Cristian Romero Resmi ke Atletico Madrid: Tottenham Terima Rp 700 Miliar, Bek Argentina Akhiri Lima Musim
Baca dalam 60 detik
- Bek timnas Argentina berusia 28 tahun itu menandatangani kontrak lima tahun di Wanda Metropolitano setelah Tottenham menyetujui nilai transfer sekitar 34,2 juta poundsterling.
- Kesepakatan ini mengakhiri spekulasi panjang yang juga melibatkan Inter Milan dan Arsenal, dengan Spurs tetap memegang klausul penjualan kembali sebesar 15 persen.
- Kepergian Romero menjadi sinyal perombakan besar di lini belakang Tottenham, yang musim lalu nyaris terdegradasi dan kini mulai membangun ulang skuad.

Tottenham Hotspur secara resmi melepas kapten sekaligus bek andalannya, Cristian Romero, ke Atletico Madrid dengan nilai transfer mencapai 34,2 juta poundsterling atau setara lebih dari Rp 700 miliar. Bek tengah asal Argentina itu menandatangani kontrak berdurasi lima tahun di Stadion Metropolitano, menutup lima musim pengabdiannya di London Utara yang diwarnai gelar juara Europa League dan kritik dari suporter.
Kesepakatan ini sebenarnya sudah tercium sejak bursa transfer musim panas dibuka. Romero memang menjadi incaran utama Los Rojiblancos, klub yang sejak lama mengagumi kualitas bek berusia 28 tahun tersebut. Selain Atletico, Inter Milan dan Arsenal sempat dikaitkan, namun sang pemain dikabarkan lebih memilih pindah ke Spanyol. Spurs sendiri tidak banyak menghalangi kepergiannya, dengan syarat ada tawaran yang sesuai.
Dalam kesepakatan tersebut, Tottenham masih menyimpan klausul penjualan kembali sebesar 15 persen. Artinya, jika suatu saat Atletico menjual Romero, Spurs berhak mendapatkan bagian dari keuntungan transfer. Langkah ini dinilai sebagai strategi cerdas manajemen klub untuk tetap memantau nilai aset jangka panjang, mengingat kontrak Romero di Tottenham seharusnya masih berlaku hingga 2029.
Perjalanan Romero di Tottenham tidak selalu mulus. Musim lalu, ia dua kali menerima kartu merah saat timnya berjuang menjauh dari zona degradasi Premier League. Cedera lutut juga memaksanya absen di akhir musim. Yang paling memicu kritik adalah momen ketika ia tampak lebih memilih menonton final liga Argentina antara klub masa kecilnya, Belgrano, melawan River Plate, daripada hadir di laga krusial Tottenham melawan Everton. Meski akhirnya ia tetap datang ke stadion, insiden itu meninggalkan luka di hati sebagian suporter.
Di sisi lain, Romero juga punya kontribusi besar. Ia menjadi kapten yang memimpin Tottenham memutus puasa gelar selama 17 tahun dengan menjuarai Europa League. Dalam perpisahannya melalui Instagram, ia menuliskan pesan emosional, menyebut Tottenham sebagai rumah dan tempat ia membangun mimpi bersama keluarga. "Saya pergi dengan hati penuh kenangan dan kebanggaan atas apa yang kami raih bersama," tulisnya.
Analis sepak bola menilai kepergian Romero adalah langkah yang tepat bagi kedua belah pihak. "Pada hari terbaiknya, dia adalah salah satu bek tengah terbaik dunia, tetapi penampilan gemilangnya lebih sering terjadi saat membela tim nasional. Terlalu sering bermain untuk Spurs terasa seperti beban," ujar seorang pengamat yang enggan disebut namanya. Ia juga menyoroti kebiasaan Romero mengkritik manajemen klub di depan publik, yang dinilai tidak profesional.
Bagi Atletico Madrid, kedatangan Romero diharapkan mampu memperkokoh lini pertahanan yang musim lalu tampil kurang konsisten. Pelatih Diego Simeone dikenal gemar memiliki bek agresif dan bermental juara, karakter yang melekat pada Romero. Namun, tantangan terbesarnya adalah menjaga disiplin dan menghindari kartu merah yang kerap menghantuinya.
Di Indonesia, kabar ini menarik perhatian para penggemar sepak bola yang mengikuti Liga Inggris dan La Liga. Banyak yang menilai Romero akan menjadi tambahan berharga bagi Atletico, sekaligus membuka peluang bagi bek muda Tottenham untuk naik kelas. Pertanyaannya, akankah Spurs mampu menggantikan sosok pemimpin seperti Romero, atau justru akan semakin terpuruk di musim depan?



