Video Aktor India dengan Gibbon Langka Picu Investigasi Perdagangan Satwa Liar
Baca dalam 60 detik
- Otoritas kehutanan Tamil Nadu menyelidiki asal-usul gibbon lar yang muncul dalam video aktor Vikram, menyusul dugaan pelanggaran aturan kepemilikan satwa dilindungi.
- Jejak investigasi mengarah ke Manipur, di mana delapan gibbon terdaftar pada 2020, lalu dipindahkan ke Tamil Nadu tanpa izin yang jelas dari pejabat setempat.
- Kasus ini menyoroti celah regulasi dan maraknya perdagangan satwa eksotis ilegal di India, yang berpotensi memicu penguatan pengawasan di kawasan Asia Tenggara.

Video singkat yang memperlihatkan aktor papan atas Tamil, Vikram, bermain dengan seekor gibbon lar memicu penyelidikan dari otoritas kehutanan India. Satwa yang masuk daftar terancam punah itu kini menjadi pusat perhatian karena diduga dipelihara tanpa dokumen yang sah, membuka kembali perbincangan tentang lemahnya pengawasan perdagangan satwa eksotis di kawasan Asia Selatan.
Unggahan di Instagram yang dihapus dalam hitungan jam itu memperlihatkan Vikram—yang bernama asli Kennedy John Victor—berinteraksi dengan gibbon di kediaman kerabatnya di Chennai. Dinas Kehutanan Tamil Nadu langsung bergerak, menelusuri bagaimana primata yang seharusnya hidup di hutan tropis Asia Tenggara itu bisa berada di rumah pribadi. Kepala Pengawas Satwa Liar negara bagian, Rakesh Kumar Dogra, menyatakan bahwa penyelidikan masih berfokus pada asal-usul hewan tersebut, dan belum ada kesimpulan soal dugaan perdagangan ilegal.
Jejak investigasi membentang hingga Manipur, negara bagian di timur laut India yang berbatasan dengan Myanmar. Catatan di portal PARIVESH—sistem resmi pendaftaran satwa eksotis—menunjukkan delapan gibbon lar, empat jantan dan empat betina, dideklarasikan oleh seorang warga Manipur pada 2020 dengan Malaysia sebagai negara asal. Pada Juni lalu, tiga di antaranya dipindahkan ke Perundurai, Tamil Nadu, dengan alasan adopsi. Dua bulan kemudian, sepasang gibbon kembali dipindahkan ke rumah kerabat Vikram di Chennai. Namun, dokumen izin dari Kepala Pengawas Satwa Liar Tamil Nadu untuk pemindahan tersebut tidak ditemukan.
Biro Pengendalian Kejahatan Satwa Liar (WCCB) India turut dilibatkan. Deputi Direktur Zona Selatan, Thenmozhi, menegaskan bahwa gibbon lar dilindungi oleh CITES, dan setiap penanganannya harus mengikuti aturan ketat. Ia telah meminta otoritas Chennai untuk memverifikasi dokumen dan mengambil tindakan sesuai hukum. Sementara itu, Vikram belum memberikan pernyataan resmi; juru bicaranya hanya menyebut akan mengabari media jika sang aktor bersuara.
Kasus ini bukan insiden terisolasi. India selama bertahun-tahun menjadi pasar sekaligus jalur transit perdagangan satwa liar ilegal. Manipur, yang berbatasan langsung dengan Myanmar, kerap disorot sebagai pintu masuk penyelundupan. Data bea cukai menunjukkan puluhan penyitaan reptil, burung, dan primata dari penumpang yang tiba dari Asia Tenggara. Pada Juli 2025 saja, lebih dari 350 satwa eksotis asal Bangkok disita di bandara Mumbai dan Pune. Bahkan, pada November lalu, seekor gibbon ditemukan di antara barang bawaan penumpang dari Bangkok di Bengaluru.
Bagi Indonesia, kasus ini menjadi cermin penting. Sebagai negara dengan keanekaragaman hayati tinggi dan jalur perdagangan satwa yang rawan, pengawasan terhadap pergerakan satwa eksotis perlu diperkuat. Modus yang terungkap—deklarasi legal di satu wilayah, lalu pemindahan tanpa izin—menunjukkan celah koordinasi antarlembaga yang juga berpotensi terjadi di dalam negeri. Pertanyaannya, apakah otoritas Indonesia siap menelusuri jejak digital satwa seperti yang dilakukan India melalui portal PARIVESH? Atau justru akan terus menjadi sasaran empuk jaringan perdagangan ilegal yang kian canggih?



