Gagal Tes Medis di AC Milan, Jean-Philippe Mateta Bersyukur: Cedera Lututnya Lebih Parah dari yang Diberitahu
Baca dalam 60 detik
- Penyerang Crystal Palace, Jean-Philippe Mateta, mengaku beruntung gagal tes medis di AC Milan karena mengungkap cedera lutut yang lebih serius dari diagnosis awal.
- Keputusan Milan untuk membatalkan transfer senilai โฌ35 juta pada Januari lalu justru menjadi titik balik karier Mateta, yang kemudian menjalani perawatan intensif.
- Mateta kini menatap Piala Dunia 2026 bersama Timnas Prancis setelah masa pemulihan lima minggu, berkat ketelitian dokter Milan.

Jean-Philippe Mateta, penyerang Crystal Palace, justru berterima kasih kepada AC Milan atas kegagalan tes medisnya pada Januari lalu. Pasalnya, pemeriksaan yang dilakukan dokter klub Italia itu mengungkap bahwa cedera lututnya jauh lebih serius daripada yang selama ini ia ketahui. "Beruntung, mereka menemukan apa yang sebenarnya salah," ujarnya dalam sebuah wawancara dengan Canal+ Foot, seperti dikutip Football Italia.
Transfer Mateta ke San Siro dengan nilai โฌ35 juta batal di menit-menit akhir setelah tes medis menunjukkan masalah pada meniskus lutut kanannya. Awalnya, pemain berusia 29 tahun itu kecewa, namun kini ia menilai kegagalan tersebut sebagai momen penting dalam kariernya. "Saya sedang menjalani pemeriksaan dan tiba-tiba semuanya berhenti. Cedera lutut saya ternyata lebih serius dari yang diberitahu," kenangnya.
Perbedaan penanganan medis antara kedua klub menjadi sorotan. Dokter Milan menilai Mateta memerlukan operasi lanjutan, sementara Crystal Palace yakin terapi dan manajemen beban latihan sudah cukup. Mantan manajer Palace, Oliver Glasner, bahkan menyebut kegagalan tes medis itu "bukan kejutan besar" karena pemainnya telah bermain dengan lutut bengkak selama dua setengah bulan. "Kami tahu dan dia tahu ada masalah di lututnya," kata Glasner.
Keputusan untuk tidak menjalani operasi ternyata tepat. Mateta menjalani istirahat total dan perawatan selama lima minggu, yang memungkinkannya pulih dan siap membela Timnas Prancis di Piala Dunia 2026. Pengalaman ini menjadi pelajaran berharga tentang pentingnya diagnosis yang akurat dalam sepak bola modern, di mana tekanan untuk tampil sering kali menutupi kondisi fisik yang sebenarnya.
Kisah Mateta menyoroti dilema yang sering dihadapi pemain profesional: antara mengikuti keinginan klub untuk terus bermain atau mendengarkan sinyal bahaya dari tubuh sendiri. Di Indonesia, fenomena serupa kerap terjadi, terutama di kompetisi domestik yang padat jadwal. Banyak pemain yang memaksakan diri bermain dengan cedera demi memenuhi target tim, yang justru berujung pada cedera berkepanjangan.
Para ahli kesehatan olahraga di Tanah Air menekankan pentingnya pemeriksaan medis yang menyeluruh sebelum transfer, seperti yang dilakukan Milan. "Tes medis yang ketat bukan hanya formalitas, melainkan perlindungan bagi pemain dan klub," ujar seorang dokter spesialis kedokteran olahraga yang enggan disebut namanya. Ia menambahkan bahwa manajemen cedera yang baik harus mengutamakan kesehatan jangka panjang pemain, bukan hanya kepentingan sesaat.
Ke depan, kasus Mateta bisa menjadi preseden bagi klub-klub di Indonesia untuk lebih berhati-hati dalam menilai kondisi fisik pemain sebelum merekrut. Apakah kegagalan tes medis akan dianggap sebagai risiko yang harus dihindari, atau justru sebagai peluang untuk mendapatkan pemain dengan harga lebih murah? Yang jelas, kesehatan pemain harus tetap menjadi prioritas utama.



