Rupiah Tertekan Tipis ke Rp17.879, IHSG Bangkit di Tengah Spekulasi MSCI
Baca dalam 60 detik
- Nilai tukar rupiah dibuka melemah 2 poin ke Rp17.879 per dolar AS, melanjutkan tren penurunan dua hari berturut-turut.
- IHSG menguat 0,23 persen ke 6.388,23 didorong aksi beli saham terdiskon dan optimisme pencabutan status freeze emiten oleh MSCI.
- Pasar menanti kepastian negosiasi AS-Iran terkait Selat Hormuz serta pencalonan tunggal Gubernur BI yang dapat mempengaruhi arah kebijakan moneter.

Pasar keuangan Indonesia memulai perdagangan Kamis (13/8/2026) dengan arah yang berlawanan: rupiah melanjutkan pelemahan tipis ke Rp17.879 per dolar AS, sementara Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) justru menguat ke level 6.388,23. Gerak indeks yang perkasa ini terjadi di tengah spekulasi investor mengenai perubahan komposisi indeks MSCI dan harapan akan meredanya ketegangan geopolitik di Timur Tengah.
Pelemahan rupiah hari ini memang tipis, hanya 2 poin atau 0,01 persen dari posisi penutupan Rabu di Rp17.877. Namun, ini merupakan hari kedua berturut-turut mata uang Garuda tertekan; sebelumnya rupiah sudah melemah 16 poin. Pelaku pasar tampak masih gamang, menimbang sentimen global yang belum stabil, terutama terkait negosiasi antara Amerika Serikat dan Iran yang bisa memicu gejolak harga minyak dunia.
Jika ketegangan di Selat Hormuz meningkat, risiko gangguan pasokan energi akan mendorong harga minyak naik. Bagi Indonesia, importir minyak, hal ini berarti beban impor membengkak dan kebutuhan dolar meningkat, yang pada akhirnya menekan nilai tukar. Sebaliknya, bila negosiasi membuahkan kesepakatan, sentimen pasar bisa membaik dan rupiah berpeluang menguat. Iran dilaporkan mengajukan syarat berupa penghentian agresi di Lebanon dan Palestina serta pencairan asetnya yang dibekukan, namun belum ada titik temu.
Di sisi lain, IHSG justru menunjukkan tenaga. Indeks dibuka naik 14,38 poin atau 0,23 persen, melanjutkan lonjakan signifikan hari sebelumnya ketika ditutup melesat 1,69 persen ke 6.373,85. Aksi bargain hunting menjadi motor utama: investor memanfaatkan harga saham yang terkoreksi dalam untuk berburu keuntungan. Indeks LQ45 pun ikut menguat 0,23 persen ke 635,28, menandakan minat beli menyasar saham-saham berkapitalisasi besar.
Senior Technical Analyst Mirae Asset Sekuritas Indonesia, Nafan Aji Gusta, menilai ada faktor lain yang menopang sentimen: tinjauan indeks MSCI Agustus 2026. Pasar berspekulasi bahwa status pembekuan (freeze) sejumlah emiten Indonesia akan dicabut, yang berpotensi menarik minat investor asing. "Bisa jadi terdapat ekspektasi positif terhadap pencabutan status pembekuan beberapa emiten," ujarnya, dikutip dari Antara. Meski belum tentu langsung mendatangkan dana besar, sentimen ini cukup untuk menggerakkan keputusan investor sebelum pengumuman resmi.
Katalis lain yang turut diperhatikan adalah pencalonan Destry Damayanti sebagai calon tunggal Gubernur Bank Indonesia. Kepastian pemimpin bank sentral dinilai penting bagi investor institusi karena memberikan sinyal arah kebijakan moneter, terutama dalam menjaga stabilitas rupiah dan inflasi. Jika proses ini berjalan mulus, kepercayaan pasar terhadap konsistensi kebijakan ekonomi bisa meningkat.
Ke depan, pergerakan rupiah dan IHSG akan sangat ditentukan oleh dua variabel: hasil negosiasi AS-Iran yang berdampak pada harga minyak, serta keputusan MSCI yang bisa mengubah aliran dana asing. Pertanyaannya, akankah optimisme pasar bertahan jika ketegangan geopolitik kembali memanas? Atau justru pengumuman MSCI akan menjadi pemicu reli berikutnya? Pelaku pasar tampaknya akan mencermati setiap perkembangan dengan saksama.


