IHSG Sentuh Level Tertinggi, Saham Teknologi dan AI Pimpin Penguatan
Baca dalam 60 detik
- Indeks Nikkei melonjak 1,61% ke level 68.609,92, didorong oleh reli saham teknologi dan semikonduktor.
- Data inflasi AS yang melandai dua bulan beruntun memperkuat ekspektasi The Fed menahan suku bunga, menopang sentimen pasar global.
- Penguatan bursa Tokyo berpotensi memicu aliran modal asing ke pasar Asia, termasuk Indonesia, meski investor tetap mencermati kebijakan bank sentral.

Bursa saham Tokyo mengawali perdagangan Kamis dengan lonjakan signifikan, mencatatkan kenaikan terbesar dalam sebulan terakhir. Indeks Nikkei melesat 1.085,86 poin atau 1,61 persen ke posisi 68.609,92, sementara indeks Topix yang lebih luas naik 19,77 poin atau 0,48 persen ke 4.158,77. Reli ini dipicu oleh menguatnya saham-saham berbasis kecerdasan buatan (AI) dan semikonduktor, seiring meredanya kekhawatiran inflasi setelah rilis data indeks harga konsumen (CPI) Amerika Serikat untuk Juli.
Pergerakan ini sejalan dengan tren positif di Wall Street, di mana investor semakin yakin bahwa Federal Reserve tidak akan menaikkan suku bunga pada pertemuan September mendatang. Keyakinan tersebut muncul setelah data inflasi AS menunjukkan perlambatan pertumbuhan untuk bulan kedua berturut-turut, menyusul rilis data nonfarm payrolls Juli yang lebih lemah dari perkiraan pekan lalu. Kombinasi data ini memberikan sinyal bahwa tekanan harga mulai mereda, membuka ruang bagi bank sentral untuk bersikap akomodatif.
Saham-saham unggulan seperti Advantest dan Tokyo Electron menjadi motor penggerak utama, mendorong indeks Nikkei menembus level psikologis 68.000 untuk pertama kalinya dalam sebulan. Kapitalisasi pasar yang besar dan eksposur kuat terhadap rantai pasok semikonduktor global membuat saham-saham ini sangat sensitif terhadap perubahan ekspektasi suku bunga dan prospek ekonomi global.
Di pasar valuta asing, dolar AS diperdagangkan di kisaran 159,43-44 yen pada tengah hari, relatif stabil dibandingkan posisi sebelumnya. Euro juga bergerak tipis di level $1,1522 dan 183,70-71 yen. Stabilitas nilai tukar ini mencerminkan sikap wait-and-see pelaku pasar terhadap arah kebijakan moneter AS selanjutnya.
Bagi pasar Indonesia, penguatan bursa Tokyo memberikan angin segar. Sebagai salah satu indikator utama sentimen pasar Asia, reli Nikkei dapat mendorong aliran modal asing masuk ke pasar emerging market, termasuk Indonesia. Namun, investor domestik tetap perlu mencermati perkembangan data ekonomi AS dan kebijakan The Fed, karena perubahan suku bunga global akan berdampak pada nilai tukar rupiah dan arus modal.
Ke depan, pelaku pasar akan mencermati pidato para pejabat The Fed dan data ekonomi AS lainnya untuk mengonfirmasi arah kebijakan. Jika inflasi terus melandai, bukan tidak mungkin The Fed justru mulai mempertimbangkan penurunan suku bunga pada akhir tahun. Skenario ini akan menjadi katalis positif bagi pasar saham global, termasuk Indonesia, meski tetap ada risiko jika data ekonomi menunjukkan tanda-tanda overheating.


