El Niño 'Godzilla' Cetak Rekor Suhu, Ilmuwan: Indonesia dan Amazon di Garis Depan Risiko
Baca dalam 60 detik
- Fenomena El Niño terkuat dalam catatan sejarah telah menembus ambang suhu permukaan laut Pasifik 3°C di atas rata-rata, dan masih berpotensi naik hingga 4°C.
- Pemanasan global dan variabilitas alami El Niño saling memperkuat, memicu kekeringan, kebakaran hutan, dan gangguan musim hujan di Asia Tenggara termasuk Indonesia.
- Sistem prediksi enam hingga sembilan bulan ke depan menjadi kunci mitigasi, tetapi pemangkasan emisi gas rumah kaca tetap menjadi solusi utama jangka panjang.

Fenomena iklim El Niño yang oleh sebagian ilmuwan dijuluki "Godzilla" telah memecahkan rekor suhu permukaan laut di Pasifik timur, mencapai 3°C di atas rata-rata dan berpotensi menembus 4°C sebelum puncaknya pada akhir tahun. Profesor Mat Collins, pakar dinamika El Niño Southern Oscillation dari University of Exeter, menilai peristiwa ini sebagai salah satu yang terkuat dalam seribu tahun terakhir, dengan dampak yang akan terasa jauh melampaui cekungan Pasifik.
El Niño adalah pola iklim alami yang muncul ketika perairan Pasifik timur yang biasanya dingin dan kering menghangat serta menjadi lebih basah, menggeser pola curah hujan tropis dan memicu efek berantai ke berbagai belahan dunia. Siklusnya tidak teratur, umumnya berulang setiap tiga hingga tujuh tahun, dan yang terakhir terjadi pada 2023-2024. Kemunculannya kembali dalam rentang kurang dari dua tahun memperkuat dugaan bahwa perubahan iklim buatan manusia mempercepat dan memperkuat siklus alami ini.
Menurut Collins, dua kekuatan—pemanasan global dan variabilitas alami El Niño—bekerja secara berlapis. "Jika Anda sudah mengalami kekeringan akibat pemanasan global, maka El Niño akan memperburuknya," ujarnya. Ia menambahkan bahwa memisahkan kontribusi masing-masing faktor sangat sulit karena basis suhu permukaan laut di Pasifik timur terus naik akibat perubahan iklim. Namun, kombinasi keduanya membuat cuaca ekstrem lebih mungkin terjadi.
Bagi Indonesia, implikasi El Niño sangat konkret. Pemerintah dan petani perlu bersiap menghadapi musim kemarau yang lebih panjang, risiko kebakaran hutan dan lahan di Sumatra dan Kalimantan, serta gangguan pada sektor pertanian dan ketersediaan air. Collins menyebut bahwa sistem prediksi cuaca saat ini mampu memberikan peringatan enam hingga sembilan bulan sebelum puncak El Niño, memberi ruang bagi otoritas untuk menyusun strategi mitigasi, seperti mengatur pola tanam dan memperkuat infrastruktur air.
"Kita sekarang punya sistem prakiraan yang dapat memprediksi fenomena ini dengan yakin enam hingga sembilan bulan ke depan. Jadi Anda bisa bersiap. Anda bisa memberi tahu petani di Amerika Latin untuk menanam tanaman yang berbeda. Anda bisa memperingatkan pemerintah di Asia Tenggara untuk memikirkan infrastruktur mereka dan memperkuat pertahanan terhadap kebakaran hutan." — Prof. Mat Collins
Meski demikian, Collins mengingatkan bahwa prediksi tidak serta-merta menghilangkan kerugian. Negara-negara miskin yang sudah menanggung beban perubahan iklim akan mengalami pukulan berlapis. "Ini sangat buruk bagi masyarakat, terutama di negara-negara miskin yang sudah menderita akibat perubahan iklim dan sekarang mereka mendapat peristiwa El Niño di atasnya," tegasnya. Ia menilai kerja sama internasional dalam pemantauan laut Pasifik, termasuk pengumpulan data real-time, menjadi semakin krusial untuk menjaga kapasitas peringatan dini.
Di sisi lain, wacana geoengineering—seperti modifikasi sifat awan di Pasifik timur untuk mendinginkan permukaan laut—masih jauh dari kata pasti. Collins menyebut hipotesis tersebut masuk akal tetapi sulit dibuktikan, karena panas El Niño berasal dari laut dalam. Bahkan jika suatu peristiwa berhasil dicegah dalam satu tahun, potensi kemunculannya kembali pada tahun berikutnya tetap terbuka. Ia juga menekankan bahwa pengurangan emisi gas rumah kaca tetap menjadi respons utama, sementara adaptasi dan prediksi yang akurat adalah tameng sementara yang harus dipertahankan.
Dengan tren suhu yang terus naik, Collins memperkirakan El Niño di dekade-dekade mendatang akan semakin besar dan berdampak lebih merusak. Pertanyaannya kini bukan lagi apakah Indonesia dan negara-negara rentan lainnya akan terdampak, melainkan seberapa siap mereka menghadapi gelombang panas, kekeringan, dan gangguan pangan yang akan datang lebih sering dan lebih intens.



