Kunjungan Putin ke Kepulauan Kuril Memicu Ketegangan Baru dengan Jepang
Baca dalam 60 detik
- Putin melakukan kunjungan pertamanya ke Kepulauan Kuril yang disengketakan sejak 2010, memicu protes keras dari Tokyo.
- Langkah ini dinilai sebagai upaya domestik untuk meningkatkan popularitas di tengah perang Ukraina dan pemilu mendatang.
- Ketegangan baru ini berpotensi menghambat dialog ekonomi dan diplomasi yang sempat membaik antara kedua negara.

Presiden Rusia Vladimir Putin akhirnya menginjakkan kaki di Kepulauan Kuril yang disengketakan, sebuah langkah yang langsung memicu kecaman dari pemerintah Jepang dan memperuncing hubungan bilateral yang sudah rapuh. Kunjungan pertamanya ke wilayah yang diklaim Tokyo ini bukan sekadar inspeksi rutin, melainkan sinyal politik yang jelas bahwa Moskow tidak akan menyerahkan satu inci pun wilayahnya kepada Jepang.
Putin tiba di Pulau Etorofu, salah satu dari empat pulau yang disebut Jepang sebagai Wilayah Utara, dan meninjau pabrik pengolahan ikan. Ini merupakan kunjungan pertama kepala negara Rusia ke kepulauan itu sejak Dmitry Medvedev mengunjungi Pulau Kunashiri pada 2010. Sebelumnya, Putin memang sengaja menghindari langkah provokatif ini, tetapi kini ia justru memilih untuk hadir di tengah ketegangan yang sedang memuncak.
Dalam pidatonya di Sakhalin Oblast sebelum menuju Etorofu, Putin menegaskan bahwa kepulauan tersebut menjadi wilayah Rusia sebagai hasil Perang Dunia II. Pernyataan ini jelas bertentangan dengan Deklarasi Bersama Jepang-Soviet 1956, yang secara eksplisit menyebutkan bahwa Pulau Shikotan dan gugusan Habomai akan diserahkan kepada Jepang setelah perjanjian damai ditandatangani. Dengan kunjungan ini, Putin seolah membuang jauh-jauh negosiasi yang telah dibangun selama puluhan tahun.
Perdana Menteri Jepang Sanae Takaichi langsung merespons dengan tegas. Ia menegaskan bahwa Wilayah Utara adalah bagian tak terpisahkan dari Jepang dan menyampaikan protes resmi. Takaichi bahkan menyebut kunjungan ini akan mempersulit pemulihan hubungan dalam jangka menengah-panjang. "Saya ingin Rusia menyadari betapa seriusnya masalah ini," ujarnya, seperti dikutip media setempat. Sikap keras Tokyo ini menunjukkan bahwa tidak ada ruang kompromi dalam isu kedaulatan wilayah.
Di balik kunjungan ini, terdapat tekanan domestik yang sedang dihadapi Putin. Perang di Ukraina yang memasuki tahun kelima telah membuat drone Ukraina semakin sering menghantam kota-kota besar Rusia. Dukungan publik terhadap partai berkuasa juga menurun menjelang pemilihan parlemen pada September. Kunjungan ke Kuril ini tampaknya dirancang untuk membangkitkan sentimen patriotisme dan mengalihkan perhatian dari masalah internal. Ini adalah manuver klasik yang sering digunakan pemimpin otoriter saat popularitasnya terancam.
Bagi Indonesia, dinamika ini memiliki relevansi tersendiri. Sebagai negara yang konsisten mendukung perdamaian dan resolusi konflik secara damai, Indonesia tentu mengamati dengan cermat bagaimana sengketa wilayah dapat memicu ketegangan global. Lebih jauh, Indonesia juga memiliki kepentingan dalam stabilitas kawasan Asia-Pasifik, dan konflik yang berkepanjangan antara Jepang dan Rusia dapat berdampak pada rantai pasokan dan keamanan maritim regional. Meski Indonesia tidak terlibat langsung, sikap tegas Jepang dalam mempertahankan kedaulatannya bisa menjadi pelajaran tentang pentingnya konsistensi dalam diplomasi.
Kunjungan Putin juga menjadi pukulan telak bagi upaya normalisasi hubungan yang sempat terjalin. Beberapa waktu terakhir, delegasi ekonomi Jepang-Rusia telah bertemu, dan para menteri luar negeri kedua negara sempat berdialog di sela-sela konferensi internasional. Putin juga mengkritik sanksi Jepang terhadap Rusia, menuduh Tokyo tidak memahami akar konflik di Ukraina. Ini menunjukkan bahwa kunjungan tersebut bukan hanya soal wilayah, tetapi juga tekanan politik agar Jepang melonggarkan sanksinya.
Ke depan, langkah Jepang akan menjadi sorotan. Apakah Tokyo akan semakin memperketat sanksi dan memperkuat dukungan untuk Ukraina, atau justru mencoba membuka kanal diplomasi baru? Satu hal yang pasti: kunjungan Putin telah menutup pintu untuk sementara waktu bagi dialog yang konstruktif. Jepang kini berada di persimpangan, harus memilih antara mempertahankan prinsip atau membuka ruang kompromi yang mungkin tidak akan pernah datang dari Moskow.


