Kapolri Resmikan 874 Jembatan Gantung, Akses 2 Juta Warga Terbuka
Baca dalam 60 detik
- Polri menuntaskan pembangunan 874 jembatan gantung di 30 Polda, menembus isolasi geografis bagi dua juta penduduk.
- Polda Banten menjadi penerima terbanyak dengan 145 unit, menyumbang akses bagi separuh juta jiwa di 203 desa.
- Program ini sejalan dengan target pemerintah membangun 5.000 jembatan desa hingga akhir 2026, menandai percepatan infrastruktur pedesaan.

Jenderal Listyo Sigit Prabowo, Kapolri, meresmikan Jembatan Gantung Merah Putih di Desa Bayah Barat, Kabupaten Lebak, Banten, Kamis (12/2). Peresmian ini menandai tuntasnya pembangunan 874 jembatan gantung yang tersebar di 30 Polda, sebuah langkah yang diproyeksikan mempermudah mobilitas dan menggerakkan roda ekonomi bagi sekitar dua juta warga.
Dalam sambutannya yang disiarkan secara daring, Listyo menegaskan bahwa program ini merupakan wujud nyata kehadiran negara di daerah terpencil. "Kami telah merampungkan pembangunan jembatan gantung sebanyak 874 unit di 30 Polda," ujarnya. Jembatan-jembatan ini tidak hanya menghubungkan desa-desa yang selama ini terisolasi, tetapi juga menjadi urat nadi bagi anak sekolah, petani, pekerja, dan pelaku usaha kecil untuk mengakses layanan publik dan pasar.
Polda Banten mencatatkan diri sebagai wilayah dengan jumlah jembatan terbanyak, yakni 145 unit yang membentang sepanjang tiga kilometer dan menjangkau 203 desa. Manfaatnya dirasakan langsung oleh sekitar 500 ribu jiwa. Di Kecamatan Bayah, Kabupaten Lebak, keberadaan Jembatan Gantung Merah Putih sepanjang 53 meter dan lebar 1,5 meter kini menjadi lintasan utama bagi sekitar 8.000 orang setiap harinya, menggantikan penyeberangan berisiko menggunakan tali eretan.
Program ini tidak berhenti pada pembangunan fisik. Polri turut menyalurkan 1.500 paket sembako, 1.000 tas sekolah untuk jenjang SD dan SMP, serta menggelar pemeriksaan kesehatan gratis bagi 1.500 warga di Kecamatan Bayah. Langkah ini dinilai sebagai upaya holistik untuk meningkatkan kesejahteraan masyarakat, tidak hanya dari sisi infrastruktur tetapi juga kebutuhan dasar.
Tokoh masyarakat Banten Selatan, Ahmad Sarip, menyambut baik inisiatif ini. Menurutnya, jembatan gantung adalah penopang ekonomi yang telah lama didambakan. "Petani kini bisa menjual hasil bumi seperti umbi-umbian, pisang, dan buah-buahan dengan lebih mudah menggunakan sepeda motor ke pusat kecamatan," katanya. Ia juga menyoroti aspek keselamatan, di mana anak-anak yang bersekolah dan warga yang berobat tidak lagi harus menyeberang dengan cara berbahaya.
Kepala Desa Bayah Barat, Usup Suhendar, mengapresiasi sinergi antara Presiden Prabowo Subianto, Kapolri, dan Panglima TNI dalam merealisasikan jembatan ini. Ia berkomitmen untuk menjaga dan merawat infrastruktur tersebut agar manfaatnya dapat dirasakan dalam jangka panjang.
Keberhasilan program ini sejalan dengan target pemerintah membangun 5.000 jembatan desa hingga akhir 2026. Jika konsisten, dampaknya akan sangat signifikan bagi konektivitas nasional, terutama di kawasan timur Indonesia yang masih tertinggal. Pertanyaannya, apakah akselerasi ini akan diimbangi dengan pemeliharaan berkelanjutan dan integrasi dengan program ekonomi lokal? Hanya waktu yang akan membuktikan.



