TNI AL dan China Selesaikan Latihan Gabungan di Timur Taiwan: Sinyal Diplomasi Maritim Baru?
Baca dalam 60 detik
- KRI I Gusti Ngurah Rai-332 dan kapal perang China Honghe menuntaskan Passex di perairan timur Taiwan, Rabu (12/8).
- Latihan ini menjadi bagian dari perjalanan pulang KRI usai mengikuti latihan bersama Rusia di Vladivostok.
- Lokasi latihan yang berada di dekat Taiwan memunculkan pertanyaan tentang posisi Indonesia di tengah rivalitas AS-China.

Angkatan Laut Indonesia dan China mengakhiri latihan pelayaran bersama di perairan timur Taiwan, Rabu (12/8), sebuah langkah yang mempertegas arah baru diplomasi maritim Jakarta di tengah ketegangan geopolitik yang meningkat. KRI I Gusti Ngurah Rai-332 dan kapal perang China Honghe dilaporkan menyelesaikan seluruh rangkaian latihan yang direncanakan, menurut keterangan resmi Kementerian Pertahanan China.
Latihan yang berlangsung di kawasan yang menghadap Samudra Pasifik dan Laut Filipina ini bukan sekadar rutinitas. Ia menjadi penanda bahwa Indonesia bersedia memperluas kerja sama keamanan dengan Beijing, bahkan di area yang secara politis sensitif. Bagi pengamat hubungan internasional, pilihan lokasi ini tidak netral—di tengah klaim-klaim rivalitas Taiwan, keterlibatan Indonesia bisa dibaca sebagai sinyal pragmatisme yang hati-hati.
Materi latihan mencakup komunikasi taktis, manuver formasi, pengisian perbekalan di laut, hingga upacara pemisahan formasi. Kedua kapal menggunakan kode sinyal dan bahasa bendera untuk berkoordinasi, menunjukkan bahwa meski baru pertama kali, prosedur standar dapat dijalankan dengan baik. Keberhasilan ini, menurut pernyataan resmi China, merefleksikan "keinginan positif" kedua pihak untuk menjaga stabilitas kawasan.
Kepala Dinas Penerangan TNI AL, Laksamana Pertama Tunggul, menegaskan bahwa latihan ini adalah bentuk "goodwill engagement" yang lazim dilakukan angkatan laut dunia. Ia menyebutnya sebagai wujud persaudaraan antarmiliter dan diplomasi maritim. Menurutnya, kegiatan semacam ini sejalan dengan politik luar negeri Indonesia yang bebas aktif, membuka peluang kerja sama dengan siapa pun tanpa terikat blok tertentu.
Namun, pilihan lokasi latihan—di timur Taiwan—menimbulkan pertanyaan di kalangan analis. Meski TNI AL menekankan bahwa area tersebut bukan bagian dari Laut China Selatan, kedekatannya dengan Taiwan membuat latihan ini berpotensi memicu reaksi dari pihak-pihak yang berkepentingan. Sejumlah pengamat menilai Indonesia tengah berjalan di tali tipis: menjaga hubungan baik dengan China untuk kepentingan ekonomi, sambil tetap mempertahankan kredibilitas sebagai negara yang netral.
Bagi Indonesia, latihan ini juga menjadi ajang uji interoperabilitas dengan kekuatan asing. Setelah sebelumnya berlatih dengan Rusia, kini dengan China, TNI AL menunjukkan fleksibilitasnya. Ini bisa menjadi nilai tawar bagi Jakarta dalam hubungan pertahanan dengan negara-negara besar, sekaligus memperkaya pengalaman tempur personelnya.
"Passex adalah goodwill engagement yang umum dilakukan angkatan laut dunia sebagai wujud naval brotherhood serta diplomasi maritim yang melekat pada kapal perang," ujar Laksamana Pertama Tunggul.
Ke depan, publik akan mencermati apakah latihan serupa akan diulang di lokasi lain yang lebih sensitif, seperti dekat Kepulauan Senkaku atau Laut China Selatan. Pertanyaannya, sejauh mana Indonesia bersedia melangkah dalam kerja sama militer dengan China tanpa mengorbankan posisinya sebagai negara yang dijunjung tinggi netralitasnya? Jawabannya akan menentukan arah kebijakan luar negeri Indonesia di bawah tekanan geopolitik yang kian kompleks.



