Piala Dunia U-20 Wanita Tetap Jalan: Kanada Ikut Meski FIFA Dilanda Konflik
Baca dalam 60 detik
- Kanada memastikan keikutsertaan di Piala Dunia U-20 Wanita Polandia, mengikuti jejak Prancis dan Selandia Baru di tengah krisis tata kelola FIFA.
- Konflik dipicu rencana Presiden FIFA Gianni Infantino menjual 20% hak komersial Piala Dunia senilai Rp67 triliun yang akhirnya dibatalkan.
- UEFA tetap mengancam boikot, namun turnamen 24 negara di Polandia diyakini tetap berlangsung dengan dukungan federasi-federasi besar.

Kanada secara resmi menyatakan tetap akan berlaga di Piala Dunia U-20 Wanita yang digelar di Polandia bulan depan, menjadi federasi terbaru yang memilih bertanding di tengah kekisruhan tata kelola sepak bola dunia yang kian memanas. Keputusan ini diumumkan langsung oleh Canada Soccer melalui pernyataan resmi kepada Reuters, menegaskan bahwa tidak ada perubahan rencana dari pihak mereka. Langkah Kanada ini sekaligus memperkuat sinyal bahwa turnamen usia muda tetap akan berjalan meski bayang-bayang boikot dari UEFA masih menggantung.
Seperti diketahui, konflik besar yang melanda FIFA berakar dari rencana Presiden Gianni Infantino untuk menjual 20 persen hak komersial Piala Dunia kepada investor swasta demi menggalang dana sekitar 4,2 miliar dolar AS atau setara Rp67 triliun. Rencana itu sempat memicu kemarahan federasi-federasi Eropa, yang kemudian memilih untuk memboikot seluruh ajang FIFA. Namun, setelah mendapat tentangan keras, Infantino akhirnya membatalkan rencana tersebut, tetapi luka politik yang ditimbulkannya tampaknya belum sembuh. UEFA, melalui 55 asosiasi anggotanya, tetap bersikukuh pada sikap boikot dan menuntut perubahan kepemimpinan di tubuh FIFA.
Di tengah situasi yang tidak menentu ini, Polandia sebagai tuan rumah justru optimistis. Federasi Sepak Bola Polandia (PZPN) menyatakan bahwa persiapan turnamen sudah berada di tahap akhir dan mereka belum menerima informasi resmi mengenai pengunduran diri tim mana pun. PZPN percaya bahwa masalah yang ada akan segera teratasi dan mereka berkomitmen penuh untuk menyelenggarakan ajang yang layak bagi para pemain muda. Bagi banyak pesepak bola muda, turnamen ini adalah tonggak penting dalam karier mereka, dan PZPN ingin memastikan bahwa mereka mendapatkan panggung terbaik.
Selain Kanada, Prancis dan Selandia Baru juga telah menyatakan akan ambil bagian. Amerika Serikat pun diprediksi ikut serta dalam turnamen 24 negara tersebut, meski U.S. Soccer belum memberikan komentar resmi. Keikutsertaan negara-negara besar ini menjadi angin segar bagi kelangsungan turnamen, sekaligus menunjukkan bahwa solidaritas terhadap UEFA tidak serta-merta diikuti oleh semua federasi. Di sisi lain, UEFA pekan lalu kembali menegaskan ancaman boikot mereka, dengan alasan bahwa kondisi yang mereka minta belum dipenuhi dan kepercayaan terhadap kepemimpinan Infantino telah hilang.
Menariknya, sepak bola wanita menjadi sektor yang paling awal merasakan dampak dari konflik ini. Piala Dunia U-17 Wanita yang dijadwalkan berlangsung di Maroko pada Oktober mendatang juga berada dalam sorotan, sementara tim-tim Eropa seperti Inggris yang merupakan juara bertahan Eropa harus bersiap menghadapi babak kualifikasi Piala Dunia Wanita 2027 di Brasil. Ketidakpastian ini tentu menjadi kekhawatiran tersendiri bagi para pemain muda yang kariernya bergantung pada ajang-ajang tersebut.
Bagi Indonesia, konflik ini menjadi pelajaran penting tentang tata kelola sepak bola yang transparan dan akuntabel. Ketika FIFA dan UEFA berseteru, yang paling dirugikan adalah para pemain muda yang tidak bersalah. Indonesia, yang tengah giat membangun sepak bola nasional, harus memastikan bahwa kepentingan pembinaan usia muda tidak menjadi korban politik. Pertanyaan besarnya, akankah konflik ini menjadi momentum bagi reformasi sepak bola dunia, atau justru memperdalam jurang antara Eropa dan institusi FIFA? Hanya waktu yang bisa menjawab, tetapi satu hal yang pasti: panggung Piala Dunia U-20 Wanita akan tetap menjadi saksi bisu bagaimana sepak bola bisa bersatu dalam perbedaan.



