Putin dan Kim Perkuat Poros Moskow-Pyongyang: Ancaman Baru bagi Stabilitas Asia?
Baca dalam 60 detik
- Pemimpin Rusia dan Korea Utara menegaskan komitmen bersama dalam menjaga keamanan kawasan, menurut laporan media pemerintah Korut.
- Langkah ini memperdalam kekhawatiran Barat atas dukungan militer Pyongyang terhadap invasi Rusia di Ukraina, termasuk pasokan rudal dan amunisi.
- Penguatan aliansi ini berpotensi mengubah keseimbangan kekuatan di Asia Timur dan berdampak pada dinamika geopolitik yang melibatkan Indonesia.

Presiden Rusia Vladimir Putin kembali menegaskan bahwa Moskow dan Pyongyang tengah berkoordinasi erat untuk menjaga stabilitas keamanan regional. Pernyataan itu disampaikan dalam pesan peringatan Hari Pembebasan Korea, yang dirilis media pemerintah Korea Utara, KCNA, pada Sabtu (15/8). Langkah ini menegaskan semakin eratnya poros kedua negara di tengah tekanan internasional yang meningkat.
Dalam pesannya, Putin menyatakan keyakinannya bahwa kerja sama konstruktif antara Rusia dan Korea Utara akan terus berlanjut, baik dalam isu bilateral maupun internasional. Sementara itu, pemimpin Korea Utara Kim Jong Un melakukan kunjungan simbolis ke Menara Pembebasan di Pyongyang pada Jumat (14/8) untuk memberi penghormatan kepada tentara Soviet yang gugur dalam Perang Dunia II. Karangan bunga atas nama Kim bertuliskan, "Kami tidak melupakan jasa para martir tentara Soviet."
Kim juga menyebut warisan darah dan persahabatan tempur antara kedua negara sebagai landasan bagi perluasan hubungan bilateral. Mantan Presiden Rusia Dmitry Medvedev turut mengirimkan ucapan selamat kepada Kim, menandakan dukungan penuh dari elit politik Rusia terhadap arah kebijakan ini.
Penguatan hubungan Moskow-Pyongyang ini tidak lepas dari sorotan tajam komunitas internasional. Ukraina, melalui Presiden Volodymyr Zelenskyy, berulang kali menuduh Korea Utara memasok rudal dan amunisi ke Rusia untuk digunakan dalam perang di Ukraina. Tuduhan tersebut semakin memperkuat kekhawatiran bahwa Pyongyang telah menjadi penyokong logistik utama bagi mesin perang Moskow.
Para analis menilai bahwa Pyongyang sengaja membingkai kawasan Asia Timur sebagai ajang persaingan antar blok kekuatan. Strategi ini diyakini untuk membenarkan program persenjataan Korea Utara yang terus berlanjut, sekaligus memperkuat dukungan dari Beijing dan Moskow. Dengan menempatkan diri sebagai benteng pertahanan melawan pengaruh Barat, Kim berharap dapat melegitimasi ambisi nuklirnya di mata domestik dan internasional.
Bagi Indonesia, dinamika ini memiliki implikasi yang tidak bisa diabaikan. Sebagai negara yang aktif dalam forum regional seperti ASEAN dan ARF, Indonesia berkepentingan menjaga stabilitas dan netralitas kawasan. Menguatnya poros Rusia-Korea Utara berpotensi memicu ketegangan baru di Laut China Selatan dan Semenanjung Korea, yang dapat mengganggu arus perdagangan dan keamanan maritim di kawasan. Indonesia perlu mencermati perkembangan ini dengan seksama, terutama dalam merumuskan kebijakan luar negeri yang bebas-aktif namun tetap responsif terhadap perubahan geopolitik.
"Kami tidak melupakan jasa para martir tentara Soviet," demikian bunyi karangan bunga Kim Jong Un di Menara Pembebasan, menegaskan ikatan historis yang kuat antara kedua negara.
Ke depan, pertanyaan yang mengemuka adalah sejauh mana kerja sama ini akan berdampak pada upaya denuklirisasi Semenanjung Korea. Dengan dukungan Rusia yang semakin terbuka, Pyongyang mungkin merasa lebih percaya diri untuk melanjutkan pengembangan rudal dan nuklirnya. Di sisi lain, negara-negara Barat, terutama Amerika Serikat, akan semakin memperketat sanksi dan tekanan diplomatik. Apakah poros Moskow-Pyongyang ini akan menjadi bumerang bagi stabilitas global, atau justru membuka ruang negosiasi baru? Hanya waktu yang bisa menjawab, namun yang jelas, kawasan Asia Timur kini berada di persimpangan yang semakin kompleks.



