Stephen Graham Nyaris Tinggalkan Dunia Akting, Kini Raih Golden Globe
Baca dalam 60 detik
- Stephen Graham mengaku hampir beralih profesi menjadi pekerja sosial setelah sembilan bulan tanpa tawaran peran pasca film This Is England.
- Setelah bertahan, ia membangun karier stabil dan kini meraih Golden Globe untuk penampilannya di serial Adolescence.
- Kisah Graham menyoroti realitas industri hiburan yang tidak stabil, relevan bagi pekerja kreatif di Indonesia yang menghadapi tantangan serupa.

Aktor asal Inggris Stephen Graham mengungkapkan bahwa ia pernah berada di ambang meninggalkan dunia akting setelah sembilan bulan menganggur pasca membintangi film This Is England (2006). Dalam wawancara dengan The Sunday Times, pria berusia 53 tahun itu mengaku sempat berencana beralih profesi menjadi pekerja sosial untuk anak-anak kurang beruntung.
"Setelah This Is England, saya tidak bekerja selama sembilan bulan dan tidak bisa mendapatkan pekerjaan. Saya hampir berhenti untuk menjadi pekerja sosial," tuturnya. Meski demikian, Graham memilih bertahan dan perlahan kembali mendapatkan peran di Hollywood, seperti Public Enemies, Pirates of the Caribbean: On Stranger Tides, dan London Boulevard.
Sejak saat itu, kariernya terus menanjak. Namanya semakin diperhitungkan berkat serial Netflix Adolescence, yang mengantarkannya meraih Golden Globe untuk kategori Best Male Actor in a Limited Series, Anthology Series, or a Motion Picture Made for Television. Graham mengaku kemenangan itu terasa tidak nyata. "Sangat sureal. Rasanya tidak nyata. Tapi itu pengalaman yang luar biasa," ujarnya dalam acara This Morning.
Kisah Graham bukan sekadar cerita sukses seorang bintang. Ia menyoroti realitas pahit industri hiburan yang sering kali tidak stabil, bahkan bagi aktor berbakat. Menurut data dari Screen Actors Guild, lebih dari 80% aktor di Inggris dan Amerika Serikat mengalami periode pengangguran panjang di awal karier. Ketidakpastian ini juga dialami banyak pekerja kreatif di Indonesia, terutama di sektor perfilman dan seni pertunjukan yang masih bergantung pada proyek jangka pendek.
Dalam konteks Indonesia, industri kreatif menyumbang sekitar 7% dari PDB nasional, namun kesejahteraan pekerja seni masih menjadi tantangan. Banyak aktor dan kru film yang harus memiliki pekerjaan sampingan untuk bertahan hidup. Kisah Graham bisa menjadi cermin bahwa ketekunan dan keberuntungan berperan besar, tetapi sistem pendukung seperti jaminan sosial dan serikat pekerja juga krusial.
"Saya merasa sangat bersyukur dengan hidup yang saya jalani. Rumah yang nyaman, keluarga yang luar biasa. Saya sering merasakan momen syukur yang mendalam," kata Graham.
Graham juga berbagi cerita ringan tentang putranya, Alfie (19), yang menyebut ayahnya sebagai satu-satunya orang yang benar-benar mencintai pekerjaannya. "Sebelum saya berangkat kerja, saya bilang, 'Semoga harimu menyenangkan, Nak.' Lalu Alfie menjawab, 'Ayah, tidak ada orang yang benar-benar mencintai pekerjaannya selain Ayah,'" kenangnya sambil tertawa.
Meski telah meraih banyak penghargaan, Graham menegaskan bahwa ia tidak pernah mengejar trofi. "Ini bukan pertandingan sepak bola. Apa yang kami lakukan bukan kompetisi. Ini subjektif, ini seni. Seni itu subjektif, artinya berbeda bagi setiap orang. Menyenangkan diakui oleh rekan-rekan, tapi bukan itu tujuan kami," tegasnya.
Ke depan, perjalanan karier Graham bisa menjadi inspirasi bagi banyak aktor muda, terutama di Indonesia, bahwa ketahanan mental dan keberanian untuk terus mencoba adalah kunci. Namun, pertanyaan besarnya: apakah industri hiburan global, termasuk Indonesia, siap memberikan kesejahteraan yang layak bagi para pekerjanya, ataukah kisah seperti Graham hanya menjadi pengecualian yang jarang terjadi?



