perang" dan kini situasi baru terbentuk. Ancaman konflik meluas juga muncul dari Yaman, di mana Houthi yang didukung Iran menembakkan enam rudal balistik ke pelabuhan Mocha di Laut Merah pada Jumat, menewaskan empat warga sipil.
Bagi Indonesia, konflik ini memiliki implikasi langsung terhadap harga energi domestik. Sebagai negara pengimpor minyak, Indonesia rentan terhadap gejolak harga minyak dunia yang dipicu oleh ketidakstabilan di Selat Hormuz. Pemerintah perlu mengantisipasi potensi kenaikan harga BBM dan dampaknya terhadap inflasi serta daya beli masyarakat. Selain itu, ketegangan ini juga dapat mempengaruhi stabilitas keamanan di kawasan, mengingat Indonesia memiliki hubungan dagang yang erat dengan negara-negara Teluk.
Ke depan, pertanyaannya bukan hanya apakah AS dan Iran akan menemukan titik temu, tetapi juga bagaimana negara-negara seperti Indonesia dapat memitigasi risiko ekonomi dari konflik yang tampaknya belum akan mereda dalam waktu dekat. Apakah Trump akan benar-benar mengeksekusi ancamannya untuk mengklaim Selat Hormuz, atau apakah tekanan internasional akan memaksanya untuk mundur? Semua itu masih menjadi tanda tanya besar yang akan menentukan arah pasar energi global dan stabilitas kawasan.



