Serangan Israel di Lebanon Tewaskan 11 Warga, Termasuk Anak-anak: Negosiasi di Ambang Kehancuran
Baca dalam 60 detik
- Serangan udara Israel di Lebanon selatan menewaskan 11 orang, termasuk tiga anak, dalam eskalasi paling mematikan sejak kesepakatan Juni lalu.
- Israel menargetkan komandan Radwan Force, Ali Samir Al-Haj Hassan, yang dituduh menggunakan keluarganya sebagai tameng manusia, memicu kecaman luas.
- Insiden ini mengancam putaran kedelapan negosiasi langsung yang disponsori AS di Roma, dengan Hizbullah mendesak penghentian dialog yang dianggap memalukan.

Sebelas warga sipil, termasuk tiga anak-anak, tewas dalam serangan udara Israel di Lebanon selatan pada Sabtu (15/8), menjadikannya serangan paling mematikan sejak gencatan senjata Juni lalu. Militer Israel mengklaim serangan itu menyasar komandan Hizbullah, Ali Samir Al-Haj Hassan, yang dituduh memanfaatkan keluarganya sebagai tameng manusia. Namun, korban jiwa yang sebagian besar warga sipil memicu kecaman luas dan mempertanyakan masa depan negosiasi damai yang rapuh.
Serangan ini terjadi hanya beberapa pekan sebelum putaran kedelapan perundingan langsung yang dimediasi Amerika Serikat dijadwalkan berlangsung di Roma. Kesepakatan kerangka kerja yang ditandatangani di Washington pada Juni lalu memang bertujuan meredakan ketegangan, tetapi insiden ini menunjukkan betapa rapuhnya gencatan senjata. Presiden Lebanon Joseph Aoun menegaskan bahwa pelanggaran ini adalah pesan jelas terhadap proses negosiasi dan upaya Amerika untuk mengimplementasikan kesepakatan tersebut.
Di desa Ansar, seorang koresponden AFP melaporkan gedung hancur dan kolam renang yang keruh oleh debu. Abbas Khalil, warga berusia 60 tahun, mengaku sedang berdoa saat serangan terjadi. "Kami terkejut... Tidak ada pembenaran untuk ini," ujarnya. Sementara itu, Mohammed Saab yang setiap tahun menyewakan propertinya untuk musim panas, mempertanyakan mengapa ia harus mengalami hal ini. Di Deir Zahrani, kerusakan signifikan terlihat dan lalu lintas padat menuju Sidon saat warga mengungsi membawa barang-barang mereka.
Perdana Menteri Lebanon Nawaf Salam menyatakan bahwa perempuan dan anak-anak yang tewas bukanlah target militer, dan mendesak Israel menghentikan eskalasi yang sangat berbahaya ini. Namun, militer Israel bersikeras bahwa Hassan adalah target yang sah dan menuduhnya menggunakan keluarganya sebagai tameng manusia. Ketua Parlemen Nabih Berri, sekutu Hizbullah, menyerukan para sponsor negosiasi untuk bertanggung jawab sebelum terlambat.
Bagi Indonesia, konflik ini memiliki implikasi langsung terhadap stabilitas kawasan dan harga minyak dunia. Sebagai negara dengan populasi Muslim terbesar, Indonesia juga memiliki kepentingan moral dan politik untuk mendorong perdamaian di Timur Tengah. Serangan ini dapat memicu gelombang protes di dalam negeri dan meningkatkan tekanan pada pemerintah untuk bersuara lebih keras. Selain itu, ketidakstabilan di kawasan dapat mengganggu pasokan energi global, yang berdampak pada harga BBM dan inflasi di Indonesia.
Juru bicara Netanyahu, Doron Spielman, menyatakan bahwa serangan ini justru akan memacu perundingan agar lebih serius, bukan sebaliknya. Namun, Hizbullah menolak tudingan tersebut dan menegaskan akan membalas dengan tepat. Kelompok itu juga mendesak otoritas Lebanon untuk meninggalkan jalur negosiasi langsung yang dianggap memalukan. Sementara itu, Menteri Pertahanan Israel Israel Katz berjanji mempertahankan pasukan di zona keamanan, meskipun pejabat Departemen Luar Negeri AS menegaskan bahwa kehadiran militer permanen tidak sesuai dengan komitmen kerangka kerja.
Dengan putaran negosiasi yang akan datang, pertanyaannya adalah: mampukah kedua belah pihak menahan diri dan kembali ke meja perundingan, atau justru eskalasi ini akan menjerumuskan kawasan ke dalam konflik yang lebih luas? Jawabannya akan menentukan nasib ribuan warga sipil yang terjebak di tengah baku tembak, dan juga mempengaruhi dinamika geopolitik yang lebih besar, termasuk bagi Indonesia yang berkepentingan menjaga stabilitas dan perdamaian dunia.



