Hamas Siap Ikut Pemilu Palestina Akhir Tahun: Peluang atau Perpecahan Baru?
Baca dalam 60 detik
- Hamas menyatakan kesediaannya berpartisipasi dalam pemilu legislatif Palestina yang dijadwalkan akhir tahun ini, menandai perubahan sikap setelah dua dekade memboikot proses politik.
- Langkah ini berpotensi mengakhiri kebuntuan politik sejak 2007, namun juga memicu ketegangan dengan Fatah yang menguasai Tepi Barat.
- Keikutsertaan Hamas dapat mengubah peta kekuatan politik dan berdampak pada upaya rekonsiliasi nasional serta dinamika geopolitik kawasan.

Hamas akhirnya membuka pintu untuk ikut serta dalam pemilihan umum Palestina yang dijadwalkan berlangsung pada akhir tahun ini. Pernyataan itu disampaikan anggota biro politik Hamas, Hussam Badran, dalam wawancara dengan Al-Aqsa TV, Rabu. Langkah ini dinilai sebagai manuver politik yang berani di tengah kebuntuan panjang sistem politik Palestina yang terpecah sejak 2007.
Badran menegaskan bahwa Hamas akan bergabung dalam koalisi nasional yang paling luas, menolak syarat politik yang membatasi peserta pemilu. Menurutnya, setiap faksi harus diberi kebebasan untuk menawarkan program politiknya masing-masing tanpa intervensi. Ia juga menyebut Komisi Pemilihan Pusat Palestina dan pengadilan tengah berupaya menjamin hak rakyat untuk memilih secara bebas.
Pernyataan ini muncul setelah Presiden Palestina Mahmoud Abbas mengumumkan jadwal pemilu legislatif pada 28 November 2026, disusul pembukaan sidang Dewan Nasional dan pemilihan presiden pada 2027. Namun, Badran mengkritik kepemimpinan Palestina yang dinilainya menetapkan waktu dan prosedur secara sepihak. Ia justru mencontohkan pemilu 2006 dan 2021 sebagai momen yang sesuai dengan konsensus nasional.
Bagi pengamat politik Timur Tengah, sikap Hamas ini bisa menjadi titik balik. Sejak 2007, Dewan Legislatif Palestina praktis lumpuh setelah Hamas mengambil alih Gaza dan Fatah menguasai Tepi Barat. Upaya rekonsiliasi yang digagas berbagai pihak kerap gagal di tengah rivalitas kedua kubu. Keikutsertaan Hamas dalam pemilu kali ini berpotensi membuka babak baru, meski banyak pihak meragukan keseriusan di balik pernyataan tersebut.
Di Indonesia, perkembangan ini menarik dicermati mengingat posisi negara sebagai pendukung konsisten perjuangan Palestina. Pemerintah Indonesia melalui Kementerian Luar Negeri selalu menyerukan persatuan Palestina dan mendukung setiap langkah menuju stabilitas politik. Jika pemilu benar-benar digelar, Indonesia berpeluang memperkuat diplomasi dengan pemerintahan baru yang terpilih, baik dari kubu Hamas maupun Fatah.
Para analis menilai pernyataan Badran sebagai upaya Hamas untuk menunjukkan diri sebagai kekuatan politik yang inklusif, terutama setelah konflik berkepanjangan dengan Israel di Gaza sejak Oktober 2023. Dengan berpartisipasi dalam pemilu, Hamas berharap dapat melegitimasi posisinya di mata internasional dan memperkuat pengaruh dalam politik nasional Palestina. Namun, tanpa jaminan keamanan dan netralitas penyelenggara, pemilu bisa menjadi ajang ketegangan baru.
Fatah sendiri belum memberikan respons resmi terhadap pernyataan Hamas. Sebelumnya, Abbas sempat menunda pemilu pada 2021 dengan alasan Israel menolak mengizinkan pemungutan suara di Yerusalem Timur. Kendala serupa berpotensi kembali muncul, mengingat situasi di lapangan masih jauh dari kondusif. Pertanyaannya, apakah pemilu akhir tahun ini akan benar-benar menjadi tonggak rekonsiliasi, atau sekadar retorika politik tanpa tindak lanjut nyata?



