Jam Malam Timnas Inggris Dihapus Lagi: Kebijakan yang Goyah atau Kematangan Baru?
Baca dalam 60 detik
- Kebijakan jam malam untuk pemain kriket Inggris dicabut lagi, menandai perubahan sikap yang cepat di tengah tekanan performa.
- Langkah ini diambil setelah serangkaian pelanggaran dan kekalahan, memicu pertanyaan tentang konsistensi manajemen tim.
- Keputusan ini bisa berdampak pada budaya tim dan hasil pertandingan, terutama menjelang seri penting melawan Pakistan dan seterusnya.

Joe Root, kapten tim kriket Inggris, kembali mengambil alih kendali dan langsung mencabut kebijakan jam malam yang baru saja diberlakukan tujuh bulan lalu. Keputusan ini, yang diumumkan pada Rabu (8/10/2025), menjadi sinyal bahwa pendekatan terhadap disiplin pemain sedang dirombak total. Namun, di balik itu, ada pertanyaan besar: apakah ini bentuk kepercayaan atau justru kekacauan manajemen?
Kebijakan jam malam sebenarnya bukan hal baru bagi Inggris. Pada 2017, saat Root pertama kali menjadi kapten, aturan serupa diterapkan menjelang tur Ashes di Australia. Saat itu, serangkaian insiden—mulai dari 'headbutt' Jonny Bairstow hingga tumpahan minuman oleh Ben Duckett—memaksa Inggris memberlakukan batas waktu ketat. Aturan itu bertahan hingga 2022, sebelum akhirnya dihapus. Kini, setelah serangkaian kekalahan dan pelanggaran, jam malam sempat kembali diberlakukan pada Januari lalu, namun kini dicabut lagi oleh Root dan pelatih baru Stephen Fleming.
Keputusan ini tidak lepas dari konteks performa tim yang memprihatinkan. Inggris hanya memenangkan dua dari sepuluh Test terakhir mereka. Kekalahan demi kekalahan, termasuk dalam Ashes baru-baru ini, telah merusak reputasi tim. Direktur kriket Rob Key bahkan sempat mengusulkan larangan total alkohol setelah kapten Ben Stokes dan Gus Atkinson melanggar jam malam pada Juni lalu. Namun, usulan itu tidak pernah terwujud, dan kini kebijakan justru dilonggarkan.
Menurut Root, memperlakukan pemain sebagai orang dewasa adalah kunci untuk membangun tanggung jawab di lapangan. "Jika Anda ingin pemain bertanggung jawab di lapangan, mereka harus merasa bisa menjadi orang dewasa di luar lapangan dan membuat keputusan yang baik," ujarnya. Pandangan ini didukung oleh Fleming, yang dianggap sebagai sosok dewasa oleh England and Wales Cricket Board (ECB). Fleming, yang merupakan teman dekat McCullum, diharapkan membawa kestabilan setelah periode yang penuh gejolak.
Namun, kebijakan yang berubah-ubah ini justru memicu kritik. Banyak yang menilai bahwa Inggris tidak konsisten dalam menegakkan aturan. Sebelumnya, McCullum sempat mengakui adanya 'ambiguitas' dalam regulasi, dan kini aturan itu dihapus total. Pertanyaannya, apakah ini akan menciptakan lingkungan yang lebih baik atau justru memperparah masalah? Sejarah menunjukkan bahwa ketika Inggris menang, kebiasaan minum-minum dianggap wajar—seperti saat perayaan kemenangan Ashes 2005 yang dipimpin Andrew Flintoff. Namun, ketika kalah, hal yang sama menjadi sorotan negatif.
Bagi Indonesia, kebijakan ini mungkin tampak jauh, tetapi ada pelajaran yang bisa diambil. Dalam olahraga apa pun, keseimbangan antara disiplin dan kepercayaan adalah kunci. Tim nasional Indonesia, baik di sepak bola maupun cabang lain, sering menghadapi dilema serupa: seberapa ketat aturan yang harus diterapkan tanpa membunuh kreativitas pemain? Kasus Inggris menunjukkan bahwa perubahan kebijakan yang terlalu sering justru bisa menggoyahkan mental tim. Konsistensi, baik dalam aturan maupun penegakannya, adalah fondasi untuk membangun budaya pemenang.
Ke depan, Inggris menghadapi jadwal berat: tiga Test melawan Pakistan, tur ke Afrika Selatan, Ashes di kandang, dan lima Test di India pada 2028. Pertanyaannya, apakah penghapusan jam malam ini akan meningkatkan performa mereka? Atau justru menjadi bumerang? Hanya waktu yang bisa menjawab, tetapi satu hal yang pasti: Inggris harus segera menemukan formula yang tepat, baik di dalam maupun di luar lapangan, jika ingin kembali ke puncak.



