Putin Menginjakkan Kaki di Pulau Etorofu: Ketegangan Tokyo-Moskow Kian Memanas
Baca dalam 60 detik
- Presiden Rusia Vladimir Putin melakukan kunjungan pertamanya ke Pulau Etorofu, salah satu wilayah sengketa dengan Jepang, pada Kamis (13/8).
- Langkah ini dipandang sebagai uji coba ketahanan diplomasi Jepang yang selama ini mengklaim empat pulau tersebut sebagai Wilayah Utara yang diduduki ilegal.
- Kunjungan tersebut berpotensi memicu eskalasi diplomatik baru di kawasan Asia Timur, sekaligus menguji sikap Indonesia dan negara ASEAN lainnya terhadap sengketa teritorial.

Presiden Rusia Vladimir Putin dilaporkan mengunjungi Pulau Etorofu pada Kamis (13/8), menandai kunjungan pertamanya ke gugusan pulau yang diklaim Jepang sebagai Wilayah Utara. Langkah ini langsung memicu reaksi keras dari Tokyo dan menambah daftar panjang ketegangan diplomatik antara kedua negara yang telah berlangsung puluhan tahun.
Kunjungan yang diberitakan oleh kantor berita Tass ini terjadi di tengah situasi geopolitik yang rapuh. Jepang secara konsisten menyatakan bahwa empat pulauโEtorofu, Kunashiri, Shikotan, dan gugusan Habomaiโdiambil secara ilegal oleh Uni Soviet tak lama setelah Jepang menyerah pada Perang Dunia II, tepatnya 15 Agustus 1945. Sementara itu, Moskow menyebut kawasan tersebut sebagai Kuril Selatan dan menganggap pengambilannya sah secara historis.
Bagi Jepang, kunjungan Putin bukan sekadar seremoni belaka. Ini adalah simbol penolakan Rusia terhadap klaim teritorial Jepang, sekaligus ujian bagi pemerintahan Perdana Menteri yang sedang berupaya menyeimbangkan hubungan dengan Barat dan tetangganya yang agresif. Para analis menilai langkah Putin ini disengaja untuk menunjukkan bahwa Moskow tidak akan mundur di tengah tekanan sanksi internasional.
Dampaknya tidak berhenti di kawasan bilateral. Indonesia, sebagai negara yang kerap menyerukan penyelesaian damai sengketa teritorial, berada dalam posisi yang rumit. Di satu sisi, Jakarta memiliki hubungan ekonomi yang erat dengan Jepang; di sisi lain, Rusia adalah mitra strategis dalam forum multilateral seperti BRICS. Sikap Indonesia terhadap kunjungan ini akan diawasi ketat oleh kedua kubu.
Sejumlah pengamat hubungan internasional memperkirakan bahwa kunjungan ini akan mempersulit perundingan perjanjian damai antara Jepang dan Rusia yang telah mandek sejak era Perang Dingin. Jepang selama ini mengaitkan penandatanganan perjanjian damai dengan penyelesaian sengketa teritorial, sementara Rusia cenderung memisahkan kedua isu tersebut.
Di tengah dinamika ini, Indonesia perlu cermat membaca sinyal. Sebagai negara yang pernah mengalami konfrontasi dengan Malaysia soal Sipadan dan Ligitan, Jakarta memahami betapa sensitifnya isu kedaulatan. Namun, kepentingan ekonomi dan politik yang berlapis membuat Indonesia harus berjalan di atas tali, menjaga hubungan baik dengan kedua negara tanpa kehilangan prinsip.
"Kunjungan ini adalah pesan yang jelas bahwa Rusia tidak akan mengubah posisinya, apa pun tekanan yang datang," ujar seorang analis politik Asia Timur yang enggan disebut namanya.
Ke depan, pertanyaan yang menggantung adalah: akankah Jepang merespons dengan tindakan diplomatik yang lebih keras, seperti memanggil duta besar Rusia atau menjatuhkan sanksi baru? Atau justru memilih pendekatan pragmatis demi menjaga stabilitas kawasan? Bagi Indonesia, perkembangan ini menjadi pengingat bahwa sengketa teritorial bukan sekadar urusan bilateral, melainkan cermin dari pergeseran tatanan global yang semakin multipolar.



