BNPB Padamkan Empat Kebakaran Hutan dan Lahan di Empat Provinsi, Luas Terdampak 16 Hektare
Baca dalam 60 detik
- Empat kebakaran hutan dan lahan di Jawa Timur, Jawa Tengah, Jawa Barat, dan Sulawesi Selatan berhasil dipadamkan, dengan total area terbakar mencapai 16 hektare.
- BNPB mengingatkan potensi bencana hidrometeorologi kering, terutama karhutla, dan mendorong pencegahan dini oleh masyarakat.
- Satu titik panas di kawasan Gunung Bromo masih aktif, dengan upaya pemadaman terkonsentrasi, setelah kebakaran melalap sekitar 889 hektare.

Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) melaporkan keberhasilan memadamkan empat kebakaran hutan dan lahan yang melanda empat provinsi berbeda, dengan total luas lahan terbakar mencapai 16 hektare. Kejadian ini menjadi sinyal meningkatnya risiko karhutla di tengah musim kemarau yang melanda sejumlah wilayah Indonesia.
Pelaksana Tugas Kepala Pusat Data, Informasi dan Komunikasi Kebencanaan BNPB, Dodi Yuleova, mengungkapkan bahwa titik-titik api tersebar di Trenggalek (Jawa Timur), Sragen (Jawa Tengah), Cianjur (Jawa Barat), dan Sidenreng Rappang (Sulawesi Selatan). Kebakaran terbaru dilaporkan terjadi di Gunung Jabung, Trenggalek, pada Selasa (11/8), menghanguskan satu hektare lahan yang ditumbuhi pohon sono dan semak belukar. Tim gabungan berhasil menjinakkan api sekitar pukul 20.15 WIB.
Sementara itu, kebakaran terluas terjadi di Sidenreng Rappang, Sulawesi Selatan, dengan area terbakar mencapai tujuh hektare. Di Sragen, Jawa Tengah, api melalap lima hektare lahan, dan di Cianjur, Jawa Barat, kebakaran yang dipicu sejak Senin (10/8) di kawasan perbukitan Gunung Picung menghanguskan tiga hektare padang rumput sebelum akhirnya berhasil dipadamkan pada Selasa.
Dodi menegaskan bahwa potensi bencana hidrometeorologi kering, khususnya karhutla, masih mengancam. Ia mengimbau masyarakat untuk meningkatkan kewaspadaan dan melakukan upaya pencegahan dini secara kolektif. "Karhutla tidak hanya merusak lingkungan, tetapi juga berdampak pada kualitas udara, kesehatan masyarakat, aktivitas ekonomi, dan kehidupan sosial di wilayah terdampak," ujarnya dalam keterangan resmi.
Di sisi lain, satu dari 34 titik panas yang sebelumnya teridentifikasi di kawasan Gunung Bromo masih aktif di Dingklik, Kabupaten Pasuruan, hingga Rabu (12/8). Upaya pemadaman difokuskan pada titik tersebut. Kebakaran di kawasan tersebut diperkirakan telah melalap 889 hektare lahan hingga Selasa.
Fenomena karhutla tahun ini menjadi perhatian serius karena terjadi lebih awal dibanding pola musiman. Para ahli memperkirakan puncak musim kemarau akan berlangsung hingga September, sehingga potensi kebakaran masih terbuka lebar. Masyarakat di daerah rawan, terutama yang berada di dekat kawasan hutan atau lahan gambut, diminta untuk tidak membuka lahan dengan cara membakar. Pelanggaran terhadap larangan ini dapat berujung pada sanksi pidana, sebagaimana diatur dalam Undang-Undang Perlindungan dan Pengelolaan Lingkungan Hidup.
Kejadian di Gunung Bromo juga menyoroti kerentanan kawasan wisata dan konservasi. Kebakaran yang melanda kawasan tersebut tidak hanya mengancam ekosistem, tetapi juga berpotensi mengganggu sektor pariwisata yang menjadi sumber pendapatan masyarakat setempat. Pertanyaan yang mengemuka adalah apakah upaya pencegahan yang ada saat ini sudah cukup efektif untuk mengantisipasi meluasnya kebakaran di musim kemarau yang masih berlangsung.



