Sanewashing Trump: Ketika Media Justru Menutupi Kebingungan Calon Presiden
Baca dalam 60 detik
- Analisis terhadap dua pidato Trump menunjukkan media lebih fokus pada bagian yang koheren, mengabaikan jawaban kacau soal childcare.
- Fenomena 'sanewashing' dinilai dapat menyesatkan publik tentang kapasitas kognitif seorang pemimpin, terutama di tengah sorotan terhadap usia Biden.
- Meski demikian, penelitian ini menegaskan bahwa penyaringan informasi adalah bagian tak terhindarkan dari jurnalisme, asalkan tidak mengorbankan substansi.

Pada 5 September 2024, Donald Trump kembali menjadi sorotan setelah memberikan jawaban kacau selama 374 kata saat ditanya tentang rencana membuat biaya penitipan anak lebih terjangkau. Alih-alih menjawab, ia malah berbicara tentang pajak impor dan Senator Marco Rubio. Namun, yang lebih menarik adalah bagaimana media justru mengabaikan momen tersebut dan lebih memilih menyoroti bagian pidato yang tersusun rapi.
Fenomena ini dikenal sebagai 'sanewashing', sebuah istilah yang menggambarkan kecenderungan jurnalis untuk hanya menampilkan sisi koheren dari pernyataan seorang tokoh, sambil mengesampingkan bagian yang tidak masuk akal. Dalam kasus Trump, banyak pengamat menilai praktik ini membuatnya tampak lebih 'normal' daripada yang sebenarnya, terutama ketika dibandingkan dengan sorotan tajam terhadap kondisi mental Joe Biden yang akhirnya mundur dari pencalonan.
Penelitian terbaru yang dilakukan oleh tim akademisi mencoba menguji klaim tersebut dengan menganalisis dua pidato Trump yang banyak diberitakan: pidato ekonomi di New York dan kampanye di Latrobe, Pennsylvania. Mereka memeriksa ratusan artikel dari media arus utama dan daring, lalu menemukan bahwa jurnalis memang cenderung memilih topik tertentu dan mengabaikan bagian yang dianggap tidak relevan, seperti jawaban kacau tentang childcare atau lelucon vulgar tentang Arnold Palmer.
Menariknya, media daring lebih berani menggunakan kata-kata seperti 'aneh' atau 'gila', sementara media tradisional seperti The New York Times memilih diksi yang lebih netral seperti 'berbelit-belit' atau 'tidak konsisten'. Hal ini menunjukkan adanya tekanan untuk menjaga imparsialitas, yang justru bisa membuat publik tidak melihat gambaran utuh tentang kapasitas seorang pemimpin.
Namun, apakah sanewashing selalu buruk? Para peneliti berpendapat bahwa ini adalah konsekuensi alami dari proses editorial, di mana jurnalis harus memilah informasi yang paling relevan. Dalam kasus Trump, fokus pada kebijakan seperti komisi efisiensi yang diusulkan Elon Muskโyang kemudian menjadi DOGEโmemang lebih penting daripada jawaban kacau soal childcare. Namun, mereka juga mengingatkan agar jurnalis tidak mengabaikan tanda-tanda kebingungan yang bisa berdampak pada pengambilan keputusan.
Bagi Indonesia, fenomena ini relevan dalam menyikapi pemberitaan politik, terutama menjelang pemilu. Masyarakat perlu kritis terhadap cara media membingkai pernyataan calon pemimpin, dan media perlu menjaga keseimbangan antara menyampaikan fakta dan tidak terjebak dalam sensasi. Pertanyaannya, apakah jurnalis Indonesia juga rentan melakukan sanewashing terhadap tokoh politik tertentu?



