Palace Gagal Bujuk Monaco: Tawaran Rp700 Miliar untuk Camara Ditolak
Baca dalam 60 detik
- Crystal Palace mengajukan tawaran verbal senilai lebih dari ยฃ35 juta untuk Lamine Camara, namun ditolak Monaco.
- Gelandang Senegal berusia 22 tahun itu menjadi incaran utama Palace di bursa transfer musim panas ini.
- Penolakan ini memaksa Palace mencari alternatif lain di lini tengah menjelang musim 2025/2026.

Crystal Palace harus menelan pil pahit setelah tawaran verbal mereka untuk merekrut gelandang Ligue 1, Lamine Camara, ditolak mentah-mentah oleh AS Monaco. Klub asal London Selatan itu dikabarkan siap menggelontorkan dana lebih dari ยฃ35 juta atau setara Rp700 miliar, sebuah angka yang nyaris memecahkan rekor transfer termahal dalam sejarah klub.
Camara, yang baru berusia 22 tahun, bukanlah nama sembarangan. Ia telah mengoleksi 49 caps bersama timnas Senegal dan tampil di Piala Dunia 2026 yang baru saja bergulir. Performanya bersama Monaco musim lalu, termasuk kemenangan atas Liverpool di Anfield, membuat namanya melambung di bursa transfer Eropa. Bagi Palace, merekrut pemain sekaliber Camara adalah langkah berani untuk bersaing di papan atas Premier League.
Penolakan ini menjadi pukulan telak bagi manajer anyar Palace, Pierre Sage, yang baru saja menggantikan Oliver Glasner. Sage, yang ditunjuk pada musim panas ini, tengah membangun skuad impiannya. Sejauh ini, ia sudah mendatangkan empat pemain baru: Evann Guessand (pinjaman dari Aston Villa), Dwight McNeil (tukar tambah dengan Brennan Johnson dari Everton), Takehiro Tomiyasu (gratis dari Arsenal), dan Oscar Mingueza (dari Celta Vigo). Namun, kegagalan mendapatkan Camara membuat lini tengah Palace masih belum lengkap.
Bagi pengamat sepak bola, penolakan Monaco bukanlah hal yang mengejutkan. Camara masih terikat kontrak hingga 2028 dan merupakan aset berharga bagi klub pangeran asal Monako itu. Selain itu, nilai tawaran Palace, meski besar, dinilai belum cukup untuk melepas pemain yang dibeli Monaco dari Metz seharga โฌ15 juta pada 2024. Keuntungan finansial yang didapat Monaco jika menjual Camara sekarang memang menggiurkan, tetapi secara sportif, kehilangan pemain sekaliber dia di tengah persiapan Liga Champions tentu berisiko.
Konteks Indonesia: Bagi penggemar sepak bola di Indonesia, kabar ini menarik karena menunjukkan betapa agresifnya klub-klub Premier League dalam memanfaatkan bursa transfer. Meski tidak ada pemain Indonesia yang terlibat, pergerakan transfer seperti ini kerap menjadi tolok ukur ambisi klub. Jika Palace akhirnya merekrut pemain pengganti dengan profil serupa, hal itu bisa memengaruhi persaingan di papan tengah Premier League, yang selalu dinantikan pecinta bola Tanah Air.
Di sisi lain, penolakan ini membuka peluang bagi klub lain, seperti Fulham atau West Ham, yang juga dikabarkan memantau situasi Camara. Palace sendiri masih punya waktu hingga penutupan bursa transfer untuk mencari alternatif. Nama-nama seperti Kiernan Dewsbury-Hall dari Chelsea atau bahkan pemain muda berbakat dari liga-liga Eropa lainnya bisa menjadi opsi.
Menjelang laga pembuka Premier League melawan Everton pada 22 Agustus, Palace masih punya pekerjaan rumah. Sage harus segera menemukan sosok yang bisa menjadi jenderal lini tengah. Pertanyaannya, akankah ia berani mengeluarkan dana lebih besar untuk pemain lain, atau justru memaksimalkan skuad yang ada? Kegagalan mendatangkan Camara bisa menjadi titik balik yang menentukan arah musim The Eagles.



