Ronaldo Ucapkan Duka untuk Messi: Persaingan Seabad Berakhir dengan Empati
Baca dalam 60 detik
- Cristiano Ronaldo meninggalkan pesan dukungan untuk Lionel Messi di tengah duka kepergian Jorge Messi, sang ayah, yang wafat pada usia 68 tahun.
- Momen ini mengakhiri rivalitas sengit keduanya yang telah mewarnai sepak bola dunia selama lebih dari satu dekade, menunjukkan sisi kemanusiaan di luar lapangan.
- Kepergian Jorge Messi menyisakan duka mendalam, terutama karena sang ayah adalah sosok kunci di balik karier gemilang Messi hingga ke Piala Dunia 2026.

Lionel Messi tengah berduka. Sang ayah, Jorge Messi, meninggal dunia pada Jumat (7/8) waktu setempat di sebuah klinik di Rosario, Argentina, dalam usia 68 tahun. Di tengah duka yang mendalam, rival abadinya, Cristiano Ronaldo, justru hadir memberikan dukungan moral melalui kolom komentar di akun Instagram Messi. "Pelukan erat untukmu dan orang-orang yang kamu cintai dalam masa sulit ini, Leo. Tetap kuat," tulis Ronaldo, sebuah gestur yang langsung menjadi sorotan publik.
Momen ini terasa simbolis. Selama lebih dari satu dekade, Ronaldo dan Messi dianggap sebagai dua kutub rivalitas terbesar dalam sejarah sepak bola. Mereka saling berkejaran meraih gelar dan penghargaan individu, memecahkan rekor demi rekor, dan membelah opini penggemar di seluruh dunia. Namun, di luar persaingan sengit itu, Ronaldo memilih menunjukkan empati di saat lawan bicaranya sedang kehilangan orang terkasih. Tindakan ini menggarisbawahi bahwa di balik rivalitas profesional, ada ruang untuk solidaritas antarsesama atlet.
Bagi Messi, kepergian Jorge bukan sekadar kehilangan seorang ayah. Jorge adalah arsitek di balik layar yang mengantarkan putranya dari lapangan-lapangan kecil di Rosario menuju panggung terbesar sepak bola dunia. Selama bertahun-tahun, Jorge juga bertindak sebagai agen Messi, mengelola kariernya dengan cermat. Pesan perpisahan Messi di media sosial mengungkap kedalaman hubungan mereka. Messi mengenang bagaimana sang ayah terus mendorongnya untuk tampil di Piala Dunia 2026, bahkan ketika kondisi kesehatannya sudah memburuk beberapa hari sebelum turnamen dimulai.
"Ayah, kamu terus memintaku untuk bermain di satu Piala Dunia terakhir... hanya beberapa hari sebelum turnamen dimulai, kondisimu memburuk," tulis Messi. Ia juga mengungkapkan harapannya agar sang ayah bisa pulih dan menyaksikan perjuangannya bersama Argentina. "Aku terus mengatakan kepadamu bahwa kami akan mencapai final Piala Dunia agar kamu bisa datang. Itu kembali menjadi misiku," ujarnya. Namun, harapan itu pupus. Argentina memang melaju hingga final, tetapi gagal membawa pulang trofi. Messi pun mengakui bahwa ia tidak pernah berada dalam kondisi fisik terbaik sepanjang turnamen, sebuah pengakuan yang menambah lapisan kesedihan pada kisah ini.
Bagi penggemar sepak bola di Indonesia, kisah ini memiliki resonansi tersendiri. Rivalitas Messi-Ronaldo telah menjadi bagian dari narasi besar yang diikuti jutaan penggemar di tanah air. Momen duka ini mengingatkan bahwa di balik gemerlap karier para bintang, ada sisi manusiawi yang sering terlupakan. Di era media sosial yang serba cepat, gestur Ronaldo menjadi pelajaran tentang sportivitas dan rasa hormat yang melampaui batas persaingan.
Kepergian Jorge Messi juga menyoroti peran penting orang tua dalam membentuk karier seorang atlet. Di Indonesia, banyak orang tua yang berperan serupa dalam mendukung anak-anaknya mengejar mimpi di dunia olahraga, meski tidak selalu mendapat sorotan publik. Kisah Jorge dan Messi bisa menjadi inspirasi bahwa dukungan keluarga adalah fondasi yang tak ternilai.
Kini, setelah Piala Dunia 2026 usai, Messi harus melanjutkan hidup tanpa sosok yang selalu ada di belakangnya. Pertanyaan besarnya adalah bagaimana Messi akan menghadapi musim-musim berikutnya tanpa dukungan langsung dari sang ayah. Namun, satu hal yang pasti: warisan Jorge Messi akan terus hidup dalam setiap langkah karier putranya.



