Presiden Korsel Tawarkan Dialog Akhiri Perang dengan Korut: Peluang atau Sekadar Manuver?
Baca dalam 60 detik
- Lee Jae Myung mengusulkan perundingan resmi untuk mengakhiri status perang teknis yang masih berlaku di Semenanjung Korea sejak 1953.
- Tawaran ini muncul di tengah eskalasi uji coba rudal Korut dan latihan militer gabungan AS-Korsel, menandai perubahan pendekatan Seoul dari sikap keras pendahulunya.
- Jika terealisasi, dialog ini bisa membuka babak baru diplomasi kawasan, namun respons Pyongyang yang skeptis menjadi ujian terbesar.

Presiden Korea Selatan, Lee Jae Myung, mengajukan proposal perundingan langsung dengan Korea Utara untuk secara resmi mengakhiri perang yang secara teknis masih berlangsung sejak 1953. Dalam pidato peringatan Hari Pembebasan, ia menyerukan penghentian saling ancaman dan pembahasan damai sebagai pihak yang berkonflik. Langkah ini menjadi sinyal perubahan pendekatan Seoul yang sebelumnya lebih agresif di bawah kepemimpinan pendahulunya.
Lee menawarkan konsep "sistem keamanan berlapis" untuk meredam ketegangan di Zona Demiliterisasi (DMZ) dan membuka ruang diskusi praktis guna menghentikan program nuklir Pyongyang. Tawaran ini muncul di tengah meningkatnya frekuensi uji coba rudal balistik Korea Utara yang dianggap sebagai upaya intimidasi terhadap Seoul dan Tokyo. Sejak gencatan senjata 1953, kedua negara belum menandatangani perjanjian damai, sehingga status konflik mereka tetap membeku namun rawan memanas sewaktu-waktu.
Langkah Lee ini kontras dengan kebijakan Yoon Suk Yeol yang digulingkan tahun lalu. Yoon dikenal dengan sikap keras terhadap Pyongyang dan Beijing, sementara Lee berusaha mencairkan hubungan yang sempat membeku. Namun, tawaran ini bukan tanpa hambatan. Korea Utara belum memberikan respons resmi, dan sebelumnya Pyongyang kerap menolak ajakan serupa, bahkan mengecam kerja sama militer AS-Korsel termasuk rencana pembangunan kapal selam nuklir untuk Seoul.
Di sisi lain, pemimpin Korea Utara, Kim Jong Un, pada Januari 2024 telah menyatakan penyatuan dengan Selatan tidak mungkin lagi dan menginstruksikan amandemen konstitusi untuk menetapkan Seoul sebagai "musuh utama". Sikap ini menunjukkan bahwa meskipun ada tawaran dialog, Pyongyang masih berpegang pada retorika konfrontatif. Korea Utara juga telah mendeklarasikan diri sebagai negara nuklir pada 2022 dan diperkirakan memiliki puluhan hulu ledak, dengan produksi tahunan 15-20 unit menurut klaim Lee.
Bagi Indonesia, dinamika Semenanjung Korea memiliki implikasi strategis. Sebagai negara yang pernah terlibat dalam misi perdamaian PBB di Korea, Indonesia berkepentingan terhadap stabilitas kawasan Asia Timur. Eskalasi konflik dapat mengganggu rantai pasok global dan memicu ketidakpastian ekonomi, mengingat Korea Selatan adalah mitra dagang utama Indonesia. Selain itu, pendekatan dialog yang ditawarkan Lee sejalan dengan prinsip politik luar negeri bebas aktif yang kerap didorong Indonesia dalam forum regional.
Menariknya, Lee sebelumnya menyatakan dukungannya terhadap kesepakatan antara Donald Trump dan Kim Jong Un untuk membekukan produksi nuklir. Trump, satu-satunya pemimpin Barat yang pernah bertemu Kim, pada Agustus lalu mengisyaratkan keinginan bertemu lagi jika kondisinya memungkinkan. Namun, fokus Trump saat ini lebih tertuju pada kawasan lain, sehingga peran AS dalam proses ini masih belum jelas.
Langkah Lee ini bisa menjadi titik balik jika Pyongyang merespons positif, tetapi sejarah menunjukkan tawaran serupa sering berakhir tanpa hasil. Pertanyaannya, apakah Korea Utara akan melihat ini sebagai peluang untuk meredakan sanksi internasional atau justru memanfaatkannya untuk mengulur waktu? Sementara itu, uji coba rudal yang terus berlanjut mengindikasikan bahwa Pyongyang belum menunjukkan itikad baik. Masa depan dialog ini akan sangat bergantung pada apakah Lee mampu meyakinkan Kim bahwa ada keuntungan nyata di balik meja perundingan.



