Bintang Muda Everton Martin Sherif Terjerat 61 Tuduhan Taruhan: Karier di Ujung Tanduk
Baca dalam 60 detik
- FA mendakwa pemain depan Everton, Martin Sherif, atas 61 pelanggaran aturan taruhan antara November 2024 dan Februari 2026.
- Jika terbukti, Sherif menghadapi sanksi mulai dari peringatan hingga larangan bermain, dengan preseden hukuman bervariasi di Liga Inggris.
- Kasus ini menjadi ujian bagi Everton dan Sherif di tengah persaingan ketat menembus tim utama, serta menyoroti ketatnya regulasi judi FA.

Martin Sherif, penyerang muda Everton yang tengah berjuang menembus tim utama, kini harus menghadapi badai baru di luar lapangan. Federasi Sepak Bola Inggris (FA) resmi menjatuhkan dakwaan atas 61 dugaan pelanggaran aturan taruhan yang dilakukan pemain berusia 20 tahun itu. Dakwaan ini berpotensi menggagalkan seluruh rencana kariernya yang tengah menanjak.
Sherif, yang bergabung dengan akademi Everton sejak usia 13 tahun dari Almere City, sempat menjalani masa peminjaman di Rotherham United dan Port Vale pada musim lalu. Pengalaman di League One itu menjadi ajang pembuktian bagi pelatih David Moyes untuk menilai kesiapannya. Namun, alih-alih fokus pada persaingan memperebutkan tempat di skuad senior, perhatian kini justru tertuju pada proses disipliner yang membayangi masa depannya.
FA menyatakan bahwa Sherif diduga memasang 61 taruhan pada pertandingan sepak bola dalam rentang 20 November 2024 hingga 12 Februari 2026. Meski demikian, pengumuman resmi tidak merinci pertandingan atau jenis pasar taruhan yang dimaksud. Yang lebih penting, FA tidak menuduh Sherif berusaha memengaruhi jalannya pertandingan, sehingga kasus ini murni berkaitan dengan pelanggaran regulasi taruhan, bukan pengaturan skor.
Aturan FA memang melarang seluruh pemain dan ofisial klub dari level Premier League hingga National League untuk bertaruh pada pertandingan sepak bola di mana pun di dunia. Larangan ini juga mencakup pasar taruhan terkait transfer, penunjukan manajer, dan susunan pemain. Bahkan, memberikan informasi orang dalam kepada pihak lain untuk kepentingan taruhan juga dilarang keras. Everton sendiri tidak ikut didakwa, dan klub diminta membiarkan proses hukum berjalan.
Sherif memiliki waktu hingga Senin, 17 Agustus untuk memberikan tanggapan resmi atas dakwaan tersebut. Jika terbukti bersalah atau mengakui pelanggaran, komisi independen akan menentukan sanksi yang dapat berupa peringatan, denda, atau larangan bermain. Besaran hukuman sangat bervariasi, tergantung pada jumlah dan sifat pelanggaran. Sebagai gambaran, mantan pemain West Ham, Lucas Paquetรก, baru saja dibebaskan dari tuduhan pengaturan skor, tetapi kasus taruhan lain sering berujung pada larangan bermain berbulan-bulan.
Kasus ini menjadi pengingat betapa ketatnya aturan taruhan di sepak bola Inggris. Bagi Sherif, yang baru saja merasakan atmosfer sepak bola senior, dakwaan ini datang di saat yang paling tidak tepat. Setiap sesi latihan dan penampilan bersama tim utama sangat berarti untuk menunjukkan perkembangan kariernya. Kini, ketidakpastian hukum justru menghantui langkahnya.
Di Indonesia, kasus ini relevan dengan maraknya pengawasan terhadap praktik judi bola di kalangan pesepak bola. Regulasi yang ketat seperti di Inggris bisa menjadi pelajaran bagi otoritas sepak bola nasional untuk menegakkan integritas kompetisi. Apakah Sherif mampu membersihkan namanya dan kembali fokus pada karier, atau justru kasus ini menjadi akhir dari perjalanannya di Everton? Semua akan terjawab setelah proses disipliner berjalan.



