Pritam Singh Dicoret dari Daftar Advokat Singapura: Konsekuensi Politik dan Hukum
Baca dalam 60 detik
- Pemimpin Partai Pekerja Singapura, Pritam Singh, resmi dicoret dari daftar pengacara setelah terbukti memberikan keterangan palsu di depan Komite Hak Istimewa.
- Keputusan ini diambil tanpa perlawanan dari Singh, yang mengakui bahwa kasusnya tidak memenuhi ambang batas untuk menghindari sanksi terberat.
- Pencoretan ini berpotensi memengaruhi karier politiknya sebagai anggota parlemen dan pemimpin oposisi, meskipun tidak secara langsung melarangnya menjabat.

Ketua Partai Pekerja (WP) Singapura, Pritam Singh, secara resmi dicoret dari daftar advokat dan pengacara oleh Pengadilan Tiga Hakim pada Kamis (13/8), sebuah keputusan yang ia terima tanpa mengajukan pembelaan. Langkah ini merupakan konsekuensi langsung dari vonisnya atas dua tuduhan memberikan keterangan palsu di bawah sumpah kepada Komite Hak Istimewa yang menyelidiki mantan anggota parlemen WP, Raeesah Khan.
Hukuman ini menandai titik nadir bagi karier hukum Singh, yang juga menjabat sebagai anggota parlemen untuk Aljunied Group Representation Constituency. Meskipun ia bukan pengacara yang aktif berpraktik, pencoretan ini memiliki implikasi simbolis yang kuat, terutama bagi seorang pemimpin oposisi yang kerap mengangkat isu integritas dan tata kelola. Keputusan ini juga menjadi preseden penting dalam penegakan kode etik profesi hukum di Singapura, di mana pelanggaran yang melibatkan ketidakjujuran hampir selalu berujung pada sanksi terberat.
Dalam sidang yang berlangsung sekitar 20 menit itu, Ketua Hakim Sundaresh Menon menegaskan bahwa tidak ada sengketa mengenai unsur ketidakjujuran yang menjadi inti dari pelanggaran Singh. Ia juga menyatakan bahwa kedua belah pihak sepakat kasus ini tidak memenuhi ambang batas tinggi untuk menghindari perintah pencoretan. Berdasarkan Undang-Undang Profesi Hukum, pengacara yang terbukti melakukan pelanggaran terkait penipuan atau ketidakjujuran wajib dikenai tindakan disipliner oleh Law Society, yang kemudian menentukan sanksi mulai dari pencoretan, skorsing hingga lima tahun, teguran, denda hingga S$100.000, atau kombinasi dari semuanya.
Pengacara Singh, Chelva Retnam Rajah, menyatakan bahwa kliennya menerima keputusan pengadilan dalam persidangan pidana dan bandingnya, serta konsekuensi yang menyertainya. "Meskipun ia kecewa dengan hasil persidangan dan bandingnya, ia selalu menghormati independensi, ketelitian, dan profesionalisme pengadilan Singapura, dan ia menerima sepenuhnya hasil tersebut," ujar Rajah. Sikap ini menunjukkan penerimaan Singh terhadap proses hukum, meskipun ia memilih untuk tidak berkomentar di depan media setelah sidang.
Di sisi lain, pengacara Law Society, Cavinder Bull, menekankan bahwa posisi Singh sebagai anggota parlemen dan pemimpin oposisi justru memperberat pelanggarannya. "Ia adalah pengacara, anggota parlemen, dan saat itu pemimpin oposisi. Berbohong kepada Komite Hak Istimewa yang menyelidiki kebohongan di parlemen adalah masalah serius," tegas Bull. Ia menambahkan bahwa tidak ada keadaan luar biasa yang dapat membebaskan Singh dari sanksi, dan Law Society tidak meminta perlakuan khusus baginya.
Konteks Indonesia: Meskipun kasus ini terjadi di Singapura, ia menawarkan pelajaran berharga bagi Indonesia, terutama dalam hal penegakan kode etik profesi dan akuntabilitas publik. Di Indonesia, kasus-kasus serupa yang melibatkan pejabat publik yang juga berprofesi sebagai pengacara sering kali menjadi sorotan, namun proses disiplinernya tidak selalu setransparan dan seketat di Singapura. Keputusan ini dapat menjadi referensi bagi penguatan integritas profesi hukum di Indonesia, di mana advokat yang terbukti melakukan pelanggaran etika berat seharusnya menghadapi konsekuensi yang setimpal tanpa memandang jabatan politik mereka.
Lebih jauh, pencoretan ini menimbulkan pertanyaan tentang masa depan politik Singh. Meskipun ia masih dapat mempertahankan kursi parlemennya, reputasinya sebagai pemimpin oposisi yang bersih telah ternoda. Bagaimana ia akan memimpin partainya dalam menghadapi pemilu berikutnya, dan apakah langkah ini akan memicu perombakan internal di tubuh Partai Pekerja, masih menjadi tanda tanya. Apakah publik Singapura akan tetap memberikan kepercayaan kepada seorang pemimpin yang telah terbukti berbohong di bawah sumpah, atau justru ini menjadi momentum bagi munculnya kepemimpinan baru yang lebih bersih?



