Courteney Cox Perjuangkan 8 Tahun Film True Crime 'Evil Genius' di Tengah Pandemi dan Mogok Kerja Hollywood
Baca dalam 60 detik
- Courteney Cox menghabiskan delapan tahun untuk mewujudkan film 'Evil Genius' yang diadaptasi dari kasus kriminal terkenal 'pizza bomber' tahun 2003.
- Proyek ini melewati berbagai rintangan termasuk lockdown COVID-19 dan dua kali mogok kerja industri hiburan Amerika.
- Film yang dibintangi Patricia Arquette dan David Harbour ini telah tayang perdana di Festival Film Internasional Toronto dan menjadi penanda kembalinya Cox sebagai sutradara setelah 12 tahun.

Aktris senior Courteney Cox mengungkapkan bahwa ia memerlukan waktu delapan tahun untuk merealisasikan film berjudul 'Evil Genius', sebuah proyek ambisius yang sempat tertunda akibat pandemi dan aksi mogok kerja di Hollywood. Film bergenre thriller komedi gelap ini akhirnya menjalani premiere dunia di Toronto International Film Festival (TIFF) pada bulan ini, menandai kembalinya Cox ke kursi sutradara setelah 12 tahun sejak 'Just Before I Go'.
Bagi Cox, ketekunan bukan hal baru. Ia dikenal publik global melalui perannya sebagai Monica Geller dalam sitkom legendaris 'Friends' selama satu dekade, kemudian membintangi 'Cougar Town' selama enam musim, dan tampil dalam tujuh film franchise 'Scream'. Pola kariernya menunjukkan komitmen jangka panjang pada setiap proyek yang digelutinya. "Saya sangat menyukai hal-hal yang bertahan lama. Jika saya menyukai sesuatu, saya ingin itu berlangsung lama," ujarnya kepada People, seperti dikutip dalam wawancara eksklusif.
Film ini diinspirasi oleh kasus kriminal nyata yang menggemparkan Amerika Serikat pada 2003, melibatkan seorang pengantar pizza bernama Brian Wells yang tewas setelah bom yang dikalungkan di lehernya meledak usai melakukan perampokan bank di Erie, Pennsylvania. Cox tertarik mendalami kasus tersebut setelah menonton serial dokumenter Netflix berjudul 'Evil Genius' pada 2018. Ia merasa terpanggil untuk memahami psikologi para pelaku di balik plot kriminal yang rumit dan tampak sia-sia itu.
Dalam film ini, fokus cerita sebagian besar menyoroti hubungan antara Marjorie Diehl-Armstrong, yang diperankan Patricia Arquette, dan Bill Rothstein, yang diperankan David Harbour. Cox mengaku proses penyutradaraan ansambel ini sebagai pengalaman luar biasa. "Saya memiliki aktor-aktor yang sangat berbakat. Patricia Arquette, David Harbour... ansambel terbaik yang bisa dibayangkan. Saya juga didukung sinematografer dan editor hebat. Semuanya berjalan indah," tuturnya.
"Saya harus membuat film ini. Saya tidak akan melepaskannya. Saya berjuang dan berjuang melewati semua rintangan," kata Cox menggambarkan kegigihannya.
Selain para bintang utama, film ini juga menampilkan Michael Chernus, Garret Dillahunt, Danielle Macdonald, dan putri Cox sendiri, Coco Arquette, dalam peran kecil. Coco, yang merupakan anak dari pernikahannya dengan David Arquette, disebut Cox sebagai aktris serius yang telah menempuh pendidikan di William Esper Studio. "Saya tidak sabar untuk benar-benar menyutradarainya saat saya punya banyak waktu," tambahnya.
Karier Cox di dunia hiburan memang telah melewati berbagai era. Nama besarnya melekat kuat sebagai Monica di 'Friends' yang tayang 1994โ2004, serta sebagai reporter Gale Weathers di franchise 'Scream'. Kini, di usia 62 tahun, ia juga mengembangkan bisnis perawatan rumah dan wewangian mewah bernama Homecourt yang diluncurkan pada 2022.
Bagi industri film Indonesia, kisah perjuangan Cox ini bisa menjadi cermin tentang pentingnya ketahanan kreatif di tengah ketidakpastian global. Pandemi dan mogok kerja Hollywood sempat melumpuhkan produksi, namun semangat untuk terus berkarya tetap relevan, terutama di pasar seperti Indonesia yang tengah bangkit pascapandemi. Film 'Evil Genius' juga menegaskan bahwa genre true crime masih memiliki daya tarik besar bagi penonton global, termasuk di Asia Tenggara, di mana minat terhadap dokumenter kriminal dan thriller psikologis terus meningkat.
Dengan premiere di TIFF, 'Evil Genius' kini menanti jadwal rilis komersial. Akankah film ini mampu menyedot perhatian penonton internasional seperti halnya dokumenter Netflix yang menginspirasinya? Atau justru membuka babak baru bagi Cox sebagai sutradara yang serius menangani narasi kriminal kompleks? Waktu yang akan menjawab, tetapi satu hal yang pasti: Cox tidak pernah setengah hati pada proyek yang ia cintai.



